Jun 14, 2019 10:16 Asia/Jakarta
  • Lintasan Sejarah 14 Juni 2019

Hari ini, Jumat 14 Juni 2019 bertepatan dengan 10 Syawal 1440 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 24 Khordad 1398 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di masa lampau.

 

Ibnu Muqlah Meninggal Dunia

 

1112 tahun yang lalu, tanggal 10 Syawal 328 HQ,  Abu Ali Muhammad bin Abdullah Baghdadi, yang terkenal dengan julukan Ibnu Muqlah, seorang penulis dan kaligrafer terkemuka muslim, meninggal dunia.

 

Ibnu Muqlah dilahirkan di kota Baghdad dan menuntut ilmu dari ulama-ulama terkemuka pada masa itu. Pada usia muda, Ibnu Muqlah telah diangkat sebagai menteri di pemerintahan Abbasiah.

 

Namun, penentangannya terhadap praktek despotisme dan penyelewengan yang dilakukan rezim Abbasiah, membuatnya dijebloskan ke penjara. Akhirnya, atas perintah rezim tersebut, lidah dan tangan Ibnu Muqlah dipotong dan kemudian dibunuh.

 

Ibnu Muqlah lebih terkenal dalam bidang kaligrafi. Di bidang ini, ia berhasil menciptakan beberapa jenis huruf baru. Karya penulisan yang ditinggalkan Ibnu Muqlah di antaranya berjudul "Risalah Fi Ilmi al-Khat wal Qalam".

 

Pasukan Perancis mendarat di Aljazair

 

189 tahun yang lalu, tanggal 14 Juni 1830, tentara Perancis mendarat di pantai Aljazair yang mengawali serbuan negara imperialis ini ke Aljazair.

 

Perancis menghadapi perlawanan sengit rakyat Aljazair yang menolak penjajahan atas negeri mereka. Dengan berbagai cara, akhirnya Perancis berhasil menduduki Aljazair secara penuh tahun 1910.

 

Meski demikian perlawanan bersenjata rakyat Aljazair tetap berlanjut dan memuncak seiring dengan berakhirnya perang dunia II.Tahun 1962, dengan semakin meningkatnya perlawanan rakyat dan tekanan dunia, Presiden Perancis saat itu Charles de Gaulle terpaksa menyetujui pemberian status kemerdekaan penuh kepada Aljazair.

 

Bani Sadr dan Rajai

Surat 120 Anggota Parlemen Iran Minta Dibahas Ketidaklayakan Politik Bani Sadr

 

38 tahun yang lalu, tanggal 24 Khordad 1360 HS, 120 anggota parlemen Iran mengirim surat agar dibahas ketidaklayakan politik Bani Sadr.

 

Rakyat Iran dengan gagah berani melakukan perlawanan yang luas atas agresi militer rezim Saddam. Tapi front perang yang semakin luas tanpa ada dukungan yang seharusnya dari Bani Sadr sebagai Panglima Tertinggi seluruh jajaran Angkatan Bersenjata Iran, membuat friksi antara presiden Iran ini dengan parlemen, Mahkamah Agung dan lembaga-lembaga revolusioner lainnya semakin mencapai puncaknya.

 

Sementara nasihat Imam Khomeini  agar dicapai kesepahaman tidak juga berhasil, maka pada sidang tanggal 24 Khordad 1360 Hs, surat dari 120 anggota parlemen akhirnya dibacakan yang isinya meminta penindaklanjutan kelayakan politik Bani Sadr. Surat 120 anggota parlemen itu juga mencantumkan harus segera dibahas.

 

Para pendukung Bani Sadr di parlemen menolak usulan ini dan menilai sidang ini tidak resmi yang berujung pada aksi keluar dari ruang sidang. Menurut mereka, Bani Sadr tetap masih berada di puncak kekuasaan.

 

Tapi para wakil parlemen yang revolusioner akhirnya meratifikasi usulan ini pada 31 Khordad 1360 Hs dan praktis unsur pengkhianat negara tengah memasuki tahap dilengserkan dari kekuasaannya.

 

Pasca disepakati ketidaklayakan politik Bani Sadr di Majlis Iran, Imam Khomeini berdasarkan keputusan itu memberhentikannya dari posisi presiden. Dengan pemberhentian itu, sekalipun akar utama pengkhianatan dan perselisihan yang ada di Iran telah dicabut, tapi sejak saat itu, Bani Sadr dan pendukungnya mulai memasuki tahapan baru melakukan aksi-aksi kekerasan menentang negara. Mereka meneror para pejabat negara dan rakyat biasa. Tapi berkat kesigapan rakyat dan militer disertai tuntunan Imam Khomeini ra, aksi-aksi ini dapat dipadamkan.