Sikapi Insiden Bucha, RI Dukung Investigasi Independen PBB
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i118560-sikapi_insiden_bucha_ri_dukung_investigasi_independen_pbb
Pemerintah Indonesia mendukung dilakukannya investigasi independen oleh PBB menyikapi insiden Bucha di Ukraina.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Apr 08, 2022 06:07 Asia/Jakarta
  • Sikapi Insiden Bucha, RI Dukung Investigasi Independen PBB

Pemerintah Indonesia mendukung dilakukannya investigasi independen oleh PBB menyikapi insiden Bucha di Ukraina.

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mendukung usulan investigasi independen Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyusul dugaan pembantaian di Bucha, Ukraina.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Teuku Faizasyah, dalam konferensi pers rutin pada Kamis (7/4) menanggapi pertanyaan wartawan soal sikap pemerintah mengenai dugaan pembunuhan warga sipil oleh pasukan Rusia di Bucha, dengan mengatakan, "Indonesia sangat mendukung upaya yang diluncurkan Sekjen PBB dan UNHCR untuk dibuat satu tim investigasi independen atas kabar terjadinya hal-hal di luar kewajaran dalam peperangan yang terjadi di Ukraina,".

Faizasyah menyesalkan tindakan tersebut terlepas siapa korban pembantaian itu, sipil maupun tentara. Ia menegaskan, Indonesia prihatin peristiwa berdarah di negara Eropa timur itu.

"Kami ingin menggarisbawahi bahwa tentunya Indonesia memiliki keprihatinan yang mendalam atas situasi kemanusiaan yang terjadi di Ukraina," kata Faiza.

Namun, Faizasyah tak memberikan pernyataan kecaman atau kutukan menyoal dugaan pembunuhan ratusan orang itu. Ia hanya menegaskan Indonesia mendukung penelitian atau kajian dari PBB untuk investigasi.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mendesak investigasi independen terkait ratusan orang yang tewas di Bucha.

"Saya betul-betul terkejut dengan foto-foto yang menunjukkan warga sipil terbunuh di Bucha, Ukraina. Penting untuk melakukan penyelidikan independen yang mengarah ke akuntabilitas efektif," ujar Guterres pada Minggu (3/4) dilansir AFP.

PBB menekankan pentingnya menggali dan mengidentifikasi semua mayat, mengingat kemungkinan kejahatan perang. Hal tersebut perlu ditempuh untuk mengetahui penyebab pasti kematian dan menunjukkan bukti yang sebenarnya.

Pernyataan itu muncul usai pejabat Ukraina melaporkan sedikitnya 300 jenazah yang penuh luka terkubur di kota Bucha. Foto dan video mayat-mayat itu juga tersebar di media sosial.

Wali Kota Bucha, Anatoliy Fedoruk, mengatakan tentara Rusia membunuh para warga. Sejumlah negara Barat juga melakukan tudingan serupa. Namun, Moskow membantah dan menyebut itu adalah propaganda.

 

 

Sementara itu, pihak Rusia membantah pasukannya melakukan kejahatan terhadap warga sipil Ukraina di Bucha. Seorang pejabat senior Duma Rusia menanggapi gambar-gambar yang dirilis dari kota Bucha di Ukraina dengan menyebutnya sebagai plot baru yang telah direncanakan sebelumnya terhadap Rusia.

Leonid Slutsky, Ketua Komite Urusan Internasional Duma Rusia Senin (4/4/2022) malam menyinggung penolakan Inggris, sebagai ketua Dewan Keamanan PBB saat ini untuk mengadakan pertemuan darurat guna membahas validitas gambar situasi kota Bucha yang dipublikasikan. Slutsky mengatakan, "Semua adegan ini diatur sebelumnya, sekaligus bukti nyata dari konspirasi yang telah direncanakan sebelumnya terhadap Rusia,".

"Rusia terus bersikeras mengadakan pertemuan darurat Dewan Keamanan dan memeriksa komite investigasi untuk mengungkap fakta tentang insiden Bucha," tegasnya.

Slutsky membandingkan tuduhan Barat tentang gambar-gambar jenazah di kota Bucha yang dipublikasikan dengan insiden serangan kimia para teroris di Suriah, tapi negara-negara Barat menghindari penyelidikan peristiwa Bucha.

Duta Besar Rusia untuk Amerika Serikat menanggapi tuduhan pembunuhan terhadap warga sipil Ukraina di kota Bucha. Menurutnya, AS sengaja menutupi realitas bahwa penembakan brutal ke kota ini dilakukan pasukan Ukraina.

Anatoly Antonov, Senin (4/4/2022) merespon tuduhan pembunuhan warga sipil Ukraina di Bucha, yang baru-baru ini dimuat majalah AS, Newsweek. Ia mengatakan, "Ketika kota Bucha, Ukraina masih berada di bawah kontrol pasukan Rusia, tidak pernah ada korban sipil seorang pun, tapi media AS menutup mata atas realitas penembakan brutal ke kota ini yang dilakukan pasukan Ukraina, setelah penarikan mundur pasukan Rusia." 

Antonov menambahkan, "Kementerian Pertahanan Rusia menolak tegas tuduhan ini, dan membantahnya. Saya ingin sampaikan, pasukan Rusia sudah meninggalkan Bucha, sejak 30 Maret 2022. Pejabat Ukraina setelah diam sekian lama, sekarang menayangkan video untuk merusak citra Rusia, dan memaksanya membela diri." 

"Selama Bucha dikontrol pasukan Rusia, tidak ada seorang pun warga sipil yang mengalami kekerasan. Sebaliknya, pasukan Rusia menyalurkan 452 ton bantuan kemanusiaan untuk warga sipil. Kenyataan bahwa pasukan Ukraina, melancarkan penembakan brutal di Bucha, segera setelah pasukan Rusia meninggalkan kota itu, secara sengaja diabaikan di AS," pungkasnya.(PH)