Lintasan Sejarah 7 September 2020
-
7 September 2020
Hari ini, Senin 7 September 2020 bertepatan dengan 18 Muharam 1441 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran tanggal 17 Shahrivar 1399 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi hari ini.
Kelahiran Abu Manshur Tsa’alibi
1092 tahun yang lalu, tanggal 18 Muharam 350 HQ, Abu Manshur Tsa’alibi, sastrawan Islam abad keempat lahir ke dunia.
Abu Manshur Abdul Malik bin Muhammad bin Ismail Tsa’alibi seorang sastrawan dan ahli bahasa terkenal abad keempat dan kelima Hijriah. Ia lahir di kota Neishabur, Iran. Karya-karya Tsa’alibi sangat dikenal di kalangan sastrawan dan ahli bahasa, sehingga ia dikenal dengan nama “Imam al-Mushannifin dan Ra’s al-Muallifin”. Buku Makarim al-Akhlak dan al-Amtsal merupakan sebagian dari karyanya.
Abu Manshur Tsa’alibi meninggal dunia pada tahun 429 Hijriah dalam usia 79 tahun.
Jerman Bombardir London
80 tahun yang lalu, tanggal 7 September 1940, Angkatan Udara Jerman melepaskan serangan langsung ke jantung Kota London, Inggris, dengan menjatuhkan bom-bom berdaya ledak tinggi. Akibatnya ratusan orang tewas dan melukai lebih banyak lagi.
Menteri Pertahanan Inggris mengatakan itu merupakan serangan paling besar Jerman. Serangan pertama hari itu dilakukan Jerman pada sore hari. Pusat serangan berada di kawasan East End, sepanjang daerah sungai Kota London.
Sebanyak 300 bomber mengurung London selama hampir 2 jam. Menjelang pukul 20.00, serangan gelombang kedua datang. Serangan tersebut lebih lama daripada gelombang pertama, yaitu selama 8 jam, sehingga pada malam itu Kota London dipenuhi suara ledakan tanpa henti.
Pemerintah Inggris menyatakan, dari serangan tersebut, 88 pesawat Jerman bisa ditembak jatuh. Adapun dari pasukan Inggris sendiri, 22 pesawat dinyatakan hilang atau ditembak jatuh.
Jumat Berdarah dan Pembantaian di Bundaran Shohada Tehran
42 tahun yang lalu, tanggal 17 Shahrivar 1357 HS, Jumat pagi Jenderal Gholamali Oveisi, Panglima Militer Tehran mengumumkan kondisi darurat militer kepada warga Tehran dan sekitarnya lewat radio.
Masyarakat yang tidak mendapat informasi tentang kondisi darurat militer ini, sejak jam 6 pagi turun ke jalan-jalan untuk melakukan demonstrasi di hari keempat berturut-turut. Tempat berkumpulnya para demonstran adalah Bundaran Zaleh (sekarang bernama Bundaran Shohada).
Ketika warga tiba di jalan-jalan yang menuju tempat berkumpul, tiba-tiba mereka menyaksikan tank dan kendaraan lapis baja lainnya disertai tentara yang bersenjatakan senapan otomatis telah menanti mereka. Para demonstran benar-benar tidak siap dengan keadaan ini. Sementara tentara yang ada di sana setelah mengeluarkan beberapa kali peringatan langsung menembaki warga.
Jenazah terlihat di mana-mana di sekitar Bundaran Shohada dan darah tergenang di sisi jalan. Pada hari itu, kaki tangan Shah Pahlevi tidak membiarkan para demonstran berhamburan meninggalkan tempat berkumpul, tapi mengejar mereka hingga ke rumah-rumah warga yang berada di sekitar peristiwa pembantaian itu. Rezim Shah mengumumkan bahwa jumlah seluruh syuhada sekitar 58 orang dan aksi demonstrasi ini dikendalikan dari luar negeri. Sekalipun jumlah pasti dari korban pembantaian Jumat Kelabu ini tidak pernah jelas hingga sekarang, tapi dapat dipastikan jumlah korban lebih dari 4 ribu orang.
Sejak peristiwa itu, tanggal 17 Shahrivar diperingati sebagai Hari Jumat Berdarah Tehran.