Melek Lingkungan, Solusi Selamatkan Bumi
Pasca berakhirnya Perang Dunia Kedua, terjadi perluasan sektor industri di negara-negara dunia dan secara bertahap dampak-dampak negatifnya dalam bentuk pencemaran udara semakin tampak. Pencemaran udara di kota-kota seperti Los Angeles dan New York bahkan mencapai level kritis. Dampak-dampak negatif itu berlanjut, sehingga pada tahun 1969 terjadi bencana besar dan kebakaran akibat pembuangan sampah kimia berbahaya di sungai Cuyahoga, di Negara Bagian Ohio.
Bencana semacam itu mendorong John McConnell, putra seorang pengajar agama, pecinta ilmu pengetahuan dan perdamaian, pada tahun 1969 dalam sebuah seminar yang digelar UNESCO mencanangkan ide besar untuk memperingati hari lingkungan hidup bersih sedunia. Akhirnya pada tanggal 22 April 1970 disepakati untuk menetapkan hari lingkungan hidup bersih sedunia dan mendapat sambutan lebih dari 20 juta aktivis lingkungan hidup. 20 tahun kemudian tepatnya pada tahun 1990 masyarakat internasional secara resmi menamai hari itu sebagai Hari Bumi sehingga diharapkan di hari ini setiap negara melaksanakan program-program peningkatan kesadaran dan penghargaan terhadap lingkungan hidup.
Bumi adalah sebuah planet yang diperkirakan sudah berusia lima milyar tahun dan manusia berperadaban, baru meninggalinya sejak 200 ribu tahun lalu. Manusia berperadaban ini dalam 200 tahun terakhir berubah menjadi makhluk destruktif bagi bumi dan dengan cepat terus melakukan perusakan alam. Rasa tidak bersyukur ini muncul akibat pertumbuhan populasi penduduk dunia dan seiring dengan berubahnya mereka menjadi masyarakat industri. Industrialisasi dimulai sejak sekitar 200 tahun lalu dan di abad 20 mencapai puncaknya.
Kemajuan ini juga membawa dampak-dampak buruk bagi kelangsungan hidup bumi dan yang terpenting adalah pencemaran air, tanah dan udara, lebih dari itu perubahan iklim. Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca yang disebabkan penggunaan energi fosil, perubahan ekstrem dalam pemanfaatan bumi termasuk pemanfaatan hutan dan perubahan signifikan dalam pemanfaatan bumi akibat terjadinya pertumbuhan populasi penduduk, merupakan faktor-faktor terpenting munculnya kondisi ini.
Sejumlah riset menunjukkan, tingkat karbon dioksida yang ada di atmosfir bumi meningkat seiring dengan kemajuan industri yang terus terjadi dan berlanjutnya dampak-dampak negatif itu tidak akan tergantikan. Peningkatan kadar karbon dioksida menyebabkan suhu permukaan bumi meningkat dan perubahan iklim ekstrem yang membahayakan terjadi di muka bumi.
Perubahan iklim juga berdampak pada perubahan kondisi ekosistem. Organisasi Kesehatan Dunia, WHO mengatakan, perubahan semacam itu berkaitan erat dengan meningkatnya penyakit malaria, penyakit-penyakit yang berhubungan dengan air tidak bersih dan gizi buruk yang mengancam keselamatan masyarakat dunia.
Para pakar meyakini, konsentrasi karbon dioksida di atmosfir bumi meningkatkan suhu udara bumi secara umum sampai sekitar tujuh derajat celcius. Akan tetapi perubahan suhu udara ini di beberapa tempat bahkan mencapai 15 derajat celcius. Hal ini berakibat pada mencairnya lapisan es di kutub dan meningginya tingkat permukaan laut bebas. Ketika air laut semakin tinggi, sebagian besar masyarakat yang tinggal di pesisir pantai terpaksa meninggalkan rumah-rumah dan lahan pertanian mereka, yang kemudian dikenal sebagai "pengungsi lingkungan hidup".
Berdasarkan laporan-laporan yang ada, sekitar seperempat gas rumah kaca yang berkontribusi memanaskan suhu bumi diproduksi dengan cara-cara yang menyebabkan erosi tanah dan cara-cara tidak tepat lainnya. Manusia setiap tahunnya menyebabkan erosi lebih dari 12 juta hektar tanah subur yang luasnya bisa mencapai luas negara Benin dan Honduras.
Hilangnya produktivitas tanah di wilayah-wilayah itu memicu tumbuhnya kemiskinan, dan memaksa para petani di sana menemukan cara lain untuk bisa hidup di wilayah-wilayah yang lebih subur atau di kota-kota lain. Menurut perkiraan para ahli, dalam 20 tahun mendatang siklus ini masih akan terus berlangsung dan hampir 60 juta penduduk penghuni semi gurun Afrika juga terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka dan bermigrasi ke Afrika Utara atau Eropa.
