Sep 13, 2018 09:14 Asia/Jakarta

Beliau pada acara tersebut menyinggung politik keji kaum imperialis untuk menciptakan ketidakamanan dan instabilitas di kawasan dan menekankan bahwa Republik Islam dan bangsa Iran, dengan melawan Amerika Serikat telah membuktikan bahwa jika sebuah bangsa tidak gentar di hadapan kegeraman pihak sewenang-wenang, serta mengandalkan kepercayaan diri dan kemampuannya, mereka akan mampu memukul mundur dan mengalahkan kaum adidaya.

Beliau menyebut bangsa Iran sebagai pengibar panji kebebasan dan keadilan di dunia dan menambahkan, "Pasukan bersenjata yang menjaga bangsa dan negara seperti ini harus merasakan kebanggaan besar di seluruh wujudnya dan melanjutkannya dengan tekad agama dan nasional yang mendalam."

Salah satu capaian Revolusi Islam Iran adalah perlawanan dan muqawama (resistensi) rakyat Iran di hadapan berbagai langkah, sanksi dan ancaman terhadap Republik Islam Iran. Masing-masing langkah, sanksi dan ancaman Amerika Serikat terhadap Republik Islam, sejatinya lebih dari cukup untuk menggulingkan setiap rezim di dunia. Contohnya dapat disaksikan di banyak negara di mana sebuah pemerintah dan bangsa digulingkan melalui makar Amerika Serikat. Di Iran, hal itu juga dapat dapat disaksikan sebelum kemenangan Revolusi Islam.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei

25 tahun lalu, sebelum kemenangan Revolusi Islam, bangsa Iran berhasil menasionalisasi industri minyak dan mengakhiri penjarahan yang dilakukan oleh pihak Inggris. Pada masa itu, esensi penjajahan dan kolonialisme Amerika Serikat masih belum terlihat nyata oleh banyak pihak.

Pemerintahan Doktor Mohammad Mosaddeq, perdana menteri Iran kala itu mempercayai Amerika Serikat dan hasil dari kepercayaan itu adalah kerjasama Amerika Serikat dan Ingris dalam berkompromi dengan anasir mereka dalam tubuh militer untuk menggulingkan pemerintahan Mosaddeq melalui kudeta tahun 1953, demi mengembalikan Shah Iran yang telah terusir.

Selama 25 tahun Iran merupakan sekutu Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Lebih dari 40 ribu pesehat AS hadir di seluruh persendian politik, militer dan ekonomi Iran. Dan di bawah dukungan luas Amerika Serikat, Mohammad Reza Shah Pahlevi membentuk sebuah pemerintahan despotik yang akan membungkam segala bentuk penentangan.

Imam Khomeini, pemimpin Revolusi Islam pada awal gerakannya hingga kemenangan revolusi selalu memandang Amerika Serikat dan rezim Zionis sebagai faktor di balik seluruh penderitaan rakyat Iran dan Shah sebagai boneka pelaksana politik AS dan Inggris. Pasca penggulingan rezim monarki berusia 2500 tahun di Iran dan kemenangan Revolusi Islam, politik Amerika Serikat menderita pukulan telak di Timur Tengah.

Amerika Serikat praktis kehilangan pangkalan dan sekutu terbaiknya di Timur Tengah. Sejak awal kemenangan Revolusi Islam, Amerika Serikat tidak menyia-nyiakan segala langkah dan makar untuk menggulingkan Republik Islam yang baru berusia seumur jagung. Mendukung berbagai kelompok dan gerakan anti-Revolusi Islam dan disintegrasi  untuk menggulirkan perang dalam negeri, upaya untuk kudeta melalui antek-antek di dalam negeri, provokasi rezim Saddam untuk menyerang Iran, perang yang dipaksakan selama delapan tahun hingga sanksi, semuanya merupakan upaya Amerika Serikat  demi menggulingkan Republik Islam.

Akan tetapi bangsa Iran tegar dan bertahan di hadapan seluruh upaya Amerika Serikat dan kini Republik Islam berubah menjadi teladan bagi seluruh bangsa di kawasan dan dunia.

Setelah 40 tahun berlalu sejak kemenangan Revolusi Islam, hingga kini pemerintah Amerika Serikat berharap dapat menggulingkan pemerintahan Republik Islam dengan menggunakan berbagai sarana sanksi dan ancaman militer. Poin pentingnya adalah, upaya Amerika Serikat menamakan aksinya itu demi menyelamatkan rakyat Iran dan mendukung bangsa Iran. Apakah ada di dunia ini sebuah pemerintahan yang dapat bertahan di hadapan volume tingkat tinggi makar Amerika Serikat tanpa dukungan luas rakyatnya?

