Mafatih Al-Hayat: Manusia Berinteraksi dengan Dirinya
-
Manusia
Ajaran-ajaran agama, selain mengajak manusia menghambakan dirinya kepada Allah juga menganjurkan manusia agar memakmurkan bumi.
Allah Swt berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”[1] Di bagian lain Allah berfirman, “Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya.”[2]
Bila kedua ayat ini dikaji bersamaan, maka dapat disimpulkan bahwa Allah menciptakan manusia dengan tujuan memakmurkan dunia dan menghamba kepada-Nya serta memiliki mekanisme bagi keduanya. Sebagaimana Allah mengajarkan jalan penghambaan kepada manusia, mekanisme untuk memakmurkan dunia juga diajarkan lewat akal dan naqal. Ilmu ini merupakan pemberian ilahi yang memiliki tujuan ilahi.
Memakmurkan dunia dengan berinteraksi dengan sesama manusia di segala bidang, dengan negara Islam, hewan, lingkungan hidup dan melestarikan sumber-sumber kehidupan di dalamnya. Segala urusan seperti bekerja, berusaha, kesehatan, layanan umum, membangun pusat-pusat keilmuwan, ibadah, pabrik, tanah pertanian dengan pengairan yang sesuai termasuk yang harus dilakukan. Kemakmuran ini harus dilakukan sedemikian rupa sehingga bumi dan fasilitas kehidupan ini dapat mengantarkan manusia kepada kesempurnaan dan menghiasi hubungan manusia dengan Tuhan. Di seluruh dunia dapat disaksikan simbol-simbol hubungan dengan Tuhan. Setiap orang dapat merasakan tengah menyaksikan Allah dan tanda-tanda ciptaan-Nya. Dalam kondisi yang demikian, memandang seluruh alam sama dengan menyaksikan tanda-tanda ilahi. Bumi bukan sesuatu yang terpisah dari Mabda (awal penciptaan) dan Ma’ad (Hari Kiamat).
Poin penting yang perlu tekankan di awal buku dikarenakan hubungannya dengan riwayat-riwayat buku ini adalah perbedaan pahala dan siksa di dunia dan akhirat. Di sebagian riwayat pahala dan siksa perbuatan di akhirat dijelaskan sedemikian rupa sehingga sebagian masyarakat tidak dapat memahaminya. Sebagai contoh, terkait dengan siksa disebutkan satu dirham yang dihasilkan dari riba sama hukumnya dengan berperang melawan Allah[3] dan bakal mendapat siksa yang luar biasa. Sementara terkait pahala disebutkan bila seseorang melakukan salat berjamaah, dimana jumlah makmum lebih dari 10 orang, maka pahalanya tidak dapat ditulis dari seluruh air laut yang menjadi tinta dan seluruh manusia dan jin menuliskannya, sekalipun hanya satu rakaat. Atau di sebagian hadis disebutkan bila seseorang mengelus kepala seorang anak yatim, maka Allah akan memberikan pahala istana seluas dunia dan akhirat dari setiap rambut yang dielus.
Masalah seperti ini tidak dapat dipahami oleh kebanyakan orang. Karena untuk memahaminya diperlukan sejumlah pengantar. Berdasarkan prinsip-prinsip akidah, perhitungan pahala dan siksa akhirat tidak dapat dibandingkan dengan parameter dunia. Karena akhirat itu abadi, sedangkan dunia bersifat sementara. Produk-produk akhirat juga berbeda dengan produk dunia. Seluruh jin dan manusia yang dikumpulkan bersama tidak akan mampu menuliskan keagungan dan kelebihan buah di akhirat. Karena tidak seperti buah di dunia, sehingga dapat dihitung, tapi dikarenakan keabadiannya, maka ia bisa segalanya. Buah akhirat dapat menghilangkan dahaga, sekaligus rasa lapar.
Sekaitan dengan siksa, bila disebutkan satu dirham yang dihasilkan dari perbuatan riba sama dengan perbuatan tertentu atau di akhirat sebuah tamparan yang dilakukan terhadap para pelaku riba akan membuatnya berada dalam siksa selama ribuan tahun, dikarenakan untuk satu dirham riba ia mendapat satu tamparan akhirat, tamparan itu bukan seperti di dunia, sehingga dua jam atau dua hari akan hilang. Tamparan itu abadi dan segala sesuatu mungkin darinya.
Ada yang bertanya kepada Imam Ridha as, “Terkait pohon larangan, mana riwayat yang benar? Apakah Nabi Adam as memakan kurma, anggur atau gandum?”
Beliau menjawab, “Semuanya benar.”
Ditanyakan lagi, “Mengapa demikian?”
“Pohon surgawi atau batangnya tidak seperti pohon dunia atau batangnya,” tutur Imam Ridha as.[4] Sehingga gugusan gandum tidak menghasilkan beras, tapi buah surgawi akan memberikan hasil dengan sesuai dengan kehendak manusia yang berada di surga.
Aminul Islam Tabarsi di akhir ayat “yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya”[5] mengatakan, “Manusia saat memilih rumah duniawi selalu mengikuti sumber air. Di mana ada sumber air, manusia akan memilih tempat dekat situ untuk membangun rumah. Tapi di akhirat, sumber air mengikuti manusia. “yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya”. Mereka menggaris dengan tangan, dari sana mata air bersumber.[6] Bila ukuran akhirat seperti ini, maka tidak ada kesamaan perhitungan akhirat dengan kondisi alami yang terjadi di dunia. Dengan penjelasan ini, tidak dapat dikatakan bahwa riwayat-riwayat yang disebutkan seperti sebelumnya tidak sahih. Karena aslinya adalah benar dan kita berkewajiban untuk menguatkan fondasi akidah. Karena tanpa fondasi akidah yang benar, manusia tidak mampu memahami masalah ini.
Sebagian cendikiawan mempertanyakan dan memrotes terkait apa yang dituliskan dalam buku Mafatih al-Jinan atau riwayat-riwayat seperti mengapa amal tertentu memiliki pahala ribuan atau perbuatan ini sama seperti membebaskan ribuan budak. Hal itu dikarenakan prinsip-prinsip akidahnya belum jelas. Jawabannya seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa perhitungan akhirat tidak dapat dibandingkan dengan perhitungan dunia. Sama seperti tema-tema akhirat tidak dapat dipahami dengan perhitungan duniawi dan selagi di dunia. Orang-orang berakal dapat memahami perbedaan parameter dan hanya membandingkan dengan parameter masing-masing. Oleh karenanya, mereka menghitung pahala dan siksa ukhrawi sesuai dengan parameter akhirat.
Bagaimanpun juga, bagian ini dan yang lain dari buku ini akan memberikan solusi yang dapat menyempurnakan kehidupan manusia yang bertujuan memakmurkan dunia. (Saleh Lapadi)
Sumber: Mafatih Al-Hayat, Ayatullah Javadi Amoli, Markaz Nashr Esra, 1391 HS, cetakan 7.
[1] . QS. Adz-Dzariyat: 56
[2] . QS. Hud: 61
[3] . QS. Al-Baqarah: 279.
[4] . ‘Uyun Akhbar ar-Ridha as, jilid 1, hal 306.
[5] . QS. Al-Insan: 6
[6] . Majma’ al-Bayan, jilid 10, hal 617.