Cara Sederhana Melatih Kesabaran Diri
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i16456-cara_sederhana_melatih_kesabaran_diri
Reaksi apa yang harus kita tampakkan saat kehilangan orang-orang yang kita cintai dan musibah serta berbagai kesulitan hidup yang kita hadapi? Terkadang kata-kata yang pertama kali kita ucapkan adalah “Mengapa aku? Memangnya apa dosaku di sisi Tuhan sehingga aku berhak mendapatkan musibah semacam ini?”
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Aug 02, 2016 05:57 Asia/Jakarta
  • Sabar
    Sabar

Reaksi apa yang harus kita tampakkan saat kehilangan orang-orang yang kita cintai dan musibah serta berbagai kesulitan hidup yang kita hadapi? Terkadang kata-kata yang pertama kali kita ucapkan adalah “Mengapa aku? Memangnya apa dosaku di sisi Tuhan sehingga aku berhak mendapatkan musibah semacam ini?”

Banyak hadis yang meriwayatkan tentang kesabaran Imam Ali as. Beliau adalah teladan kesabaran. Kesabaran ini tampak di saat detik-detik meninggalnya Rasulullah Saw dimana beliau adalah jiwanya Ali. Setelah itu selama dua puluh lima tahun diam dan bersabar kemudian kondisi perang yang diwujudkan untuk beliau di masa kekhalifahannya. Sebelum bertindak, beliau bersabar sampai pada batas jangan sampai merugikan kaum Muslimin dan memberikan kesempatan lawannya untuk kembali.

 

Dalam sebuah ucapannya, Imam Ali berkata:

 

الصّبر امّا صَبْر على المُصیبة او على الطّاعة او عن المعصیة و هذا القسم الثالث اعلى درجةً مِنَ القسمین الاولین

 

Sabar, adakalanya sabar dalam menghadapi musibah, atau sabar dalam ketaatan dan sabar dalam menghadapi kemaksiatan. Sedangkan bagian ketiga merupakan bagian yang lebih tinggi derajatnya dari dua bagian yang pertama.” (Kafi, jilid 2, hal 91, hadis 15)

 

 

Sabar dan Berpikir

 

Ketika bersabar, seseorang bisa berpikir lebih baik. Terkadang kehidupan ini seperti medan perang. Anda merasa harus secepatnya menyerang. Karena bila itu tidak dilakukan, maka anda yang akan diserang. Namun kenyataan hidup ini lebih membutuhkan kesabaran untuk memenej dan berpikir lebih baik bukan perang. Sebaliknya, kehidupan kita ini penuh dengan sikap tergesa-gesa, cepat mengambil keputusan, cepat menghukumi dan menilai, cepat mengabaikan dan meninggalkan, cepat marah...

 

Kesimpulannya, kehidupan kita lebih mendekati tebing kekalahan dibanding dengan sambutan terbuka kemenangan. Dan alasannya adalah ketidaksabaran dan hasilnya adalah tidak adanya menejemen dan pemikiran. sebagaimana Imam Ali as mengisyaratkan, “Orang yang sabar tidak akan kehilangan kemenangan meskipun waktunya lama.” (Hikmah 153) “Kesabaran adalah penutup mulut orang-orang yang tidak berakal.” (Hikmah 211)

 

Tahukah Anda tentang ucapan Imam Ali yang mengandung rasa pedih di buku Nahjul Balaghah, khutbah Syiqsyiqiyah (khutbah 3)?

 

“Aku berpikir, apakah aku harus menyerang sendirian? Ataukah aku harus bersabar atas gelapnya keburukan ini?...aku menyaksikan bahwa bersabar dalam hal ini lebih masuk akal. Untuk itu aku bersabar, sementara seakan-akan ada duri di mataku dan tulang di tenggorokanku...selama ini dan dalam kesedihan yang mendalam ini aku telah bersabar...”