Republik Islam Iran saat ini telah menjadi kekuatan besar di kawasan dan di hadapan politik sewenang-wenang Amerika Serikat dan menjadi teladan dalam pemberantasan radikalisme dan terorisme di kawasan. Ini yang menjadi kekhawatiran Amerika Serikat dan rezim Zionis karena keduanya telah sejak lama mengincar penggulingan Republik Islam Iran.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei

Ayatullah Khamenei dalam pidatonya pada acara wisuda para taruna akademi militer Universitas Ilmu Kelautan Republik Islam Iran, menyinggung  banyaknya masyarakat di berbagai negara dunia yang mencintai keadilan akan tetapi tidak memiliki sarana untuk mencapainya serta terbebas dari kaum imperialis, seraya mengatakan, "Di dunia seperti ini, Republik Islam dan bangsa Iran dengan bahasa tegas dan tanpa ada yang disembunyikan, menunjukkan perlawanan di hadapan kezaliman dan imperialisme, dan bahwa masalah ini merupakan faktor utama permusuhan kaum zalim global terhadap bangsa besar Iran."

Beliau menyinggung kebijakan jahat kekuatan arogan untuk menciptakan ketidakamanan dan instabilitas di kawasan. Rahbar mengatakan, "Kekuatan arogan yang dipimpin oleh AS yang zalim melihat kepentingannya berada pada terjadinya perang saudara, eskalasi dan perluasan kekejian aktivitas terorisme dan konflik di kawasan. Patut disesalkan sebagian negara di kawasan justru membantu mereka."

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran (Rahbar) itu lebih lanjut menyebut tujuan AS dan rezim Zionis adalah mencegah munculnya satu kekuatan Islam di kawasan. Menurut beliau, "Mereka tahu bahwa pesan menarik Islam adalah membela orang-orang lemah dan tertindas. Oleh karenanya mereka takut atas terbentuknya kekuatan berdasarkan Islam."

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran itu menyebut perlawanan kuat Republik Islam dalam menghadapi kekuatan arogan menyebabkan banyak tujuan global dan zalim mereka yang gagal di kawasan. Dikatakan beliau bahwa para analis politik dan cendekiawan dunia kagum bagaimana Iran dengan bersandar pada Allah Swt dan kekuatan nasional mampu menggagalkan kekuatan global di kawasan. Mereka mengakui kenyataan yang terjadi."

Ayatullah Khamenei mengingatkan, Republik Islam menjadi sasaran gelombang merusak AS dan kaki tangannya selama 40 tahun, tapi sampai sekarang tunas yang kecil itu telah menjadi pohon yang kokoh dan banyak buahnya. Kubu arogan telah banyak melakukan tindakan, tapi hati bangsa-bangsa tetap tertarik dengan pesan revolusi yang pada gilirannya menyeret konspirasi Amerika Serikat di kawasan pada kekalahan.

Pemimpin Tertinggi Seluruh Jajaran Angkatan Bersenjata Iran menyebut Suriah, Irak dan Lebanon sebagai contoh kekalahan konspirasi Amerika di kawasan. "Semua ini merupakan tanda-tanda akan kekuasaan Allah Swt dan benarnya janji ilahi, dimana disebutkan bahwa bila kalian membantu Allah Swt, niscaya Allah Swt akan memenangkan kalian dan membuat langkah kalian tegar," pungkas Rahbar.

Bangsa Iran telah bertahan dan tegar di hadapan seluruh makar dan propaganda Amerika Serikat selama 40 tahun terakhir. Sementara dengan berlanjutnya pengaruh Iran di kawasan, biaya yang harus dikeluarkan Amerika Serikat khususnya untuk mempertahankan hegemoninya di kawasan Timur Tengah, melambung tinggi. Oleh karena itu, Amerika Serikat tidak mungkin mengesampingkan permusuhannya terhadap Republik Islam.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei

Kemenangan Revolusi Islam terwujud tanpa mengandalkan pada kekuatan dua kubu adidaya Barat dan Timur. Ini merupakan salah satu kriteria terunggul Revolusi Islam dibandingkan dengan berbagai revolusi yang terjadi pada abad ke-20. Pasca kemenangan Revolusi Islam, Iran juga mampu mempertahankan independensinya dan tidak pernah menunjukkan kecenderungan pada salah satu di antara kekuatan Barat atau Timur. Selama itu pula, Iran tidak berusaha mengggalang dukungan dari Uni Soviet untuk melawan ancaman dan berbagai langkah Amerika Serikat terhadap Republik Islam.

Rezim Saddam berada di blok Timur akan tetapi dalam agresinya ke Iran, mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat dan bahkan sekutunya. Perang yang dipaksakan selama delapan tahun, sejatinya bukan hanya perang antara Iran dan Irak, melainkan perang  antara Iran dan Irak yang didukung oleh semua pihak adidaya.

Saat ini Iran telah menjadi sebuah fenomena di dunia moderen di bidang resistensi di hadapan ketamakan dan permusuhan Amerika Serikat. Perlawanan tersebut yang membuat sekutu Amerika Serikat di Eropa menyadari bahwa Republik Islam Iran merupakan sebuah fenomena yang tidak dapat diingkari, serta mereka menolak  berlanjutnya sanksi Amerika Serikat terhadap Iran.