Membaca Al-Quran; Pesan Doa Hari Kedua Puluh Bulan Ramadan
Di hari kedua puluh bulan Ramadan kita membaca: Allahummaftah Lii Fiihi Abwaabal Jinaan Wa Aghliq ?Anni Fiihi Abwaaban Niiraan Wa Waffiqni Fiihi Litilaawatil Quraan Yaa Munzilas Sakiinati Fii Quluubil Mu'miniina
Ya Allah...
Bukakanlah bagiku pintu-pintu surga. Tutupkanlah bagiku pintu-pintu neraka. Berikanlah kemampuan padaku untuk membaca al-Quran. Wahai Penurun ketenangan di dalam hati orang-orang mukmin.
Dalam doa hari kedua puluh bulan Ramadan ada empat tema penting; dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka, taufik membaca al-Quran dan ketenangan bagi hati Mukminin. Doa hari kedua puluh ini menekankan membaca al-Quran.
Akrab bersama al-Quran
1. Al-Quran sebagai pemimpin
Rasulullah Saw bersabda, "Hendaklah kalian senantiasa bersama al-Quran! Jadikanlah al-Quran sebagai pemimpin dan petunjuk kalian." (Kanz al-Ummal, hadis 4029)
2. Kelebihan Al-Quran
Rasulullah Saw bersabda, "Kelebihan al-Quran dibandingkan semua pembicaraan seperti kelebihan Allah atas makhluk-Nya." (Bihar al-Anwaw, jilid 92, hal 18)
Komprehensifitas al-Quran
Imam Ali as berkata, "Barangsiapa yang menginginkan ilmu orang-orang terdahulu dan akan datang, maka hendaknya ia belajar al-Quran, berpikir tentangnya dan teliti dalam membacanya." (Kanz al-Ummal, hadis 2454)
Indahnya ucapan al-Quran
Imam Ali as berkata, "Belajarlah akan Kitab Allah, karena ucapan paling indah ada pada al-Quran dan nasihat yang paling lugas. Berpikirlah tentang ayat-ayatnya, karena al-Quran menyemaikan hati manusia. Mintalah kesembuhan lewat cahayanya, karena al-Quran menyembuhkah hati manusia. Bacalah al-Quran dengan indah, karena kisah-kisah terbaik ada di dalamnya." (Tuhaf al-Uqul, hal 150)
Penebus dosa
Rasulullah Saw bersabda, "Hendaklah kalian membaca al-Quran. Karena membacanya dapat menjadi penebus dosa, tameng api neraka dan pelindung dari azab." (Bihar al-Anwar, jilid 92, hal 17)
Pembaca al-Quran yang tidak tahu pemimpinnya
Suatu malam Kumail bin Ziyad mengikuti langkah Imam Ali as yang sedang berjalan menuju rumahnya. Mereka melewati sebuah rumah yang terdengar suara bacaan al-Quran. Suara pembacanya begitu indah dan menyentuh hati. Kumail bin Ziyad begitu ingin sekali seperti orang itu. Ia mengucapkan selamat bagi orang tersebut di dalam hatinya.
Imam Ali as mengetahui apa yang sedang dirasakan oleh Kumail bin Ziyad dan tanpa bertanya beliau berkata, "Wahai Kumail! Jangan sampai engkau tertipu oleh bacaan al-Quran orang itu. Karena pembacanya akan dimasukkan ke dalam neraka. Betapa banyak pembaca al-Quran, tapi al-Quran sendiri melaknat mereka. Segera apa yang kukatakan ini akan menjadi kenyataan."
Beberapa waktu berlalu, hingga orang-orang Khawarij bangkit menentang Imam Ali as. Banyak dari mereka yang mati dalam perang itu. Pasca berakhirnya perang, Imam Ali as memanggil Kumail dan dengan pedangnya beliau menunjuk ke kepala seorang dari Khawarij. Beliau kemudian berkata, "Ini adalah kepala orang yang bacaan al-Qurannya sangat indah dan engkau ingin seperti dia."
Kumail yang kembali mendapatkan kebenaran Imam Ali as sebagai pemimpinnya, langsung mengambil tangan Imam dan menciumnya serta membaca istighfar atas apa yang pernah dipikirkannya. (Ushul Kafi, jilid 2, hal 606) (Saleh Lapadi)