UNESCO dan Kecaman Atas Langkah Rezim Zionis di Masjid Al-Aqsa
https://parstoday.ir/id/radio/west_asia-i41532-unesco_dan_kecaman_atas_langkah_rezim_zionis_di_masjid_al_aqsa
UNESCO menambahkan makam Ibrahim dan kota al-Khalil yang dalam bahaya ke dalam daftar situs warisan budaya dunia, sekaligus mengecam langkah-langkah yang dilakukan rezim Zionis Israel di daerah ini. Sebelumnya, lembaga PBB ini mengeluarkan sejumlah resolusi yang menguntungkan Palestina, termasuk menyatakan kota al-Quds dalam pendudukan Zionis Israel.
(last modified 2026-04-12T10:02:39+00:00 )
Jul 23, 2017 17:25 Asia/Jakarta

UNESCO menambahkan makam Ibrahim dan kota al-Khalil yang dalam bahaya ke dalam daftar situs warisan budaya dunia, sekaligus mengecam langkah-langkah yang dilakukan rezim Zionis Israel di daerah ini. Sebelumnya, lembaga PBB ini mengeluarkan sejumlah resolusi yang menguntungkan Palestina, termasuk menyatakan kota al-Quds dalam pendudukan Zionis Israel.

Sidang ke-41 Komite Warisan Budaya Dunia UNESCO pada bulan Juli 2017 diselenggarakan di kota Krakow, Polandia. Sidang tersebut pada akhirnya mencatat kota al-Khalil di Palestina sebagai situs warisan dunia. Kota historis Yazd, bagian kuno kota Ahmedabad, India dan bagian dari kota Strasbourg, Perancis termasuk daerah-daerah yang tercatat dalam situs warisan dunia.

Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Rezim Zionis Israel menyerang keputusan UNESCO soal kota al-Khalil dan menyebut keputusan lembaga PBB ini omong kosong. Dalam pesan video di laman Facebooknya Netanyahu menulis, ini satu lagi dari keputusan omong kosong yang diratifikasi oleh PBB.

Mereaksi keputusan UNESCO mencantumkan kota al-Khalil dalam daftar situs warisan dunia yang berada dalam bahaya, rezim Zionis Israel hari Jumat (14/7) menyatakan akan membangun museum sejarah Yahudi di kota itu.

UNESCO catat kota al-Khalil dalam warisan budaya dunia

Kantor Perdana Menteri Zionis Israel dalam pernyataannya menyebutkan, menyusul langkah UNESCO, Netanyahu telah memutuskan akan mengurangi satu juga dolar dari iuran Israel di PBB. Dana ini akan dialokasikan membangun sebuah museum yang menampilkan sejarah penduduk Yahudi al-Khalil. Israel menduduki kota al-Khalil bersama dengan seluruh bagian Tepi Barat, timur Baitul Maqdis dan Jalur Gaza dalam perang 1967. Sejak itu, Israel mengontrol daerah-daerah ini, sekalipun diprotes luas oleh masyarakat internasional.

Avigdor Lieberman, Menteri Peperangan Zionis Israel tentang UNESCO mengatakan, "UNESCO sebuah organisasi yang memihak dan anti Israel. Langkah ini membuktikan Otoritas Palestina tidak berusaha untuk menciptakan perdamaian, tapi berusaha menodai citra Israel." Kementerian Luar Negeri Israel juga menyebut lembaga PBB ini sebagai noktah hitam. Jubir Kemenlu Israel, Emmanuel Nahshon di laman Twitternya mengecam keputusan UNESCO dan menulis, UNESCO sungguh memalukan! Langkah ini menjadi nokta hitam di dahi lembaga ini.

Setelah UNESCO resmi mengakui bagian kuno dari kota al-Khalil sebagai daerah Palestina, Amerika ikut menyatakan akan merevisi hubungannya dengan lembaga ini. Nikki Haley, Wakil Tetap AS di PBB menyebut keputusan UNESCO telah menistakan sejarah. Nikki Haley mengatakan, "Resolusi ini bakal menggagalkan upaya pemerintah Trump saat ini untuk menghidupkan kembali perundingan damai antara Israel dan Palestina yang menjadi prioritas kebijakan Washington."

Nikki Halley, Wakil Tetap Amerika di PBB

Perlu diketahui bahwa Amerika merupakan anggota badan eksekutif dari 58 anggota UNESCO, tapi tidak lagi memiliki hak suara di sidang umum lembaga ini.

Komite Warisan Budaya Dunia UNESCO mampu mempertahankan independensinya dalam pengambilan keputusan soal kota al-Khalil, padahal Wakil Tetap Israel berusaha keras di sidang ini untuk mencegah komite ini mengambil keputusan yang menguntungkan Palestina. Dalam voting yang dilakukan, kota kuno al-Khalil (Hebron) dan makam Nabi Ibrahim dimasukkan ke dalam daftar situs warisan budaya dunia disebabkan agresi rezim penjajah al-Quds.

Keputusan ini direaksi kasar, sombong dan sangat menghina Dubes Zionis Israel di UNESCO, sehingga di akhir ucapannya, ia mengatakan akan pergi ke toilet dikarenakan itu lebih penting dari kehadirannya di sidang ini. Pada waktu itu, semua yang hadir di sidang itu mengejek dan mencemoohnya ketika akan meinggalkan ruang sidang.

