Des 01, 2020 11:28 Asia/Jakarta
  • 1 Desember 2020
    1 Desember 2020

Hari ini, Selasa 1 Desember 2020 bertepatan dengan 15 Rabiul Tsani 1442 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran tanggal 11 Azar 1399 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi hari ini.

Bagdadi Meninggal Dunia

1054 tahun yang lalu, tanggal 15 Rabiul Tsani 388 HQ, Abu Ali Muhammad bin Muzhaffar yang terkenal dengan julukan Hatimi atau Bagdadi, seorang ahli bahasa, sastrawan, dan cendikiawan Islam, meninggal dunia.

Hatimi mempelajari ilmu sastra dan bahasa dari Ibnu Duraid dan Abu Amar. Setelah menguasai ilmu-ilmu tersebut, Hatimi kemudian mengajar di kota Bagdad. Kelas Hatimi banyak didatangi murid-mudrid, di antaranya Hakim Tanukhi dan ulama-ulama besar lainnya pada zaman itu.

Hatimi meninggalkan banyak karya penulisan, di antaranya buku berjudul "Hatimiyah" yang berisi kritik dan pembahasan atas kesalahan dalam syair-syair penyair pada masa itu.

Mirza Koochak Khan Janggali Gugur Syahid

99 tahun yang lalu, tanggal 11 Azar 1300 HS, Mirza Koochak Khan Janggali, seorang ruhaniwan pejuang Iran, gugur syahid dalam perjuangan melawan rezim Mohammad Reza Khan yang despotik.

Mirza Koochak Khan Janggali

Setelah menyelesaikan pendidikan agamanya, Koochak Khan bergabung ke dalam barisan pejuang kebebasan Iran yang saat itu berada dalam cengkeraman rezim despotik dan kekuasaan imperialis asing. Pada tahun 1919, Iran dan Inggris menandatangani perjanjian yang memberi peluang lebih besar kepada Inggris untuk mengontrol Iran. Koochak Khan kemudian menggalang perjuangan untuk menentang perjanjian ini yang disebut sebagai "Kebangkitan Hutan".

Pada awalnya, pasukan Koochak Khan meraih kemenangan, namun atas kerjasama pasukan pemerintah dengan Uni Soviet dan Inggris, sebagian anggota gerakan "Kebangkitan Hutan" terbunuh dan sebagian lainnya ditawan. Akhirnya. Koochak Khan juga terbunuh dan dengan demikian berakhirlah gerakan "Kebangkitan Hutan".

Antartika, Benua Bebas Militer

61 tahun yang lalu, tanggal 1 Desember 1959, sebanyak 12 negara termasuk Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet, menyetujui Perjanjian Antartika.

Sebagian daerah Antartika

Perjanjian tersebut melarang segala aktivitas militer dan pengujian senjata di Benua Antartika. Perjanjian Antartika menjadi perjanjian pengendalian senjata pertama yang ditandatangani dalam periode Perang Dingin. Sejak 1800-an, sejumlah negara termasuk Inggris, Australia, Cile, dan Norwegia mengklaim sebagai pemilik Benua Antartika.

Klaim-klaim itu menyebabkan perselisihan diplomatik dan bentrokan senjata. Pada 1948 angkatan perang militer Argentina menembaki tentara Inggris di wilayah yang sama-sama mereka klaim. Insiden tersebut membuat Uni Soviet tertarik kepada benua ini.

Hal tersebut diketahui AS sehingga memacu AS untuk mengusulkan agar benua tersebut berada dalam pengawasan PBB. Tetapi, gagasan itu ditolak.

Pada 1950-an beberapa pejabat AS mulai memberikan tekanan agar Amerika bertindak lebih aktif mengenai Antartika, sebab mereka percaya bahwa benua tersebut memiliki potensi untuk digunakan sebagai lahan pengujian nuklir. Tetapi, Presiden Dwight D Eisenhower mengambil pendekatan yang berbeda.

Ia malah bekerja sama dengan Uni Soviet untuk mengeluarkan perjanjian yang menjadikan Antartika sebagai zona bebas militer. Perjanjian itu mulai berlaku pada Juni 1961.