Memperingati Hari Pangan Sedunia
https://parstoday.ir/id/radio/world-i23263-memperingati_hari_pangan_sedunia
Hari Pangan Sedunia diperingati setiap tahun pada tanggal 16 Oktober, tanggal ketika Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) didirikan pada tahun 1945. Hari Pangan Sedunia dicetuskan oleh negara-negara anggota FAO pada konferensi umum ke-20 bulan November 1979. Pada hari ini, 150 negara dunia termasuk Republik Islam Iran menggelar acara khusus dan memberikan wawasan kepada masyarakat tentang kondisi pangan di dunia.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Okt 16, 2016 08:17 Asia/Jakarta

Hari Pangan Sedunia diperingati setiap tahun pada tanggal 16 Oktober, tanggal ketika Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) didirikan pada tahun 1945. Hari Pangan Sedunia dicetuskan oleh negara-negara anggota FAO pada konferensi umum ke-20 bulan November 1979. Pada hari ini, 150 negara dunia termasuk Republik Islam Iran menggelar acara khusus dan memberikan wawasan kepada masyarakat tentang kondisi pangan di dunia.

Pangan adalah kebutuhan yang paling dasar bagi manusia dan seluruh makhluk hidup dan memainkan peran fundamental dalam kehidupan semua makhluk. Upaya mengatasi rasa lapar selalu menyertai perjalanan hidup manusia sejak masa Nabi Adam as sampai sekarang dan bahkan dapat dikatakan bahwa kemajuan yang dicapai manusia di bidang industri dan pertanian, pada dasarnya untuk menjawab naluri alamiah dan kebutuhan dasar tadi.

Al-Quran juga menaruh perhatian terhadap kebutuhan kemanusiaan ini dan dalam sejumlah ayat menyinggung tentang manfaat beberapa jenis makanan. Akan tetapi pada era modern, ada banyak tantangan yang dihadapi masyarakat dunia dalam memenuhi kebutuhan pangan. Dari satu sisi, populasi penduduk bumi semakin bertambah dan kebutuhan akan pangan juga meningkat tajam serta perubahan pola konsumsi di negara-negara maju dan berkembang. Dari sisi lain, kerusakan lingkungan dan bencana alam seperti, El Nino dan La Nina yang disusul dengan kekeringan dan banjir parah sehingga menyebabkan gagal panen. Fenomena ini tampak lebih serius di negara-negara berkembang dan miskin, bahkan banyak negara menghadapi krisis pangan dan kelaparan kronis.

Kasus kelaparan adalah salah satu bahaya besar yang mengancam keselamatan manusia. Berdasarkan data yang dirilis FAO, jumlah orang yang meninggal akibat kelaparan per tahun lebih besar dari keseluruhan orang-orang yang terjangkiti berbagai penyakit seperti, AIDS, malaria dan TBC. Data terbaru menunjukkan 740 juta orang di dunia menderita akibat kekurangan pangan, di mana 98 persen dari mereka tinggal di negara-negara berkembang terutama di benua Afrika.

Menurut data terbaru, jumlah penduduk Afrika yang kelaparan naik dari 175 juta orang ke 239 juta orang selama dua dekade terakhir, di mana satu dari hampir setiap empat orang menderita kelaparan di benua itu. Statistik juga mencatat bahwa sebagian besar dari populasi dunia menderita kekurangan gizi. Salah satu dampak buruk kekurangan gizi adalah penurunan fungsi organ-organ tubuh, karena setiap individu membutuhkan asupan gizi yang cukup di sepanjang hari seperti, karbohidrat, protein, lemak, fiber, dan lain-lain.

Jika tubuh tidak menerima asupan gizi yang cukup, maka akan muncul gangguan tertentu dan berdampak pada penurunan kinerja anggota badan dan mengurangi produktivitas. Kondisi seperti ini tentu akan berpengaruh pada perekonomian mereka.

Institut Penelitian Kebijakan Pangan Internasional (IFPRI) dalam laporannya menyoroti kasus kekurangan gizi dan mencatat bahwa sejauh ini kesehatan hampir dua miliar orang di dunia terancam akibat gizi buruk. Sebanyak 2,8 juta anak di bawah usia lima tahun di dunia meninggal setiap tahunnya akibat gizi buruk. Negara-negara yang sangat rentan terhadap keamanan pangan dan menderita gizi buruk di dunia adalah, Kongo, Somalia, Eritrea, Chad, Ethiopia, Haiti, Afghanistan, Liberia dan Suriah. Menurut para pakar, kemiskinan adalah salah satu faktor utama pemicu gizi buruk di dunia.

Selain kemiskinan, penurunan produksi bahan makanan yang mendorong naiknya harga-harga kebutuhan pokok telah menyebabkan munculnya krisis kelaparan. Kekurangan drastis air yang bisa diakses, perubahan iklim, kerusakan lingkungan, program pembangunan adalah di antara faktor yang berpengaruh pada produksi pangan.

Sebuah laporan investigatif oleh Deutsche Bank Jerman mencatat bahwa sebuah pertumbuhan yang berkelanjutan di sektor pertanian sangat diperlukan untuk menjamin keamanan pangan global di masa depan. Permintaan untuk pangan diperkirakan akan meningkat dalam beberapa dekade mendatang sebagai akibat dari pertumbuhan penduduk dan juga pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang.

