Anak Yaman Korban Kejahatan Perang Saudi
https://parstoday.ir/id/radio/west_asia-i48301-anak_yaman_korban_kejahatan_perang_saudi
Kebohongan besar Arab Saudi terungkap ketika negara itu mengaku diri sebagai Khadimul Haramain (penjaga dua Haram Suci) dan setiap tahun selalu membagikan sekian banyak Al Quran kepada Muslimin, namun tidak mengizinkan lembaga-lembaga internasional menyalurkan bantuan kemanusiaan, bahkan makanan dan obat-obatan kepada rakyat Yaman yang kelaparan dan sakit. Langkah tersebut mengindikasikan dalamnya dendam dan kekejaman Saudi terhadap Muslim Yaman.
(last modified 2026-03-13T19:03:59+00:00 )
Des 17, 2017 11:18 Asia/Jakarta

Kebohongan besar Arab Saudi terungkap ketika negara itu mengaku diri sebagai Khadimul Haramain (penjaga dua Haram Suci) dan setiap tahun selalu membagikan sekian banyak Al Quran kepada Muslimin, namun tidak mengizinkan lembaga-lembaga internasional menyalurkan bantuan kemanusiaan, bahkan makanan dan obat-obatan kepada rakyat Yaman yang kelaparan dan sakit. Langkah tersebut mengindikasikan dalamnya dendam dan kekejaman Saudi terhadap Muslim Yaman.

Hampir 34 bulan agresi militer Saudi bersama beberapa negara Arab lain terhadap rakyat Yaman berlangsung. Sebelumnya Riyadh sesumbar bisa menduduki dan menaikkan jagonya di pucuk pemerintahan Yaman hanya dalam waktu dua minggu. Akan tetapi perlawanan rakyat Yaman bukan saja telah menggagalkan rencana Saudi, bahkan mampu menyeret rezim agresor itu ke dalam jurang kekalahan yang memalukan.

Oleh karena itu, rezim Al Saud menganggap tidak ada jalan lain untuk menutupi kekalahan selain melancarkan serangan bom membabi buta ke Yaman, membantai rakyatnya dan menghancurkan infrastruktur negara itu. Parahnya lagi, rezim Al Saud bahkan tidak mengizinkan penyaluran bantuan makanan dan obat-obatan untuk rakyat tertindas Yaman.

Akibat serangan brutal tanpa belas kasihan Saudi ke Yaman yang di dalamnya pasukan Saudi selalu menghindari untuk berhadapan langsung dengan pejuang Yaman, warga sipil terutama anak-anaklah yang menjadi korban utama. Hingga kini, ribuan anak, perempuan dan lelaki Yaman tewas atau terluka akibat serangan udara Saudi yang dilakukan hampir setiap hari.

Namun sungguh disesalkan, lembaga-lembaga internasional sangat terlambat mengambil sikap untuk menangani kondisi mengenaskan rakyat Yaman. Sampai sekarang lembaga-lembaga itu tidak mampu menghentikan serangan udara Saudi terhadap rakyat Yaman dan mencabut blokade Riyadh.

Pada bulan Juni 2016, PBB memasukkan Saudi ke daftar hitam pelanggar hak anak. Akan tetapi tekanan rezim Al Saud dan ancaman pemutusan bantuan finansialnya, mamaksa Ban Ki-moon, Sekjen PBB kala itu secara mengejutkan menghapus nama Saudi dari daftar tersebut.

Anak Yaman

Setelah sekitar 15 bulan, PBB akhirnya memasukkan Saudi dan sekutu-sekutunya ke dalam daftar hitam pelanggar hak anak. Apa yang menyebabkan PBB menganggap Saudi bertanggung jawab atas pembunuhan anak-anak Yaman, bukan hanya pemboman berkelanjutan Riyadh, tapi blokade darat dan laut atas Yaman yang telah menciptakan bahaya serius dan bencana bagi rakyat negara itu khususnya anak-anak.