 

Ini terkait pada masa ketika kepemimpinan direbut darinya. Kepemimpinan yang hanya layak baginya dan menjadi hak kaum Muslimin. Namun karena kesabaran dan kebijakan yang dilakukannya, beliau telah menyelamatkan Islam dari kehancuran.

Namun, apakah kita yang menjadi pengikuntnya, sudahkah kita bersabar di hadapan sikap-sikap orang-orang yang ada di sekeliling kita? Sudah berapa kalikah kita merelakan hak kita demi menghidupkan hak orang lain? Sudah berapa kalikah kita memperlakukan orang lain dengan akrab dan rasional meski kita dalam kondisi sangat sedih?

 

Dalam peristiwa perang Jamal, Imam Ali berkali-kali memenej kejadian itu dengan penuh kesabaran dan pada akhirnya beliau mencapi kemenangan. Pada mulanya Thalhah dan Zubair meminta izin untuk keluar dari Madinah dengan alasan akan melaksanakan ibadah haji, namun Imam Ali tetap bersabar dan tidak melakukan penilaian meski tahu apa niat buruk mereka. Sampai ketika mereka sendiri yang menampakkan niat buruknya.

 

Mengingat kemaksuman dan pengetahuan yang dimilikinya tentang pemikiran yang ada di benak para pemuka perang Jamal, Imam Ali tidak melakukan penilaian. Karena ingin mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak punya hak untuk menilai apa yang ada dalam batin orang lain. Bahkan sebaiknya kita bersabar di hadapan sikap-sikap yang tidak kita ketahui dari orang lain, dan memenej dengan baik kondisi yang sedang kita hadapi. Sayangnya dalam kehidupan sehari-hari yang kita saksikan adalah tidak adanya kesabaran orang-orang dalam menghadapi sikap orang lain dan yang paling merebak adalah sikap cepat menilai dan menghukumi dan mayoritas salah. Padahal berkali-kali sudah terbukti bahwa penilaian yang kita lakukan terhadap niat dan sikap orang yang ada di sekeliling kita adalah salah, namun mengapa untuk kali berikutnya lebih memaksa diri dan lebih percaya diri untuk melakukan penilaian terhadap orang lain dari sebelumnya?

 

Ingat, sebagai pengikut Imam Ali hendaknya harus lebih bersabar dalam menghadapi perilaku orang-orang sekitar dan tidak cepat melakukan penilaian.  

 

Bersabar Dalam Menghadapi Musibah

 

Imam Ali as bersabar dalam menghadapi segala musibah yang menimpa dirinya. Beliau juga menganjurkan orang lain untuk bersabar. Kesabaran beliau dalam menghadapi musibah besar wafatnya Rasulullah Saw dan wafatnya Sayidah Fathimah benar-benar ajaib. Tentunya kesedihan adalah akibat dari kehilangan orang-orang tercinta, hanya saja kesedihan ini jangan sampai membuat kehidupan utama terbengkalai dan menguasai manusia. Tapi dengan kesabaran dan ridha akan takdir ilahi, kehidupan baru ini harus dimenej dengan baik dengan harapan mendapatkan pertolongan ilahi. Karena “Kesabaran akan diberikan sesuai dengan musibah yang menimpa, dan orang yang mengeluh ketika mendapatkan musibah karena rasa tidak bersyukur, maka pahalanya akan hilang.” (Hikmah 144)

 

Imam Ali as telah menganjurkan para pengikutnya untuk bersabar dalam menghadapi musibah. Antara lain ketika Asy’ats bin Qais mendapati anaknya meninggal dunia, Imam Ali menenangkan hatinya dan kepadanya berkata:

 

“Hai Asy’ats, bila engkau bersedih karena kehilangan anakmu, tentunya engkau berhak untuk bersedih karena itu adalah sebuah keharusan hubungan kekeluargaan. Tapi bila engkau bersabar, maka Allah akan mengganti setiap musibah yang ada.

