Kasus Skripal, Titik Balik Hubungan Rusia-Barat
Hubungan Rusia-Barat semakin tegang seiring munculnya masalah baru yaitu percobaan pembunuhan terhadap agen mata-mata Rusia, Sergei Skripal dan putrinya, Yulia di Salisbury, Inggris pada 4 Maret 2018 lalu. Krisis hubungan Rusia dengan negara-negara Barat kali ini dianggap lebih buruk sejak perang dingin.
Sergei Skripal, pada proses pertukaran mata-mata antara Amerika Serikat dan Rusia di tahun 2010, meminta suaka politik ke Inggris dan menetap di negara itu. Dalam pertukaran mata-mata tersebut, Rusia menukar empat agen mata-matanya dengan 10 agen mata-mata Amerika. Skripal adalah mantan pegawai intelijen militer Rusia yang berperan sebagai agen ganda.
Pada bulan Desember 2004, ia ditahan oleh Layanan Keamanan Federal Rusia (FSB) dan kemudian diadili, dihukum karena pengkhianatan tinggi, dan dipenjara. Ia dituding membocorkan identitas mata-mata Rusia di Eropa kepada agen spionase Inggris, MI6. Inggris mengklaim, pada tubuh Skripal dan putrinya ditemukan racun saraf, Novichok, namun tim penyelidik Inggris tidak berhasil menemukan sumber racun tersebut.
Para peneliti senjata kimia Ingris gagal membuktikan bahwa racun saraf yang digunakan terhadap Skripal adalah buatan Uni Soviet di era 70-an. Meskipun demikian, London tetap menuduh Moskow sebagai dalang upaya pembunuhan tersebut.
Tuduhan keterlibatan langsung Rusia dalam percobaan pembunuhan terhadap Skripal oleh Inggris berubah menjadi dalih bagi Barat untuk menghukum Moskow terutama di bidang diplomasi dan olahraga. Para pemimpin Uni Eropa dalam pertemuannya di Brussels terang-terangan mengumumkan dukungan atas Inggris. Mereka mengatakan, kemungkinan besar Rusia bertanggung jawab atas percobaan pembunuhan dengan racun terhadap Sergei Skripal dan putrinya.
Perdana Menteri Inggris, Theresa May mengatakan, hari ini Rusia sudah dianggap sebagai ancaman, bukan hanya di Eropa tapi di Timur Tengah, bahkan di seluruh dunia. Saya meminta seluruh mitra di pertemuan ini untuk mengambil keputusan serius guna menghadapi ancaman Rusia.
Kepala Kebijakan Uni Eropa, Federica Mogherini menegaskan, cara terbaik untuk menghadapi ancaman Rusia adalah persatuan dan solidaritas seluruh anggota Uni Eropa.
Dengan demikian, konfrontasi Rusia-Inggris yang sejak lama memang sudah terjadi, sekarang memasuki fase yang sangat sensitif setelah Uni Eropa mengambil sikap yang sama untuk menghadapi Moskow terkait kasus Skripal. Pemerintah konservatif Inggris telah memposisikan hubungannya dengan Rusia pada jalan buntu yang nyaris tak punya peluang kembali.
Pemerintah Inggris kemudian melakukan sanksi diplomatik terhadap Rusia dengan mengusir 23 diplomat negara itu yang kemudian diikuti oleh sekutu-sekutu Inggris di Eropa dan Barat. Lebih dari 20 negara mengusir perwakilan diplomatik Rusia, dan jumlah diplomat Rusia yang diusir mencapai lebih dari 150 orang. Amerika mengusir 60 diplomat Rusia termasuk 48 staf kedutaan dan 12 anggota misi permanen Rusia untuk PBB.
Aksi pengusiran diplomat Rusia oleh Inggris, menjadikan Theresa May sebagai perdana menteri Inggris yang paling banyak mengusir diplomat sepanjang sejarah negara itu. Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson menyebut pengusiran diplomat Rusia sebagai titik balik hubungan Barat dengan Rusia dan pukulan telak terhadap dinas intelijen Rusia yang sebelumnya memiliki waktu cukup untuk memperbaiki diri.
Masalah yang lebih penting adalah saat salah seorang pejabat tinggi Inggris mengatakan, pemerintah London telah memberikan informasi yang berhasil dihimpun petugas rahasianya terkait kasus Skripal kepada sekutu-sekutu negara ini. Langkah tersebut dianggap telah membuka peluang pengusiran sejumlah banyak diplomat Rusia dari negara-negara Barat.
Sekalipun Rusia berulangkali meminta Inggris untuk menunjukkan bukti keterlibatan Moskow dalam kasus percobaan pembunuhan terhadap Skripal dan putrinya, namun London selalu menolak, sebaliknya melancarkan perang propaganda untuk mengelabui opini publik dunia. Inggris mengklaim sudah menyerahkan informasi rahasia kepada sekutu-sekutunya terkait keterlibatan langsung Rusia dalam kasus ini.