Langkah Saudi melarang masuknya bantuan kemanusiaan terutama makanan dan obat-obatan ke Yaman menyebabkan kelaparan dan menyebarnya wabah penyakit di tengah masyarakat tertindas negara itu. Untuk memahami penderitaan anak-anak Yaman dan kondisi buruk mereka, cukup melihat laporan terbaru PBB.

Dalam laporan itu disebutkan, setiap 10 menit seorang anak Yaman meninggal dunia akibat gizi buruk dan penyakit, dan dari setiap 10 anak, delapan di antaranya mengalami gizi buruk. Menurut laporan PBB, 1.400 anak Yaman tewas karena penyakit dan 2.140 anak tewas karena terluka, akan tetapi poin penting yang patut diperhatikan adalah 2,2 juta anak Yaman tewas karena gizi buruk.

Dengan kata lain anak-anak Yaman tidak hanya terancam serangan bom militer Saudi saja, tapi juga oleh kelangkaan bahan makanan dan obat-obatan. Dana Anak-anak PBB, UNICEF dalam salah satu laporannya, mengecam serangan udara koalisi pimpinan Saudi ke Yaman yang menewaskan dan mengakibatkan ratusan anak negara itu lumpuh.

UNICEF mengumumkan, lebih dari 400 ribu nyawa anak Yaman terancam akibat gizi buruk yang akut. Sekitar dua juta anak Yaman menderita gizi buruk dan dua juta lainnya tidak bisa melanjutkan studi, dan hampir satu juta anak terlantar di negara itu.

Anak Yaman

Kondisi menyedihkan ini pada kenyataannya adalah balas dendam Saudi yang sangat tidak manusiawi atas kekalahannya di Yaman dan upayanya untuk memaksa rakyat Yaman menghentikan perlawanan serta menerima dominasinya. Menurut laporan UNICEF, militer Saudi di tahun 2016 saja telah membunuh 23 ribu bayi dan 273 ibu. UNICEF menganggap koalisi Arab pimpinan Saudi bertanggung jawab atas bencana besar dan kejahatan kemanusiaan di Yaman.

Kondisi Yaman begitu buruk sehingga Antonio Guterres, Sekjen PBB, pertengahan bulan November 2017 dalam suratnya untuk delegasi Saudi di PBB mengatakan, blokade Yaman oleh koalisi Saudi menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan ke negara itu.

Guterres juga memprotes ketidakpedulian pemerintah Riyadh atas permintaan berulang PBB agar mencabut blokadenya atas Yaman. Sekjen PBB menegaskan, sebelum digelar perundingan antara PBB dan koalisi Saudi, seluruh pelabuhan Yaman harus dibuka terlebih dahulu.

Kelaparan dan kelangkaan bahan makanan, bukanlah satu-satunya masalah yang dihadapi rakyat Yaman terutama anak-anak, hancurnya infrastruktur negara termasuk sistem pengolahan air, telah mengakibatkan tersebarnya penyakit menular dan mematikan seperti Difteri.

Surat kabar Inggris, The Guardian beberapa bulan lalu menulis, hancurnya infrastruktur Yaman oleh jet-jet tempur Saudi, berarti putusnya akses 14,5 juta penduduk Yaman yang delapan juta di antaranya anak-anak, atas air bersih dan sehat.

Diperkirakan jumlah penderita wabah penyakit di Yaman akan mencapai 600 ribu orang hingga akhir tahun 2017, tapi data ini sekarang sudah mengalami peningkatan yang tinggi. Rezim Al Saud dengan melakukan blokade total atas Yaman, tidak pernah mengizinkan tim penyelamat dari Palang Merah Internasional untuk membantu menyelamatkan anak-anak Yaman dari ancaman kematian akibat wabah penyakit.