Sekalipun mendapat protes keras dari Carmel Shama, wakil Israel di lembaga ini, UNESCO akhirnya menetapkan kota al-Khalil, kota terbesar di Tepi Barat yang terletak di 30 kilometer Baitul Maqdis, sebagai situs warisan budaya dunia. Tentu saja ini merupakan kemenangan diplomasi bagi bangsa Palestina.

al-Khalil, kota terbesar di Tepi Barat yang terletak di 30 kilometer Baitul Maqdis

Kota al-Khalil memiliki sejarah ribuan tahun dan sekitar 200 ribu warga Palestina hidup di sana. Sejumlah warga zionis yang mendapat dukungan rezim Zionis Israel dengan mendirikan pemukiman zionis di dekat situs-situs sejarah kota ini membuat kawasan bersejarah kota dalam bahaya perusakan. Dalam resolusi yang diusulkan Palestina ditekankan identitas Islam di bagian kuno kota ini. Karena bagian dari kota al-Khalil ini selama berabad-abad hanya mengalami sedikit perubahan.

Sebelumnya, komite pelaksana UNESCO pada Mei 2017 meratifikasi resolusi mengecam rezim Zionis Israel karena melanggar aturan internasional di kota Baitul Maqdis dan Jalur Gaza, serta menuntut dihormatinya identitas sejarah Baitul Maqdis. Dalam resolusi itu rezim Zionis Israel dikecam karena pelanggaran tersebut dan secara internasional Tel Aviv diingatkan agar menghormati identitas Islam masjid al-Aqsa dan makam Nabi Ibrahim.

UNESCO menyatakan, tujuan dari memasukkan ibarat di teks resolusi lembaga ini dimana ada penyebutan Baitul Maqdis dengan identitas agama-agama penyembah Tuhan yang Esa, Yahudi, Kristen dan Islam, untuk menggagalkan proyek Yahudisasi kota al-Quds oleh rezim ZIonis Israel. Resolusi ini punya satu kelebihan dan itu adalah menyebut Tel Aviv sebagai kekuatan penjajah dan pendudukan bagian timur Baitul Maqdis oleh Israel tidak diakuinya.

Rula Maa'yaa, Menteri Pariwisata Palestina mengatakan, "UNESCO mencatat kota al-Khalil dan makam Nabi Ibrahim as sebagai situs keempat warisan Palestina dalam daftar situs warisan budaya dunia sesuai dengan permintaan Palestina." Maa'yaa menekankan pentingnya peristiwa sejarah yang menunjukkan identitas Palestina warga al-Khalil dan makam Nabi Ibrahim as serta dua karya ini milik bangsa Palestina. Ia menyatakan bahwa masalah ini menunjukkan kebohongan klaim rezim Zionis yang ingin menggabungkan makam Nabi Ibrahim as dengan warisan Yahudi, sekaligus banjir dukungan terhadap makam ini dan lingkungan di sekelilingnya dari perusakan dan Yahudisasi daerah ini.

Kota al-Khalil

Kota al-Khalil merupakan kota tertua dari seluruh kota-kota yang ada di Palestina dan memiliki sejarah 6 ribu tahun. Kota ini dianggap suci oleh semua pengikut agama-agama langit. Kota ini setelah Mekah, Madinah dan al-Quds merupakan kota suci keempat umat Islam dan makam suci Nabi Ibrahim as merupakan warisan peradaban paling penting kota ini. Al-Khalil banyak memiliki gedung-gedung tua seperti makam Nabi Ibrahim, Ishaq, Ya'qub dan istri-istri mereka. Atas dasar inilah kota ini merupakan kota suci kedua pengikut Yahudi dan kota suci bagi penganut agama monoteis lainnya.

Al-Khalil atau Hebron terletak di bagian perbukitan Palestina dan di bagian selatan terletak bukit-bukit Quds. Kawasan utara dan barat kota al-Khalil dipengaruhi iklim Mediterania dan curah hujan tahun di sana sekitar 500 milimeter. Kota al-Khalil memiliki banyak warisan budaya dan sejarah, seperti monumen Haram al-Khalil, di utara kota al-Khalil yang terkenal akibat ditempati Nabi Ibrahim as bersama keluarganya.

Pasca perang 1967, rezim Zionis berusaha mengubah makam Nabi Ibrahim as sebagai tempat peribadatan Yahudi. Mereka berusaha keras mengubah prasasti-prasasti Islam di makam ini dengan memasang prasasti-prasasti berbahasa Ibrahini sebagai petunjuk bagi peziarah. Di kota ini ada sekitar 50 masjid lama dan baru, dimana masjid Jami Nabi Yunus yang berada di dekat kuburan Nabi Yunus as merupakan masjid penting di sana.

Sementara akar kata Hebron bermakna bersama, bersatu, dan pertemanan. Oleh karenanya, kata Hebron memberikan makna persahabatan. Al-Khalil adalah nama sebuah kota Palestina yang merupakan panggilan Nabi Ibrahim as yaitu Khalilullah dan maknanya sendiri adalah teman.

Namun kota ini pernah menyaksikan peristiwa pahit pembantaian umat Islam di hari Idul Fitri tahun 1994 yang dilakukan oleh Baruch Goldstein. Ia seorang Yahudi warga Amerika yang tinggal di kawasan pendudukan Palestina. Ketika warga Palestina tengah sujud dalam shalat yang dilakukan di masjid al-Khalil, Baruch Goldstein menembaki mereka dengan senapan otomatis yang mengakibatkan 29 orang gugur syahid dan 125 lainnya cidera. Peristiwa ini memunculkan protes terhadap rezim Zionis Israel. Dua hari berlalu dari peristiwa itu, warga Palestina bentrok dengan tentara Israel yang mengakibatkan 19 orang gugur syahid.