Adab Bepergian (Bagian 1)
-
Pemandangan indah
Agama Islam memiliki tuntunan untuk segala perilaku seorang muslim. Melaksanakan perintah tersebut menjadi solusi dari banyak masalah dan mencegah terjadinya kesulitan.
Bepergian, pindah, berwisata dan berhijrah merupakan satu hal yang pasti terjadi bagi setiap orang dan berbeda pada intensitasnya saja. Semua ini sangat berpengaruh pada semangat dan kejiwaan manusia. Sebagai seorang muslim, kita justru diperintah oleh para nabi dan pemimpin agama kita untuk menjadikan bepergian sebagai cara untuk menguji manusia dan menjadikannya semakin dewasa. Yang patut dicermati, Islam tidak hanya terbatas pada perintah untuk bepergian secara lahiriah saja, tapi juga bepergian atau safar batiniah.
Namun pada kesempatan ini hanya akan dijelaskan mengenai adab dan tata krama bepergian sesuai yang disebutkan dalam ajaran Islam.
Nasihat Luqman al-Hakim kepada anaknya
Hammad bin Isa menukil dari Imam Shadiq as menyebut sejumlah nasihat Luqman al-Hakim kepada anaknya sebagai berikut:
Anakku!
Karena engkau melakukan perjalanan dengan sekelompok orang dan hendak melakukan satu pekerjaan, maka hendaklah engkau bermusyawarah dengan mereka yang bersamamu. Jangan egois. Bersikap ramah dengan mereka yang bersamamu. Hormati mereka dan bersikap dermawan. Ajak mereka menikmati apa yang engkau bawa. Datangi mereka bila mengundangmu dan bila mereka meminta pertolonganmu, maka segera membantu mereka.
Anakku!
Usahakan engkau mampu menguasai tiga hal ini saat melakukan perjalanan; Tinggalkan ucapan yang tidak ada gunanya dan lebih memilih diam. Ingat Tuhan dan lakukan shalat lebih banyak. Berikan harta, tumpangan dan bekalmu kepada mereka sebagai bentuk kedermawananmu.
Anakku!
Setiap ajaran ketika dalam perjalanan menuntutmu agar memberikan kesaksian yang benar. Oleh karenanya berikan kesaksian yang benar. Ketika diminta bermusyawarah, sampaikan pendapatmu dengan gamblang dan tegas. Hendaknya engkau mengikuti teman-temanmu yang memberikan sedekah. Hormati anak-anak dan orng tua serta tuntunlah mereka.
Berhati-hatilah dalam perjalanan dan lewati jalan dengan penuh kewaspadaan. Bila di padang pasir engkau tidak mampu menentukan arah yang benar, mintalah pendapat orang lain. Tapi jangan minta pendapat pada seseorang yang melintasi jalur itu sendirian. Karena mungkin saja ia punya niat buruk dan justru membuatmu tersesat.
Anakku!
Saat dalam perjalanan, jangan sampai engkau disibukkan dengan urusan dunia yang membuatmu lupa akan salat. Tunaikan salat dengan berjamaah dan mengakrabi firman Allah (al-Quran).[1]
Hadis Imam Baqir as
Seorang sahabat Imam Muhammad Baqir as menemui beliau dan meminta petunjuk karena ingin bepergian.
Imam Baqir berkata:
“Ketika engkau telah berada di perjalanan, sementara ketakutan menghantuimu, maka jangan lanjutkan perjalananmu. Jangan turun dari kendaraanmu tanpa memakai sepatu. Jangan kencing di lobang-lobang. Ketika engkau tiba di lembah atau taman, jangan membau atau memakan tumbuh-tumbuhan yang tidak engkau kenal. Jangan makan dari bejana yang engkau tidak tahu apa isinya dan jangan bepergian dengan orang-orang yang tidak engkau kenal.”[2] (Saleh Lapadi)
Sumber: Ayin Safar; Qommi, Sayed Asgar Nazemzadeh, Bostan Ketab, cet 3, 1386 HS.
[1] . Wasail as-Syiah, jilid 8, hal 323. Bihar al-Anwar, jilid 76, hal 270.
[2] . Bihar al-Anwar, jilid 78, hal 189.