Lintasan Sejarah 15 Juli 2019
Hari ini, Senin 15 Juli 2019 bertepatan dengan 12 Zulkaidah 1440 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 24 Tir 1398 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di masa lampau.
Rembrandt Lahir
413 tahun yang lalu, tanggal 15 Juli 1606, Rembrandt van Rijn, pelukis besar Belanda, terlahir ke dunia di kota Leiden.
Selama hidupnya, Rembrandt menghasilkan lebih dari 600 lukisan, sebagian besarnya berupa lukisan potret yang kaya warna serta penuh permainan bayangan dan cahaya yang dramatis.
Rembrandt belajar melukis dari beberapa guru, di antaranya seorang pelukis Amsterdam, Pieter Lastman, yang membuatnya tertarik pada tema-tema Injil, mitos, dan sejarah. Rembrandt juga sangat terpengaruh oleh pelukis Italia, Caravaggio, yang memiliki teknik penggunaan cahaya dan bayangan yang kuat, yang menjadi pusat dari karya-karya Rembrandt.
Pada usia 22 tahun, Rembrandt telah berhasil membangun gaya lukisannya sendiri. Pada tahun 1631, ia pindah ke Amsterdam dan mulai terkenal sebagai pelukis potret. Ia akhirnya memiliki studio lukis besar dengan beberapa asisten. Namun, menjelang tahun 1950-an, gaya lukisan potret Rembrandt mulai kurang populer sehingga ia mengalami kebangkrutan. Namun, Rembrandt tetap aktif melukis karya-karya monumentalnya.
Karya-karya Rembrandt yang menjadi terkenal pada abad 20-an sebagian besar berasal dari masa-masa sulit kehidupannya tersebut, di antaranya berjudul Bathsheba Rembrandt meninggal dunia tahun 1669.
Hijrah Ulama Tehran ke Qom, di Masa Revolusi Konstitusi
113 tahun yang lalu, tanggal 24 Tir 1285 HS, Ayatullah Sayid Mohammad Tabatabai dan Sayid Abdullah Bahbahani memimpin sebuah kelompok berjumlah 1000 orang bergerak ke kota Qom yang akhirnya dikenal sebagai Mohajerat Kubro.
Hal itu dilakukan sebagai kelanjutan Revolusi Konstitusi, pasca tidak diterimanya tuntutan ulama dan rakyat terkait pendirian pengadilan dan penerapan hukum Islam, ulama memutuskan untuk berhijrah ke kota Qom dan melakukan aksi mogok di komplek suci Sayidah Fathimah Maksumah as.
Tiga hari setelahnya, Sheikh Fazlollah Nouri mempersiapkan jumlah orang yang lebih banyak untuk melakukan hijrah dari Tehran ke Qom. Hijrah ini menciptakan gelombang kebangkitan di seluruh negeri dan ulama besar waktu itu seperti Agha Najafi Isfahani di Isfahan dan Akhond Mulla Ghorbanali Zanjani dari Zanjan, ikut bergabung dalam aksi mogok itu. Menyusul aksi itu, para ulama dari pelbagai kota mendapat telegram untuk ikut dan mereka bergabung melakukan aksi mogok di Qom.
Mozaffaruddin Shah akhirnya menerima tuntutan itu. Tapi ketika aksi ini berada di puncak keberhasilannya, ada gerakan mencurigakan yang mengarah pada penyimpangan gerakan ini. Sejumlah warga secara tidak sadar justru meminta suaka ke Kedutaan Besar Inggris dan melakukan aksi mogok di halaman Kedubes Inggris.
Aksi mogok lebih dari 20 ribu warga di Kedubes Inggris, sekalipun alasan pertamanya untuk menyelamatkan diri, tapi pada intinya aksi pelanggaran terhadap hukum Islam yang memang diinginkan oleh negara imperialis ini. Penyimpangan ini terus berlanjut hingga Sheikh Fazlollah Nouri yang merupakan pemimpin Revolusi Konstitusi, harus digantung akibat penolakannya terhadap kebangkitan Revolusi Konsitusi yang tidak sah.
Akhirnya, akibat tekanan para pelaku aksi mogok, Mozaffaruddin Shah menerima seluruh tuntutan mereka dan tanggal 14 Mordad 1285, lewat sebuah perintah, selain pemecatan Ain ad-Dowleh, Perdana Menterinya, Mozaffaruddin Shah mengeluarkan perintah penyelenggaraan pemilu dan pendirian parlemen. Para ulama dan rakyat yang melakukan aksi mogok di Qom kembali ke tehran setelah 10 hari sejak penandatangan Perintah Revolusi Konstitusi.
Adib Neishaburi Meninggal
96 tahun yang lalu, tanggal 12 Dzulqadah 1344 HQ, Adib Naishaburi, seorang penyair terkemuka Iran, meninggal dunia.
Adib Naishaburi dilahirkan pada tahun 1281 Hijriah di Neishabur, sebuah kota di timur laut Iran. Sejak kecil, karena terserang penyakit cacar, dia kehilangan kemampuan pengelihatan salah satu matanya.
Meskipun demikian, Adib Neishaburi tetap bersemangat menuntut ilmu hingga akhirnya menguasai sastra Arab dan ilmu-ilmu yang berkembang di zamannya. Adib Naishaburi kemudian mengajar dan mulai menyusun syair.
Syair-syair Neishaburi memiliki kekhasan dalam pemilihan kata-kata yang bermakna dalam. Buku kumpulan syair Naishaburi terdiri 2000 bait syair yang sangat elegan dalam bahasa Arab dan Persia.