Mengenal Satelit Satria-1, Apa Manfaatnya bagi Indonesia?
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i148104-mengenal_satelit_satria_1_apa_manfaatnya_bagi_indonesia
Pemerintah Indonesia meluncurkan Satelit Republik Indonesia (Satria)-1 di Cape Canaveral Space Force Station, Orlando, Florida Amerika Serikat pada Minggu (18/6/2023) pukul 18.21 waktu Amerika, atau Senin (19/6/2023) 05.21 WIB.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Jun 21, 2023 10:38 Asia/Jakarta
  • satelit Satria-1
    satelit Satria-1

Pemerintah Indonesia meluncurkan Satelit Republik Indonesia (Satria)-1 di Cape Canaveral Space Force Station, Orlando, Florida Amerika Serikat pada Minggu (18/6/2023) pukul 18.21 waktu Amerika, atau Senin (19/6/2023) 05.21 WIB.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama (Dirut) Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kemenkominfo Arief Tri Hardiyanto mengungkapkan, Satria-1 kemudian akan bergerak menempati orbit 146 derajat Bujur Timur (BT) di langit Papua.
 
"Semoga seluruh tahapan berjalan lancar hingga nanti bisa menempati orbit pada bulan November 2023,” ujarnya, dilansir dari Kompas.com, Senin (19/6/2023).
 
Keberhasilan peluncuran satelit tersebut sekaligus mencetak sejarah sebagai satelit multifungsi pertama milik Indonesia dengan kapasitas terbesar di Asia. Lalu, seperti apa satelit Satria-1 dan fungsinya bagi Indonesia?
 
Mengenal SATRIA-1
 
Satelit Republik Indonesia-1 atau akrab disebut Satria-1 merupakan satelit internet pertama yang dimiliki oleh Indonesia. Dilansir dari laman Kominfo, Indonesia hingga 2018 memiliki lima satelit operasional untuk melayani kebutuhan telekomunikasi dan penyiaran.
 
Satelit tersebut yaitu INDOSTAR-2 yang dioperasikan PT Media Citra Indostar, satelit PALAPA D oleh PT Indosat, satelit TELKOM 3S yang dioperasikan PT Telekomunikasi Indonesia, satelit PSN VR-2 yang dioperasikan PT Pasifik Satelit Nusantara, serta satelit BRIsat oleh PT Bank Rakyat Indonesia.
 
Proyek Satria-1 mulai dicanangkan sejak 2019 berkat kerja sama antara PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) dengan Bakti Kominfo. Adapun nilai konstruksi satelit Satria-1 sebesar 550 juta dollar AS atau setara Rp 8 triliun.
 
Dikutip dari Kontan, PSN membangun satelit ini bekerja sama dengan The North West China Research Institute of Electronic Equipment (NWIEE), perusahaan peneliti dan pengembang antena asal China. Satria-1 diproduksi oleh perusahaan manufaktur antariksa Perancis, Thales Alenia Space (TAS) sejak September 2020 hingga Mei 2023.
 
Satria-1 memiliki total kapasitas transmisi 150 Gbps yang akan mengirimkan sinyal kepada 11 stasiun bumi (gateway). Stasiun tersebut berada di Cikarang, Banjarmasin, Batam, Pontianak, Tarakan, Manado, Kupang, Ambon, Manokwari, Timika, dan Jayapura. Anak perusahaan PSN, PT Satelit Nusantara Tiga berkewajiban mengoperasikan satelit berbobot 4,6 ton dan tinggi 6,5 meter ini selama 15 tahun. Satria-1 diluncurkan menggunakan roket Falcon 9 milik Space Exploration Technologies Corporation (SpaceX).
 
Pecahkah rekor 
 
Direktur Utama PSN Adi Rahman Adiwoso mengatakan bahwa Satria-1 merupakan satelit berkapasitas terbesar di Asia dan nomor lima di dunia. “Peluncuran Satelit Satria akan menjadi pencapaian yang luar biasa bagi Indonesia karena ini merupakan satelit multifungsi terbesar di Asia dan nomor lima di dunia. Kesiapan infrastruktur ground segment merupakan elemen penting dalam mendukung kesuksesan peluncuran Satria,” kata Adi.
 
Dengan mentransmisikan internet 150 Gbps, satelit ini memiliki kapasitas lebih besar dari satelit lain yang aktif dipakai Indonesia. Satria-1 juga menjadi satelit pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi Very High-Throughput Satellite (VHTS) dan frekuensi Ka-Band. 
 
Hal tersebut membuat satelit ini mampu memberikan layanan internet yang lebih baik. Satelit ini diperkuat dengan 116 Spot Beam yang membuat layanan internet dapat menjangkau wilayah lebih luas.
 
Manfaat bagi Indonesia Plt Menteri Komunikasi dan Informatika Mahfud MD menjelaskan bahwa kehadiran Satria-1 memberikan kemudahan akses internet bagi masyarakat Indonesia.
 
"Satelit pertama Indonesia ini bertujuan untuk mendistribusikan akses internet secara merata, terutama untuk keperluan pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, kemasyarakatan, serta TNI dan Polri," jelasnya, dikutip dari Antara.
 
Satelit tersebut akan menyediakan akses internet untuk 30-50 ribu fasilitas umum di Indonesia. Selain itu, kehadiran Satria-1 akan memberikan layanan internet yang cepat bagi daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
 
Berkat satelit ini, kecepatan internet di setiap fasilitas publik yang dilayani akan mencapai empat Mbps atau meningkat dari sebelumnya hanya satu Mbps. Selain Satria-1, pemerintah Indonesia berencana meluncurkan Hot Backup Satellite (HBS) pada kuartal ketiga pada 2023. (Kompas.com)