 

Hai Asy’ats, bila engkau mau bersabar, maka qadha dan qadar ilahi telah berlaku, dan engkau akan mendapatkan pahala dan bila engkau tidak bersabar maka engkau telah berbuat dosa.

 

Hai Asy’ats, kedatangan anakmu telah menyenangkanmu, meski sebagai sumber ujian dan kesulitan dan kepergiannya menjadikanmu sedih meski sebagai sumber pahala dan rahmat (bagimu bila mau bersabar).” (Hikmah 291)

 

Bagaimana dengan diri kita sendiri ketika kehilangan orang-orang yang kita cintai? Terkadang kata-kata pertama yang kita ucapkan adalah “Mengapa aku? Memangnya apa dosaku di sisi Tuhan sehingga aku berhak mendapatkan musibah semacam ini? Padahal kita lupa bahwa kematian secara alami adalah bagian dari kehidupan manusia. Sebagaimana suatu hari kita lahir ke dunia, suatu hari juga kita akan meninggalkan dunia. Tidak ada seorangpun yang lebih mulia di sisi Allah selain Rasulullah dan para penggantinya yang benar. Mereka meninggal dunia dan berduka tanpa berbuat sedikitpun dosa sehingga berhak juga mendapatkan musibah.

 

Sabar Dalam Ketaatan

 

Adapun sabar dalam ketaatan dan penghambaan kepada Allah, merupakan sesuatu yang jarang tampak dalam kehidupan. Yang gampang adalah menyerupai umum dan yang sulit adalah menaati Allah yang tak kelihatan. Tentunya menaati Allah senantiasa sulit dan akan sulit. Dari kecil menaati ayah dan ibu bagi kita juga sulit. Mereka senantiasa memerintahkan kita pada sesuatu yang kita tidak suka mengerjakannya dan melarang kita dari sesuatu yang kita senang tenggelam di dalamnya.

 

Contohnya sangat banyak dan kondisi kita untuk menaati sama, yaitu sulit. Namun menaati perintah ayah dan ibu yang penuh kasih sayang, sementara tidak sampai seperti kasih sayang Tuhan, mengetahui namun tidak seperti pengetahuan Tuhan, mampu namun tidak seperti kemampuan Tuhan, membuat kondisi kita membaik paling tidak dari sisi duniawi. Lalu mendengarkan dan menaati perintah Tuhan, bersabar dalam sulitnya menaati Tuhan, pasti dan pasti akan menyebabkan kemajuan dan ketinggian kita secara hakiki, insyaallah. Terkait masalah ini Imam Ali berkata, “Dengan bersabar dalam ketaatan, sempurnakanlah nikmat-nikmat Tuhan untuk dirimu dan jangan sampai melanggarnya. (Khutbah 188)

 

Satu cara yang baik

 

Alangkah baiknya bila di antara ucapan Imam Ali kita cari jalan keluarnya. Beliau mengatakan, “Bila engkau bukan penyabar, maka pura-puralah jadi penyabar. Karena sedikit saja orang yang menyamakan diri pada sebuah golongan, dan tidak cepat menjadi salah satu dari bagian mereka.” (Hikmah 207)

 

Untuk itu, sebaiknya kita menyamakan diri pada orang-orang yang sabar daripada menyamakan diri pada dunia umumnya. Agar dunia yang penuh dengan kesengsaraan dan kesenangannya telah berbalut dengan ketidaksenangan bagi kita menjadi tempat yang agak tenang.

 

Kita akhiri pembahasan ini dengan doa dan ucapan Imam Ali as

 

أخذ الله بقلوبنا و قلوبكم الى الحق، و ألهمنا و ایاكم الصبر

 

Semoga Allah menghadapkan hati kami dan hati kalian kepada kebenaran dan memberikan kesabaran kepada kami dan kalian. (Khutbah 173) (Emi Nur Hayati)