Jan 15, 2019 07:10 Asia/Jakarta
  • 15 Januari 2019
    15 Januari 2019

Hari ini, Selasa 15 Januari 2019 bertepatan dengan 8 Jumadil Awal 1440 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 25 Dey 1397 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di masa lampau.

Syeikh Muhammad Abduh Meninggal

117 tahun yang lalu, tanggal 8 Jumadil Awal 1323 HQ, Syeikh Muhammad Abduh, cendikiawan dan pejuang muslim terkemuka Mesir meninggal dunia.

Muhammad Abduh awalnya belajar di Universitas al-Azhar dan kemudian  menuntut ilmu dari Sayid Jamaluddin al-Afghani, ulama pejuang kemerdekaan Mesir.

Setelah Jamaluddin al-Afghani diasingkan oleh pemerintah, Muhammad Abduh menggantikannya dalam mengajar. Namun, seiring dengan meluasnya imperialisme Inggris di Mesir, Abduh juga diasingkan oleh pemerintah ke Suriah.

Setelah enam tahun mengajar di Suriah, Syekh Muhammad Abduh pergi ke Paris dan bergabung dengan Jamaluddin al-Afghani dalam menerbitkan surat kabar yang memperjuangkan kebebasan bertajuk "Urwatul Wutsqa".

Sebagaimana al-Afghani, Syeikh Muhammad Abduh giat menyuarakan persatuan kaum muslimin sedunia dan meyakini bahwa kaum muslim harus bersatu  melawan imperialisme Barat.

Syeikh Muhammad Abduh

Pertempuran Laut Aru

57 tahun yang lalu, tanggal 15 Januari 1962, terjadi pertempuran antara Indonesia dan Belanda di Laut Aru, Maluku yang dikenal dengannama Pertempuran Laut Aru.

Insiden ini terjadi sewaktu dua kapal jenis destroyer, pesawat jenis Neptune dan Frely milik Belanda menyerang RI Matjan Tutul (650), RI Matjan Kumbang (653) dan RI Harimau (654) milik Indonesia yang sedang berpatroli pada posisi 04,49° LS dan 135,02° BT. Komodor Yos Sudarso gugur pada pertempuran ini setelah menyerukan pesan terakhirnya yang terkenal, "Kobarkan semangat pertempuran".

Armada Indonesia di bawah pimpinan Yos Sudarso, yang saat itu berada di KRI Macan Tutul, berhasil melakukan manuver untuk mengalihkan perhatian musuh sehingga hanya memusatkan penyerangan ke KRI Macan Tutul. KRI Macan Tutul tenggelam beserta awaknya, tapi kedua kapal lainnya berhasil selamat.

Peta Indonesia

Ayatullah Mohammad Ali Haqqi Sarabi Wafat

20 tahun yang lalu, tanggal 25 Dey 1377 HS Ayatullah Mohammad Ali Haqqi meninggal dunia di usia 70 tahun di kota Qom dan dikebumikan di pekuburan Sheikan di kota ini.

Ayatullah Haj Sheikh Mohammad Ali Haqqi Sarabi lahir ke dunia dari keluarga ulama sekitar tahun 1307 HS di kota Sarab, Azerbaijan Timur. Beliau mempelajari mukaddimah ilmu-ilmu agama dan tingkat menengah di kota Tabriz dan Qom. Setelah itu beliau melanjutkan pendidikannya di kota Najaf. Di sana beliau belajar kepada guru-guru besar seperti Ayatullah Sayid Mahmoud Shahroudi, Sayid Muhsin al-Hakim dan Sayid Abu al-Qasim al-Khu’i.

Ayatullah Haqqi setelah itu kembali ke kota Sarab dan beberapa waktu tinggal di sana, beliau pergi ke Qom dan ikut belajar fiqih dan ushul fiqih untuk tingkat mujtahid dari Ayatullah Boroujerdi dan Imam Khomeini ra. Padahal, beliau telah mendapat ijazah ijtihad dari Ayatullah Muhsin al-Hakim, Sayid Mahmoud Shahroudi, Sayid Abu al-Qasim al-Khu’i dan Sayid Mohammad Hojjat Kouh Kamareh-i. Di Qom, beliau mengajar dan sibuk menulis dan setelah itu lebih fokus di salah satu masjid terkenal Tehran.

Di dekat masjid Jami Imam Husein as Tehran, Ayatullah Haqqi membangun hauzah ilmiah. Di tahun-tahun pertama Revolusi Islam, beliau mewakafkan diri dan masjid untuk memajukan tujuan kebangkitan Islam dan memimpin gerakan anti rezim Shah. Pasca kemenangan Revolusi Islam beliau pernah menjadi anggota parlemen Iran dari kota Sarab dan anggota Dewan Ahli Kepimpinan dari provinsi Azerbaijan Timur.

Sebagian karya beliau adalah Risalah fi al-Adalah, Risalah fi I’jaz al-Quran, Syarh Dua al-Iftitah dan tagsir sejumlah surat al-Quran dalam empat jilid.

Ayatullah Mohammad Ali Haqqi