Ancaman-ancaman semacam itu tidak berhenti disini. Perubahan iklim dan pemanfaatan tidak tepat dari bumi, khususnya lewat pertanian menyebabkan berkurangnya sumber air di seluruh wilayah dunia. Realitasnya adalah, sekarang cadangan air di permukaan bumi menghadapi ancaman serius. Lebih dari 40 persen negara dunia dengan berbagai alasan seperti pertumbuhan penduduk, harus berhadapan dengan perluasan sektor pertanian dan pengairan, pencemaran sumber air permukaan tanah dan bawah tanah dan pemenuhan kebutuhan industri.
Tingkat pencemaran beberapa sumber air dan proses peningkatannya di sejumlah lokasi di muka bumi sangat mengkhawatirkan. Air bawah tanah, sungai dan danau merupakan sumber air bersih terpenting yang berada di bawah ancaman langsung pencemaran akibat aktivitas-aktivitas manusia. Hari ini penyediaan air bersih bagi sejumlah negara telah berubah menjadi sebuah krisis serius.
Krisis-krisis yang mengancam kelangsungan hidup bumi mendorong lembaga-lembaga internasional dan organisasi kemasyarakatan untuk melakukan tindakan guna mengatasinya. Salah satu strategi yang sekarang diusulkan oleh kelompok-kelompok peduli lingkungan itu adalah peningkatan kesadaran akan lingkungan hidup atau melek lingkungan bagi masyarakat dunia. Dalam hal ini, PBB menetapkan slogan peringatan Hari Bumi tahun ini dengan "Environmental and Climate Literacy" atau kesadaran akan lingkungan hidup dan iklim sehingga dengan cara ini diharapkan kepedulian masyarakat dunia kepada faktor-faktor penyebab kehancuran bumi dan bagaimana menjaga bumi ini, akan semakin besar.
Melek lingkungan hidup berarti bahwa mengetahui dan sadar akan realitas dan kondisi lingkungan hidup di bumi dan masalah-masalah yang mempengaruhinya, terutama masalah terkait udara, iklim, tanah, makanan, energi, air dan ekosistem. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dengan melek lingkungan, seseorang secara individu maupun berkelompok, dapat mengambil keputusan-keputusan yang sadar terkait lingkungan hidup. Ia diharapkan siap melakukan langkah-langkah untuk kebaikan dan kesejahteraan orang lain, masyarakat dan lingkungan berdasarkan keputusan-keputusan tersebut, dan terlibat aktif di tengah masyarakat.
Menurut pendapat para ahli, peran masyarakat dalam masalah lingkungan hidup sangat besar. Pengalaman membuktikan bahwa di manapun masyarakat memainkan peran aktifnya, program-program perlindungan lingkungan hidup pasti sukses. Oleh karena itu, hari ini salah satu jalan untuk menyelamatkan bumi yang diusulkan sejumlah pihak adalah penyebarluasan melek lingkungan. Sebuah proses yang di dalamnya masyarakat berupaya mengenal lingkungan dan urgensi masing-masing faktor pembentuknya sehingga mampu mencegah kerusakan pada lingkungan. Sebuah metode yang dahulu kala juga marak digunakan oleh masyarakat tradisional dan saat itu mereka menjalin hubungan terbaik dan damai dengan alam. Hubungan yang benar dan ditekankan oleh agama-agama Tuhan.
Semua agama dan keyakinan di setiap penjuru dunia selalu mengajak manusia untuk mengikuti kebaikan dan tindakan-tindakan baik, dan salah satu perbuatan baik itu adalah menjaga dan melindungi alam. Sebagai contoh, di dalam agama Islam dan ajaran para pemukanya, hal ini juga ditekankan. Dalam ajaran Islam, menyuburkan tanah dan menggunakannya untuk tujuan yang benar, dianggap sebagai perbuatan baik.
Salah satu hadis dari Imam Ali as, menyinggung masalah menjaga lingkungan. Hadis itu menyebutkan, "Rasulullah Saw melarang Mukminin untuk menumpahkan racun bahkan di atas tanah orang Musyrik sekalipun." Di dalam surat Hud ayat 61 Allah Swt berfirman, " …..Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)".
Hari Bumi pada kenyataannya adalah pengingat atas pemikiran semacam ini. Sebuah hari yang mengingatkan kita untuk selalu menjaga bumi tempat kita hidup di atasnya. Sebuah kewajiban yang berada di pundak kita semua. Hari ini mengatakan kepada kita untuk minimal tidak merusak planet yang kita tinggali ini, karena untuk kehidupan yang lebih baik kita memerlukan bumi yang lebih baik.