Lintasan Sejarah 13 Januari 2019
-
13 Januari 2019
Hari ini, Ahad 13 Januari 2019 bertepatan dengan 6 Jumadil Awal 1440 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 23 Dey 1397 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di masa lampau.
Abu Said Muhammad Meninggal Dunia
1026 tahun yang lalu, tanggal 6 Jumadil Awal 414 HQ, Abu Said Muhammad bin Abdul Jalil Sistani matematikawan muslim terkenal meninggal dunia.
Abu Said Muhammad merupakan seorang pakar dalam bidang matematika, geometri dan perbintangan. Dalam setiap bidang ilmu yang ia ketahui, Sistani akan menuliskannya dalam buku dan mengajarkan pengetahuannya kepada orang lain.
Buku Jami' Shani yang berhubungan dengan matematika adalah salah satu karya ilmuan besar ini yang ditulis mengunakan nama samaran Ezdu-daulah Dailami.
Buku karya terkenalnya yang lain ialah Al Madkhal dalam bidang perbintangan, ad-Dalail fi Ahkam an-Nujum dan al-Ma'ani fil Ahkamin Fi an-Nujum.
Fuad Muhammad Syafruddin Lahir
56 tahun yang lalu, tanggal 13 Januari 1963, Fuad Muhammad Syafruddin dilahirkan di Bantul Yogyakarta.
Semula, bidang Jurnalistik bukanlah pilihannya. Yang menjadi guru Udin dalam bidang jurnalistik adalah kemauan dan pengalaman lapangan. Ia adalah wartawan Bernas menulis berita dengan berani dan jujur. Atas keberaniannya menyuarakan kondisi masyarakat Udin harus membayar dengan nyawanya.
Agustus 1997 setelah menulis berita ‘Proyek Jalan 2Km, hanya digarap 1,4Km”, ia bergegas pulang. Dalam malam yang hening ada tamu tak diundang entah apa yang terjadi istri Udin menemukan Udin telah tergeletak dilantai. Ia tak pernah siuman lagi namun namanya selalu dikenang dalam jurnalisme Indonesia.
Dewan Kerajaan Iran Dibentuk
50 tahun yang lalu, tanggal 23 Dey 1357 HS, Raja Iran, Shah Pahlevi, memerintahkan didirikannya Dewan Kerajaan untuk meredam gelombang demontsrasi di Iran.
Dewan Kerajaan ini bertugas untuk memindahkan kekuasaan dari Shah ke anaknya. Dengan cara itu, Shah berharap, perlawanan rakyat terhadap dirinya dapat berhenti. Namun, rakyat Iran menyadari taktik raja mereka yang despotik itu dan tetap menyuarakan dukungan mereka kepada Imam Khomeini.
Pada hari yang sama, Imam Khomeini yang saat itu tengah berada di pengasingannya di Paris, mengumumkan bahwa pemerintahan baru revolusioner akan segera dibentuk.
Menyusul pengumuman Imam Khomeini tersebut, ketua Dewan Kerajaan, Jalaluddin Tehrani berangkat ke Paris untuk menemui Imam Khomeini. Namun, Imam menyatakan hanya bersedia menerima Jalaluddin Tehrani dengan dua syarat, yaitu: Tehrani mundur dari Dewan Kerajaan dan mengeluarkan pernyataan bahwa Dewan tersebut ilegal. Tehrani menerima syarat dari Imam Khomeini dan dengan demikian bubarlah Dewan Kerajaan tersebut.