Banyak analis politik yang menilai klaim Inggris itu lebih merupakan dalih untuk menjatuhkan sanksi lebih besar dan multidimensi terhadap Rusia terutama untuk memboikot penyelenggaraan Piala Dunia 2018, ketimbang sisi kemanusiaan dan keamanan terkait penggunaan senjata kimia di sebuah negara Eropa. Inggris bersama enam negara lain yaitu Polandia, Islandia, Denmark, Swedia, Australia dan Jepang memboikot piala dunia Rusia.
Dalam pandangan Rusia, langkah koordinatif Barat menerapkan sanksi diplomatik terhadap Moskow, adalah upaya terukur dan terorganisir dengan maksud menekan Rusia dan mengucilkan negara ini di arena internasional. Sebagaimana dikatakan Juru bicara Kemenlu Rusia, Maria Zakharova, di balik langkah ini, ada orang-orang kuat Inggris dan Amerika. Ia percaya, NATO juga berada di balik langkah Uni Eropa dan berupaya mencoreng citra baik Rusia. NATO bahkan berusaha mengusir diplomat Rusia yang ada di organisasi itu.
Analis politik Rusia meyakini, kasus Skripal hanyalah alasan untuk memperluas kehadiran pasukan NATO dan meningkatkan sanksi terhadap Rusia. Menurut mereka, Amerika menganggap Eropa berada di garis terdepan dalam "perang gabungan" melawan Rusia. Di sisi lain, Moskow bersikeras bahwa London sampai sekarang tidak berhasil menunjukkan bukti keterlibatan pemerintah atau pejabat Rusia dalam kasus Skripal.
Salah seorang pakar kimia Rusia, Leonid Rink mengatakan, Rusia sama sekali tidak mendapatkan keuntungan apapun dari kasus Skripal, sementara di sisi lain, Rusia tidak mungkin melakukan langkah ini mengingat posisinya yang sensitif menjelang pemilu presiden dan penyelenggaraan piala dunia 2018.
Namun jangan dilupakan, Inggris yang terlibat konflik cukup sengit dengan Uni Eropa terkait Brexit dan gelombang protes atas langkah ini di dalam negeri, sekarang mendapat kesempatan berharga untuk menarik kembali dukungan negara-negara Eropa dan memulihkan hubungan dengan Amerika, lewat kasus Skripal ini.
Sementara itu, Rusia membalas sanksi diplomatik negara-negara Barat dengan memulangkan 60 diplomat Amerika dan menutup konsulat negara itu di St. Petersburg. Kemenlu Rusia kemudian memanggil duta besar negara-negara Eropa di Moskow dan pada Jumat (30/3/2018) mengumumkan, 59 diplomat dari 23 negara akan diusir.
Keputusan Moskow mengusir 41 diplomat negara Eropa sebagai balasan atas pengusiran diplomatnya. Moskow juga memerintahkan pengusiran 50 diplomat Inggris. Namun kenyataannya, langkah sebagian besar negara Eropa tidak diikuti beberapa negara Uni Eropa lainnya seperti Slovania, Yunani, Siprus dan Austria.
Hal ini menunjukkan perbedaan pendapat di antara negara Uni Eropa, terlebih sekutu-sekutu Uni Eropa seperti Turki dan Serbia, menolak mengusir diplomat Rusia dari negaranya. Kasus Skripal memang telah memperkuat posisi kubu anti-Rusia di Uni Eropa, namun beberapa negara Eropa lain juga mengumumkan penentangannya atas kebijakan menyerang Rusia. Sementara Rusia yang melakukan langkah tegas menarik diplomatnya dari negara Eropa menunjukkan kepada Barat bahwa pihaknya tidak akan mau tunduk, dan bertekad membalas langkah mereka.
Di tengah ketegangan politik dan diplomatik terbaru antara Rusia-Inggris, Amerika mencoba memanfaatkan situasi ini untuk semakin melemahkan posisi Rusia di arena internasional dan meningkatkan tekanan atas negara itu. Hal ini dianggap akan mempersulit pemulihan hubungan Rusia-Amerika.
Pengamat politik Rusia, Sergey Rogov meyakini bahwa hari ini, perang dingin baru antara Rusia dan Amerika tengah terjadi. Tapi meski terus ditekan oleh Amerika, selama ini Rusia terbukti tidak pernah tinggal diam dan selalu membalas serangan Amerika, salah satu contohnya adalah pengusiran 60 diplomat Amerika dan penutupan konsulat negara itu di St. Petersburg.
Krisis politik Rusia dan Barat saat ini memasuki fase sangat sensitif. Barat bermaksud meningkatkan tekanan politiknya terhadap Rusia pasca kemenangan Vladimir Putin dalam pemilu presiden negara itu, karena propaganda anti-Putin yang dilancarkan Barat sebelumnya dianggap tidak terlalu mendapat perhatian rakyat Rusia.
Ketegangan baru Rusia-Barat yang dipicu kasus pembunuhan Skripal dan putrinya dinilai menjadi awal pecahnya krisis Timur-Barat yang diprediksi sangat sulit untuk diselesaikan dan berdampak luas pada dimensi lain.