Aktualisasi Keteladanan Nabi
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i27868-aktualisasi_keteladanan_nabi
Nabi Muhammad Saw adalah manusia pilihan yang “dilantik” Allah Swt menjadi rasul-Nya untuk menjadi teladan terbaik (role model) bagi kehidupan manusia. Dalam memaknai maulid (hari kelahiran) beliau, yang terpenting bukan upacaranya karena itu hanya “bungkus” belaka, melainkan spirit dan substansi pencerahan moral, mental, dan spiritual beliau sebagai pemimpin teladan sepanjang masa.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Des 10, 2016 07:53 Asia/Jakarta
  • Aktualisasi Keteladanan Nabi

Nabi Muhammad Saw adalah manusia pilihan yang “dilantik” Allah Swt menjadi rasul-Nya untuk menjadi teladan terbaik (role model) bagi kehidupan manusia. Dalam memaknai maulid (hari kelahiran) beliau, yang terpenting bukan upacaranya karena itu hanya “bungkus” belaka, melainkan spirit dan substansi pencerahan moral, mental, dan spiritual beliau sebagai pemimpin teladan sepanjang masa.

Memperingati maulid Nabi juga bukan untuk mengultuskan beliau, karena pengultusan itu dilarang, melainkan menumbuhkan rasa cinta kepadanya dalam rangka meneguhkan spirit dan komitmen spiritual. Dengan cinta Nabi, umat Islam memiliki apresiasi tinggi untuk selalu meneladani dan memperjuangkan visi dan misi profetiknya, yaitu membumikan Islam rahmatan lil rahmatan lil alamin (Islam sebagai rahmat bagi semesta raya).

Agenda utama kenabiannya adalah meluruskan akidah masyarakatnya yang rusak dan memperbaiki akhlak kaumnya yang sudah biadab.

Keteladanan profetik Nabi dapat ditelusuri dari sirah beliau (perjalanan hidup dan rekam jejaknya), sejak lahir hingga diangkat menjadi nabi dan rasul. Sebagai pemimpin umat dan dunia, jejak rekam moral beliau sangat jelas.

Sejak kecil, Nabi dikenal sebagai pribadi jujur, bersih, sederhana, pemberani, dan berhati mulia. Beliau mampu menjaga kehormatan dirinya di tengah arus budaya jahiliah yang membiadabkan tatanan kehidupan masyarakat saat itu.

Substansi maulid Nabi adalah kelahiran seorang pemimpin pembangun peradaban, bukan sekadar pembangun masyarakat dan bangsa. Keteladanan profetik beliau dalam membangun peradaban sungguh relevan diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, di saat bangsa dan masyarakat dunia pada umumnya mengalami krisis keteladanan.

Sebagai warga bangsa, kita merasa prihatin karena banyak dari anggota legislatif maupun eksekutif yang miskin keteladanan dan prestasi, tetapi kaya intrik politik dan keserakahan. Lalu, bagaimana umat dan warga bangsa ini mengaktualisasikan keteladanan profetik beliau dalam kehidupan?

Kesalehan Multidimensi 

Setidaknya, ada empat kesalehan yang perlu dimiliki dan dikembangkan warga bangsa ini agar bisa meneladani keluhuran akhlak beliau. Pertama, kesalehan niat (shalih an-niyyat). Dalam bahasa psikologi dan politik, kita perlu memiliki kemauan kuat untuk mencontoh dan mengikuti mindset (pola pikir), pola komunikasi, pola sikap dan perbuatan, dan pola hidup beliau.

Kedua, kesalehan dalam mematuhi aturan hukum (shalih as-syarishalih as-syariat). Beliau tidak pernah “menelan ludahnya” sendiri. Apa yang telah ditetapkan ditaatinya, bahkan beliaulah yang terdepan dalam memberi contoh penegakan hukum. Sedemikian hebat ketaatannya, sehingga beliau memberi “keteladanan plus” yang melebihi apa yang dibebankan kepada umatnya.

Ketiga, kesalehan dalam mencapai tujuan yang baik dan benar (shalih al-ghayat). Ketika hendak berhijrah dari Mekkah ke Madinah, beliau mengingatkan kepada para sahabatnya bahwa “Kinerja itu ditentukan oleh niatnya. Siapa yang tujuan hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu menuju jalan Allah dan Rasul-Nya.

"Siapa yang berhijrah karena hendak mendapatkan perempuan untuk dinikahinya, maka hijrahnya itu hanya sebatas mendapatkan apa yang ditujunya.” (HR Bukhari dan Muslim). Korupsi yang masih mewabah di negeri ini boleh jadi disebabkan oleh tujuan yang keliru dari para “petualang politik”.

Keempat, kesalehan dalam mengikuti prosedur dan mekanisme yang benar (shalih al-kaifiyyat wal ijrawal ijraat). Banyak orang mengambil jalan pintas karena tidak saleh dalam mengikuti prosedur dan mekanisme yang benar.

Mereka tidak sabar untuk cepat-cepat menjadi kaya, meskipun mekanisme yang ditempuh itu menghalalkan segala cara. Mereka tidak tahan “menderita” di luar pemerintahan, sehingga begitu berkuasa, nafsu serakahnya dilampiaskan dengan berlomba-lomba korupsi.

Aktualisasi keteladanan profetik mengharuskan kita belajar menjadi saleh multidimensi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kita merindukan teladan kehidupan sejati dari Nabi.

