Menghormati Anak dalam Pesan Rasulullah Saw
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i12760-menghormati_anak_dalam_pesan_rasulullah_saw
Menghormati orang tua berkali-kali disebutkan dalam ajaran agama. Sedemikian penting menghormati kedua orang tua, mencintai dan memenuhi kebutuhan mereka, sehingga kewajiban ini disamakan dengan level kemusyrikan. Kewajiban ini tidak hanya berhenti ketika mereka masih hidup, tapi berlanjut hingga mereka meninggal dunia. Berbuat baik kepada kedua orang tua diwajibkan selama hayat dikandung badan.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Jun 23, 2016 19:58 Asia/Jakarta
  • Anak dan Ibu
    Anak dan Ibu

Menghormati orang tua berkali-kali disebutkan dalam ajaran agama. Sedemikian penting menghormati kedua orang tua, mencintai dan memenuhi kebutuhan mereka, sehingga kewajiban ini disamakan dengan level kemusyrikan. Kewajiban ini tidak hanya berhenti ketika mereka masih hidup, tapi berlanjut hingga mereka meninggal dunia. Berbuat baik kepada kedua orang tua diwajibkan selama hayat dikandung badan.

Pentingnya masalah menghormati kedua orang tua dan tidak menyakiti keduanya dapat ditelusuri dalam beberapa ayat al-Quran. Ibarat yang digunakan juga sedemikian detil. Selain itu, Nabi Muhammad Saw dalam pelbagai sabdanya menjelaskan masalah ini, ditambah ucapan para Imam as dan penafsiran para ahli tafsir. Dengan demikian, masalah penting ini benar-benar jelas dan tinggal bagaimana seorang muslim mengamalkannya.

Namun terkadang sedemikian besar perhatian umat Islam akan kewajiban menghormati kedua orang tua membuat seakan-akan kewajiban itu satu arah. Tidak banyak dijelaskan tentang kewajiban orang tua dalam menghormati anak dalam Islam. Apakah realitanya demikian?

Bila merujuk kepada sumber-sumber agama baik al-Quran, Hadis dan perbuatan Maksumin as, ternyata banyak pesan kepada manusia untuk menghormati anak-anak. Bahkan dalam banyak tempat, menghormati anak disejajarkan dengan kewajiban menghormati kedua orang tua.

Rasulullah Saw bersabda:

یَلزَمُ الوالِدَینِ مِن عُقوقِ الوَلَدِ ما یَلزَمُ الوَلَدَ لَهُما مِن العُقوق.

Sebagaimana anak tidak boleh bersikap durhaka kepada orang tua, orang tua juga harus menghormati anak. (Man La Yahdhurul Fakih, Syeikh Shaduq, jilid 3, hal 483, hadis 4705)

Atau di tempat lain disebutkan, Rasulullah Saw bersabda:

أكرِموا أولادَكُم و أحسِنوا آدابَهُم.

Hormatilah anak-anak kalian dan didiklah tata krama mereka dengan baik. (‘Awali al-Laali al-Aziziyah Fi al-Hadis ad-Diniyah, Mohammad bin Zainuddin, jilid 1, hal 254, hadis 11)

Filosofi menjaga kehormatan kedua orang tua sangat jelas. Ayah dan ibu adalah sumber keberadaan seseorang, itulah mengapa keduanya memiliki hak atas anak-anaknya. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apa sebab ditekankannya untuk menjaga kehormatan anak?

Mari kita renungkan bersaama. Perilaku anak sejatinya adalah cerminan perilaku kedua orang tuanya. Pendidikan yang benar menuntut orang tua memperlakukan anak-anaknya dengan baik. Bila anak sejak kecil tidak mendapatkan pernghormatan, maka dalam perilakunya juga akan melakukan hal yang sama. Ia tidak akan menghormati orang lain.

Anak-anak akan belajar dari lingkungan tempat ia tumbuh dan berkembang. Ia akan berperilaku sebagaimana ia diperlakukan. Mengingat anak-anak lebih banyak berinteraksi dengan kedua orang tuanya, hasilnya adalah mereka lebih banyak dipengaruhi oleh sikap dan perilaku ayah dan ibunya. Mungkin karena alasan inilah di dalam ajaran Islam ditekankan untuk menjaga kehormtaan anak-anak. Dan penekanan ini sampai pada batas bahwa pelarangan tidak menghormati anak-anak dan kedua orang tua dinilai sama. Sehingga sebagaimana terkait dengan kedua orang tua, anak-anak diwajibkan untuk menjaganya, kedua orang tua juga diwajibkan untuk menjaganya terkait dengan anak-anaknya.  

Anak yang baik dan sopan adalah hasil dari perilaku hormat ayah dan ibunya. Sekalipun menghormati anak-anak merupakan masalah penting dalam proses pendidikan mereka. Namun, pesan terkait menjaga kehormatan anak-anak jarang disebutkan dibanding dengan pesan terkait menjaga kehormatan kedua orang tua. Selain hadis-hadis yang banyak diriwayatkan terkait menjaga kehormatan kedua orang tua, sebagaimana sudah dijelaskan di atas, al-Quran juga menjelaskan secara spesial:

 وَ قَضى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِیَّاهُ وَ بِالْوالِدَیْنِ إِحْساناً إِمَّا یَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُما أَوْ كِلاهُما فَلا تَقُلْ لَهُما أُفٍّ وَ لا تَنْهَرْهُما وَ قُلْ لَهُما قَوْلاً كَریماً

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Isra: 23)

Jarangnya penekanan menjaga kehormatan anak-anak di banding dengan penekanan menghormati kedua orang tua, boleh jadi memberikan makna penting atau tidak pentingnya masalah urgen ini. Namun bila diperhatikan secara detil dalam hubungan sosial kita akan menemukan bahwa meski pesan-pesan seperti ini tidak banyak ditemukan dalam teks-teks agama, alasannya bukan karena tidak penting atau tidak begitu penting, tapi lebih dikarenakan masalah ini berakar dari model hubungan yang mendominasi di kalangan masyarakat. Biasanya yang tampak di kalangan kebanyakan keluarga adalah memuliakan anak-anak dan mencintai mereka.

Kedua orang tua senantiasa berusaha mendidik anak-anaknya dengan baik dan memenuhi segala keperluannya. Mencintai dan menyayangi anak-anak yang dilakukan oleh kedua orang tua merupakan perkara yang banyak terlihat di kalangan masyarakat. Masalah penting ini benar-benar dijaga oleh sebagian besar keluarga. Namun sebaliknya, menghormati dan memuliakan orang tua dan usaha memenuhi kebutuhan mereka malah jarang terjadi di kalangan keluarga dan anak-anak tidak begitu memerhatikannya. Mungkin hal inilah yang menjadi alasan mengapa di dalam teks-teks agama terkait menghormati kedua orang tua lebih banyak ditekankan daripada terkait menghormati anak-anak.

Berpisahnya seseorang dari kedua orang tuanya di usia dewasa dan memerhatikan tanggung jawab baru serta menyibukkan diri dengan aktivitas sehari-hari membuatnya tidak memerhatikan orang-orang yang pada suatu hari ia telah tumbuh besar di pangkuan mereka. Namun, mengingat agama sebagai penanggung jawab program kehidupan sehingga seseorang dengannya akan mendapatkan kebahagiaan duniawi maupun ukhrawi, penekanan yang dilakukan oleh para pemimpin agama membuat seseorang tidak sampai mengalami kelalaian dan perhatian pada mereka yang memiliki hak di pundaknya sebagai pokok dan dasar pekerjaannya. (Emi Nur Hayati)