Lintasan Sejarah 10 Desember 2018
-
10 Desember 2018
Lintasan Sejarah hari ini, Senin tanggal 10 Desember 2018 bertepatan dengan tanggal 2 Rabiul Tsani 1440 Hijriah Qamariah. Menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 19 Azar 1397 Hijriah Syamsiah. Berikut peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di tahun-tahun yang lampau:
Ibnu Mu’taz Tewas
1144 tahun yang lalu, tanggal 2 Rabiul Tsani 296 HQ, Ibnu Mu’taz, seorang penyair dan sastrawan Arab zaman Dinasti Abbasiah, dibunuh atas perintah dari penguasa saat itu.
Ibnu Mu’taz dilahirkan di Samara. Irak, pada tahun 247 Hijriah, dan merupakan putra dari Mu’taz , khalifah Dinasti Abbasiah ke-13. Ibnu Mu’taz adalah seorang pencinta sastra dan syair sehingga rumahnya menjadi tempat berkumpulnya para ilmuwan dan sastrawan.
Setelah kematian khalifah Muktafa, Ibnu Mu’taz diangkat menjadi khalifah, namun mendapatkan penentangan dari sekelompok orang sehingga akhirnya terguling. Setelah itu, Muqtadar Abbasi naik ke kursi kekhalifahan dan atas perintahnya pula, Ibnu Mu’taz dibunuh. Karya Ibnu Mu’taz berjudul, “Asy’aarul Muluk” dan “Kitaabul Badii’“.
Belanda Kembali Menguasai Sumatera
202 tahun yang lalu, tanggal 10 Desember 1816, Belanda kembali meraih kekuasaannya atas Sumatera, dan Indonesia pada umumnya.
Belanda menginjakkan kaki di wilayah Indonesia pada tahun 1651 dengan menginvasi Kupang di Timur Barat. Sebelum kedatangan Belanda, beberapa wilayah Indonesia Timur telah dikuasai oleh Portugis. Namun, hingga 200 tahun kemudian, batas jajahan antara dua kekuasaan imperialis itu masih belum jelas. Pada tahun tanggal 20 April 1859, Belanda dan Portugis menjalin perjanjian bahwa Belanda menguasai bagian barat pulau Timor dan Portugis menguasai bagian timurnya.
Selama era Perang Napoleon, Belanda jatuh ke tangan Perancis dan akibatnya, wilayah jajahan Belanda di Indonesia diambil oleh Inggris. Gubernur Jenderal Inggris di Indonesia dipegang oleh Sir Thomas Raffles.
Setelah jatuhnya Napoleon dan berakhirnya pendudukan Belanda oleh Perancis, Belanda dan Inggris menandatangani sebuah konvesi di London pada tahun 1814, yang berisi pengembalian wilayah kolonial Belanda yang didapatnya sejak tahun 1803. Dua tahun kemudian, Sumatera pun kembali jatuh ke tangan Belanda.
Selama waktu itu, rakyat Indonesia dengan gigih berjuang melawan penjajahan Belanda, namun selalu mengalami kegagalan, sampai akhirnya berhasil merdeka pada tahun 1945.
Pemilu Periode Pertama Dewan Ahli Kepemimpinan
36 tahun yang lalu, tanggal 19 Azar 1361 HS, dilaksanakan pemilu periode pertama Dewan Ahli Kepemimpinan
Pemilu periode pertama Dewan Ahli Kepemimpinan Iran (Majles-e Khebregan Rahbari) diselenggarakan berdasarkan Pasal 107 UUD Republik Islam Iran. Kewajiban utama dewan ini adalah menentukan Pemimpin Revolusi Islam.
Pemilu Dewan Ahli Kepemimpinan diselenggarakan saat Iran masih harus membela diri dalam perang 8 tahun yang dipaksakan Irak dan kekuatan-kekuatan hegemoni. Sekalipun demikian, pemilu ini tetap diikuti oleh 18 juta rakyat Iran yang memenuhi syarat pada tanggal 19 Azar 1361 HS (10 Desember 1982).
Dalam pemilu periode pertama ini, rakyat memilih 75 angota Dewan Ahli Kepemimpinan. Akhirnya, terbentuklah Dewan Ahli Kepemimpinan yang dipilih oleh rakyat dan peresmiannya ditandai oleh pesan Imam Khomeini ra pada bulan Tir 1362 HS.
Pasca wafatnya Imam Khomeini ra, Dewan Ahli Kepemimpinan memilih Ayatollah Sayid Ali Khamenei sebagai Pemimpin Revolusi Islam dan hingga saat ini beliau melakukan kewajibannya sebaik-baiknya.