Laporan Deutsche Bank juga membahas prospek ketahanan pangan global di abad ke-21. Kompetisi untuk tanah dan air, harga energi yang tinggi, dan perubahan iklim semua mengindikasikan bahwa dunia dengan sumber yang sedikit harus memproduksi makanan yang banyak. Oleh karena itu, pertumbuhan yang berkelanjutan di sektor pertanian sangat penting untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia dalam beberapa dekade mendatang.

Menurut sebuah laporan PBB, populasi dunia saat ini 7,3 miliar orang dan diperkirakan akan mencapai 8,5 miliar pada tahun 2030, 9,7 miliar pada tahun 2050 dan 11,2 miliar pada tahun 2100. FAO memperkirakan bahwa jika penduduk bumi mencapai 9,7 miliar jiwa, maka produksi pangan dunia harus ditingkatkan sebesar 60 persen demi memenuhi permintaan.

Padahal, pertanian mikro dan rumah tangga akan menjadi pemasok utama kebutuhan pangan masyarakat dunia menyusul perubahan iklim. Masyarakat dunia akan menghadapi banyak masalah akibat naiknya suhu bumi, kekeringan, kerusakan lingkungan dan juga bencana alam. Dalam sebuah riset ilmiah, para pakar memperkirakan bahwa suhu bumi akan terus naik dalam beberapa dekade mendatang, sementara permintaan akan pangan juga meningkat. Mereka menghadapi risiko kekurangan pangan, sebuah tantangan yang berpotensi menyulut konflik.

Para pakar mengatakan bahwa kekurangan produksi akibat perubahan iklim kemungkinan akan mendorong naiknya harga berbagai produk sekitar enam persen pada tingkat global. Permintaan terhadap produk-produk makanan menjadi sebuah keniscayaan dan terus tumbuh. Saat ini penetapan harga makanan di dunia sangat ditentukan oleh perubahan iklim, sementara peran konsumen berada di posisi kedua.

Akibat kekurangan pasokan pangan, perusahaan-perusahaan makanan dan daging di dunia akan menderita kerugian sekitar 60 miliar dolar per tahun. Dalam hal ini, Doktor David Lobell dari Pusat Keamanan Pangan dan Lingkungan di Stanford University mengatakan, "Kita tidak akan berbicara tentang anugerah dari langit, kita ingin berbicara tentang kerusakan miliaran dolar produk makanan akibat perubahan iklim. Ketika kita sedang berjuang untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia, maka makanan sekecil apapun akan bernilai bagi kita. Tentu saja perubahan iklim akan menjadi faktor efektif dalam penetapan harga bahan makanan."

Doktor Lobell lebih lanjut menuturkan, "Dalam beberapa tahun, harga dari banyak produk makanan naik dua sampai tiga kali lipat di benua Asia karena beberapa faktor, seperti tingginya permintaan dan pengalihan produk pertanian ke bahan bakar hayati atau biofuel. Padahal dari satu sisi, negara-negara miskin dunia – yang memiliki populasi tinggi – sangat rentan terhadap kekurangan pangan dan dari sisi lain, pusat-pusat produsen dan distribusi pangan di dunia menghadapi kekurangan produksi secara akut."

Mengingat pentingnya perkara ini, FAO mengangkat tema peringatan Hari Pangan Sedunia Tahun 2016 adalah "Climate is Changing, Food Agriculture Must Too." Tema ini ingin memberi penekanan khusus tentang perubahan pola produksi pangan dan pertanian yang sejalan dengan perubahan iklim dan bergerak untuk memperkuat model pertanian berbasis iklim atau pintar.

Sejalan dengan ini, sejumlah pakar mengusulkan agar para petani memilih jenis produk yang tahan terhadap peningkatan suhu dan memiliki kinerja yang lebih baik. Solusi lain untuk mencegah kekeringan adalah menyediakan tangki air di lahan pertanian, memanfaatkan benih unggul, memperkaya jenis tanaman yang ditanam, dan melakukan penghijauan di daerah hulu.

Dunia modern berkesimpulan bahwa keamanan pangan bergantung pada bagaimana cara untuk mengatasi dampak perubahan iklim pada tingkat global. Para petani dapat mengatasi dampak itu dengan cara beralih ke pertanian organik serta memperbaiki tata kelola sumber-sumber alam seperti tanah dan air. Namun masih ada hambatan lain yang perlu ditangani seperti, keterbatasan lahan pertanian, kekurangan air, tingginya harga energi, berkurangnya investasi di bidang riset pertanian, dan bertambahnya makanan yang terbuang.

Harus diakui bahwa mengatasi krisis pangan dan mengejar pengembangan sumber-sumber alam dan manusia hanya mungkin dicapai dengan cara memberi perhatian kepada sektor pertanian sebagai lokomotif pembangunan yang berkelanjutan. Untuk tujuan ini, potensi sektor pertanian harus diidentifikasi dengan baik dan berjuang untuk mengatasi faktor-faktor yang menghambat pengembangan sektor pertanian.