Lintasan Sejarah 12 Januari 2019
-
12 Januari 2019
Hari ini, Sabtu 12 Januari 2019 bertepatan dengan 5 Jumadil Awal 1440 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 22 Dey 1397 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di masa lampau.
Sayidah Zainab Lahir
1435 tahun yang lalu, tanggal 5 Jumadil Awal 5 HQ, Sayidah Zainab, cucu Rasulullah Saw, putri Imam Ali as dan Fathimah az-Zahra as, terlahir ke dunia.
Putri Imam Ali as ini terkenal atas ketakwaan, ketinggian ilmu, kefasihan bahasa, dan keberaniannya dalam membela kebenaran.
Pada era pemerintahan Khalifah Yazid yang kejam dan despotik, saudara Sayidah Zainab, Imam Husein as menolak untuk berbaiat kepada khalifah zalim itu dan memilih melakukan perlawanan. Imam Husein beserta 72 anggota keluarga dan sahabatnya dikepung oleh ribuan orang pasukan Yazid di Padang Karbala.
Di antara anggota kafilah Imam Husein tersebut adalah Sayidah Zainab dan dua putra beliau yang kemudian gugur syahid untuk membela Imam Husein. Di Iran, hari kelahiran Sayidah Zainab juga diperingati sebagai "Hari Perawat" untuk mengenang jasa beliau yang menjadi perawat dan pelindung para korban tragedi Karbala.
Sultan Hasanudin Lahir di Makasar
388 tahun yang lalu, tanggal 12 Januari 1631 Sultan Hasanuddin lahir di Makasar, Sulawesi Selatan. Ia adalah Raja Gowa ke-16.
Terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Setelah memeluk agama Islam, ia mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, hanya saja lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja.
Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, Kompeni berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, tetapi belum berhasil menundukkan Gowa. Di lain pihak, setelah Sultan Hasanuddin naik takhta, ia berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan Kompeni.
Pertempuran terus berlangsung, Kompeni menambah kekuatan pasukannya hingga pada akhirnya Gowa terdesak dan semakin lemah sehingga pada tanggal 18 November 1667 bersedia mengadakan Perdamaian Bungaya di Bungaya. Karena keberaniannya, ia dijuluki De Haantjes van Het Oosten oleh Belanda yang artinya Ayam Jantan/Jago dari Benua Timur. Ia dimakamkan di Katangka, Makassar.
Mozaffaruddin Shah Perintah Bentuk Edalatkhaneh
113 tahun yang lalu, tanggal 22 Dey 1284 HS, Mozaffaruddin Shah memerintahkan dibentuknya Edalatkhaneh.
Ketegaran dan perjuangan rakyat Iran yang dipimpin ulama untuk meraih hak untuk menentukan nasib bangsa dan terbentuknya pemerintahan yang berdasarakan undang-undang akhirnya menuai keberhasilan. Akhirnya Mozaffaruddin Shah Qajar menerima tuntutan masyarakat.
Mereka yang melakukan aksi mogok di makam suci Abdolazim menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Shah Qajar termasuk dibentuknya Edalatkhaneh atau parlemen lewat Duta Besar Ottoman. Mozaffaruddin Shah yang menyaksikan kesungguhan masyarakat, dengan segera mengeluarkan perintah dibentuknya Edalatkhaneh pada 22 Dey 1284 HS.
Dengan demikian, usaha pertama rakyat Iran yang dipimpin ulama, khususnya Ayatullah Sayid Mohammad Thabathabai berhasil dipenuhi dengan dibentuknya Edalatkhaneh. Ini menjadi pendahuluan bagi tuntutan mereka adanya pemerintahan yang berdasarkan undang-undang.
Menyusul dikeluarkannya perintah ini, Ayatullah Sayid Abdullah Bahbahani dan Sayid Mohammad Thabathabai bersama ulama yang lain setelah sebulan melakukan aksi mogok memasuki kota Tehran dengan sambutan meriah.