Lintasan Sejarah 21 November 2018
-
21 November 2018
Hari ini, Rabu 21 November 2018 bertepatan dengan 13 Rabiul Awal 1440 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 30 Aban 1397 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di masa lampau.
Dimulainya Kekuasaan 500 Tahun Bani Abbasiah
1308 tahun yang lalu, tanggal 13 Rabiul Awal 132 HQ, dimulainya kekuasaan 500 tahun Bani Abbasiah.
Pasca pembantaian yang terjadi demi meraih kekuasaan, masyarakat Islam pada 13 Rabiul Awal 132 HQ, membaiat Abu al-Abbas Abdillah bin Muhammad bin Ali bin Abdillah bin Abbas bin Abdil Mutthalib yang lebih dikenal dengan as-Saffah. Dengan demikian, secara resmi (menurut satu riwayat sejarah) dimulailah masa kekuasaan panjang Bani Abbasiah.
Abu al-Abbas as-Saffah, Khalifah Pertama Bani Abbasiah berkuasa hingga 136 HQ. Selama empat tahun berkuasa, ia banyak melakukan pembunuhan dan pembantaian terhadap keturunan Bani Umayah dan juga pecinta Ahli Bait. Itulah mengapa ia diberi julukan Saffah, sebagai orang yang banyak menumpahkan darah. Ia pribadi yang dikenal sangat pendendam. Ia membantai seluruh keturunan Bani Umayah. Ada yang digantung dan ada yang dibakar.
As-Saffah merupakan orang pertama yang menggagas sistem kementerian dalam Islam. Karena sebelum ini, pada Bani Umayah, mereka memilih sejumlah orang untuk berkonsultasi. Akhirnya ia meninggal pada 136 Hq dalam usia 32 tahun.
Voltaire Lahir
324 tahun yang lalu, tanggal 21 November 1694, Francois-Marie Arouet, yang terkenal dengan nama Voltaire, seorang penulis dan filsuf Perancis terkenal, terlahir ke dunia.
Voltaire awalnya menuntut ilmu di bidang hukum lalu bekerja sebagai sekretaris duta besar Perancis di Belanda. Kemudian, ia mengkonsentrasikan diri sepenuhnya di bidang penulisan dan banyak menulis karya yang mengecam pemerintah Perancis. Akibatnya, dia berkali-kali dipenjarakan dan dibuang ke luar negeri.
Pada tahun 1717 hingga 1718, Francois-Marie Arouet ditahan di penjara Bastille. Di dalam penjara itulah, ia menulis naskah tragedi pertamanya yang berjudul Edipe dan untuk pertama kalinya menggunakan nama Voltaire. Pada tahun 1726, Voltaire dibuang ke Inggris dan di sana ia tetap menulis karya-karya yang laku keras di kalangan masyarakat.
Di antara karya-karya Voltaire adalah buku berjudul "Philosophical Letter" yang berisi perbandingan sistem pemerintahan Perancis dengan sistem di Inggris. Buku ini dilarang beredar di Perancis, namun laku keras di Inggris. Karya lainnya berjudul "Dictionnaire Philosphique" dan "Julius Caesar". Dia meninggal dunia tahun 1778.
Abdol Hossein Farmanfarma, Politikus Qajar Meninggal Dunia
79 tahun yang lalu, tanggal 30 Aban 1318 HS, Abdol Hossein Farmanfarma meninggal dunia dalam usia 86 dan dikuburkan di kota Rey.
Abdol Hossein Farmanfarma yang dikenal dengan Nosrat al-Dowleh merupakan keponakan Mohammad Shah Qajar dan sepupu Naseer ad-Din Shah. Ia dilahirkan sekitar tahun 1232 HS di Tehran. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Dar al-Fonoun, ia kemudian diangkat menjadi pegawai kerajaan. Dengan cepat ia mendapat posisi penting, sehingga ketika Naseer ad-Din Shah melawat Eropa, ia menjadi Komandan Pasukan Pengaman Raja. Setelah kembali dari Eropa ia diangkat menjadi Gubernur Kerman dan Baluchestan dengan julukan Farman Farma.
Abdol Hossein banyak diberi posisi penting di pemerintah, hingga sempat menjadi perdana menteri. Namun pasca kudeta tahun 1299 HS, ia mulai ditekan oleh kerajaan dan sejak Sayid Ziya ad-Din Thabathabai berkuasa selama tiga bulan, Abdol Hossein menghabiskan umurnya di penjara. Ia bisa menghirup udara bebas setelah lengsernya Sayid Ziya ad-Din Thabathabai. Sejak dibebaskan ia tidak diberi pos apapun dan hanya diperbolehkan mengikuti acara-acara resmi kerajaan. Sekalipun dekat dengan Reza Khan, ia tidak diberi satu jabatan pentingpun
Semasa hidupnya, Farmanfarma diangkat sebagai gubernur selama sepuluh kali, sembilan kali menjadi menteri dan menjabat perdana menteri sebanyak dua kali. Abdol Hossein pribadi yang banyak kerja, tapi sangat menindas. Dalam pekerjaannya ia banyak menerapkan cara-cara licik, bahkan ia tidak segan-segan menjilat orang di atasnya. Sementara di bidang politik, Farmanfarma berkeyakinan Iran harus bekerjasama dengan Inggris.
Kehidupan Farmanfarma bak sebuah kementerian kecil. Ia memiliki banyak rumah di Tehran dan di kota-kota Iran lainnya. Mereka yang bekerja dan dekat dengan dirinya yang mengelola seluruh hartanya. Di tahun-tahun terakhir dari umurnya, Abdol Hossein serius mengurusi kekayaannya. Dalam hal ini, Farmanfarma sangat memperhatikan perubahan yang terjadi. Pasca perubahan rezim despotik menjadi konstitusi dan setelah goyahnya kekuasaan Qajar dan berkuasanya Dinasti Pahlevi, ia dapat memainkan peran sedemikian rupa, sehingga tidak pernah menjadi korban perubahan yang ada.