Anak Yaman

Penguasa Saudi secara praktis tengah melakukan genosida dan holocaust baru di Yaman. Karenanya, Antonio Guterres dalam statemen lain menuntut penghentian serangan udara dan darat ke Yaman dan memperingatkan, jutaan anak, perempuan dan laki-laki Yaman terancam bahaya kelaparan, penyakit dan kematian.

Kelangkaan akut obat-obatan dan fasilitas medis, telah memperburuk kondisi anak-anak Yaman. Sejumlah laporan lembaga internasional juga menunjukkan meluasnya bencana kemanusiaan di Yaman.

Caroline Anning, Manajer media, Organisasi Darurat Kemanusiaan, Selamatkan Anak-anak menuturkan, ruang perawatan di rumah sakit-rumah sakit Yaman sangat kekurangan fasilitas dan tenaga medis. Anak-anak diobati di atas lantai rumah sakit dan setiap tempat tidur ditempati enam orang anak.

Bismarck Swangin, petugas bagian komunikasi UNICEF mengatakan, pemandangan yang terlihat di setiap rumah sakit Yaman sungguh kacau dan menyedihkan, anak-anak tergeletak di lantai dan tidak bisa bergerak, ayah dan ibu mereka tanpa mampu berbuat apa-apa, duduk di sebelahnya.

Tamer Kirolos, Direktur Organisasi Save The Children menjelaskan, puluhan ibu setiap hari menyaksikan kematian anak-anaknya. Di Yaman banyak sekali anak-anak yang menderita karena kelangkaan makanan dan gizi buruk, mereka tertular berbagai jenis wabah penyakit dan diare, dan harus diakui mereka berada di ambang kematian.

PBB dan Program Pangan Dunia, WFP melaporkan, saat ini sekitar 60 persen warga Yaman menderita kelaparan dan sejak bulan Juni 2016 akibat bencana kelangkaan makanan, sekitar 17 juta penduduk Yaman berada dalam situasi darurat pangan dan krisis.

Laporan yang disusun berdasarkan analisa 69 pakar Yaman, PBB, UNICEF dan lembaga-lembaga non-pemerintah lainnya itu menyebutkan, sekitar 10,2 juta warga Yaman berada di level ketiga atau fase krisis, dan lebih dari 6,8 juta berada di level keempat atau fase darurat.

Anak Yaman

Menurut laporan itu, sekarang dari 22 provinsi Yaman, 20 di antaranya mengalami kelaparan dan kelangkaan makanan, dan Provinsi Lahij, Taiz, Abyan, Saadah, Hajjah, Hudaydah dan Shabwa, yang dikontrol Ansarullah, berada dalam kondisi darurat. Artinya, rezim Al Saud yang kalah dalam konfrontasi melawan pejuang Yaman, melakukan pembunuhan massal di wilayah-wilayah yang dikontrol lawan-lawannya.  

Tidak diragukan, Saudi dan beberapa rezim Arab lainnya yang sebagian besar tidak terlalu berperan dalam perang Yaman, tidak akan mampu melakukan pembunuhan massal terhadap rakyat dan anak-anak Yaman, tanpa dukungan negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris dan rezim Zionis Israel.

Senjata Amerika tidak bisa dipungkiri adalah yang paling banyak digunakan untuk membunuh anak-anak dan perempuan Yaman, lalu disusul senjata-senjata Inggris. Jeremy Corbyn, pemimpin oposisi pemerintah Inggris mengatakan, kebisuan Theresa May, Perdana Menteri Inggris atas blokade Yaman dan peran London dalam perang ini, membuktikan keterlibatan Inggris dalam penderitaan rakyat Yaman.

Corbyn menambahkan, Saudi harus mengakhiri blokade Yaman dan Inggris harus menangguhkan penjualan senjata ke negara Arab itu. Di sisi lain bantuan intelijen dan militer Israel atas Saudi juga berperan besar dalam menciptakan tragedi kemanusiaan di Yaman.