Dalam The Art of Leadership karya Muhammad Fathi (2009) dijelaskan bahwa dalam waktu yang sangat singkat, 23 tahun (13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah), beliau sukses mengubah masyarakat jahiliah menjadi masyarakat yang cerdas secara mental-spiritual, dari masyarakat paganisme yang primitif menjadi komunitas bertauhid yang madani.

Beliau juga berhasil mengubah masyarakat berkarakter kasar dan bengis menjadi berkarakter santun dan beradab. Dari masyarakat yang tidak dikenal oleh peradaban, beliau mampu menjadikan umatnya memimpin peradaban.

Rahasia di balik semua itu adalah kepemimpinan profetik beliau yang jujur, amanah, tabligh (komunikatif dan transparan), dan fathanah (cerdas dan profesional) sekaligus visi kenabiannya yang mulia, yaitu mewujudkan Islam sebagai agama rahmat dan cinta kasih bagi semua. (Oleh: Muhbib Abdul Wahab - Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah dan UMJ/Sindonews)

Awal Mula Peringatan Maulid Nabi

Memperingati hari lahir Nabi Muhammad Saw atau biasa disebut sebagai Maulid Nabi telah menjadi semacam tradisi bagi umat Islam di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Peringatan Maulid Nabi pada 12 Rabiul Awal menjadi momen untuk membangkitkan dan menjaga semangat Nabi dalam diri umat.

Kendati telah menjadi semacam tradisi, memang masih terjadi silang pendapat tentang kapan sebenarnya Maulid Nabi mulai diperingati umat Islam. Jika ditelusuri dalam kitab tarikh (sejarah), perayaan Maulid Nabi tidak ditemukan pada masa sahabat, tabiin, hingga tabiit tabiin, dan empat imam mazhab.

Mereka adalah orang-orang yang sangat mencintai dan mengagungkan Nabi Muhammad SAW. Mereka pula kalangan yang paling bersemangat dan menghayati setiap ajaran-ajaran yang diwariskan olehnya.

Beberapa kalangan berpendapat bahwa Maulid Nabi pertama kali muncul pada zaman Shalahuddin al-Ayyubi (1193 M). Shalahuddin disebut menganjurkan umatnya untuk melaksanaan perayaan Maulid Nabi guna membangkitkan semangat jihad kaum Muslim. Kala itu, Shalahuddin dan umat Islam memang berada dalam fase berperang melawan tentara Salib.

Kendati demikian, pendapat tersebut juga masih diperdebatkan. Mereka yang menolak bahwa Shalahuddin sebagai pelopor maulid beralasan, tidak ditemukan catatan sejarah yang menerangkan perihal Shalahuddin menjadikan Maulid Nabi sebagai bagian dari perjuangannya dalam Perang Salib.

Menurut beberapa pakar sejarah Islam, peringatan dan perayaan Maulid Nabi dipelopori oleh Dinasti Ubadiyyun atau disebut juga Fatimiyah (silsilah keturunannya disandarkan pada Fatimah). Al Maqrizi, salah satu tokoh sejarah Islam mengatakan, para khilafah Fatimiyah memang memiliki banyak perayaan sepanjang tahun.

Antara lain perayaan tahun baru, hari Asyura, Maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Ali Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Syaban, perayaan malam pertama Ramadan, perayaan Idul Fitri dan Idul Adha, perayaan malam Al Kholij, perayaan hari Nauruz (tahun baru Persia), dan lainnya. (Al Mawa'izh wal I'tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida' Al Hawliyah, hal. 145-146)

Asy Syekh Bakhit Al Muti'iy, seorang mufti dari Mesir, dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal.44) juga menyebut, yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid, salah satunya adalah Maulid Nabi adalah Al Mu'izh Lidnillah (keturunan Ubaidillah dari Dinasti Fatimiyah) pada 362 Hijriah.

Selain mereka, dalam beberapa buku sejarah juga disebutkan bahwa Dinasti Fatimiyah memang yang menginisiasi perayaan Maulid Nabi. Perlu diketahui sebelumnya, pemerintahan Fatimiyah berdiri pada 909 Masehi di Tunisia. Enam dekade kemudian, mereka memindahkan pusat kekuasaan ke Kairo, Mesir. Dua tahun setelah masuknya Shalahuddin al-Ayubbi ke Mesir, yakni sekitar tahun 1171, Dinasti Fatimiyah runtuh.

Adanya perayaan Maulid Nabi oleh Dinasti Fatimiyah disebutkan antara lain oleh dua sejarawan dan ilmuwan pada masa Dinasti Mamluk, beberapa abad setelah masa hidup Shalahuddin. Salah satu sejarawan tersebut adalah yang telah disebutkan sebelumnya, yakni al-Maqrizi (1442) dan al-Qalqashandi (1418).

Al-Qalqashandi menyebutkan tentang perayaan Maulid Nabi oleh Dinasti Fatimiyah secara ringkas dalam kitab Subh al-A'sya jilid III (1914: 502-3). Perayaan itu dilakukan pada tanggal 12 Rabiul Awwal, dipimpin oleh Khalifah Fatimiyah dan dihadiri oleh para pembesar kerajaan seperti Qadhi al-Qudhat, Da'i al-Du'at, dan para pembesar kota Kairo dan Mesir. Acara tersebut diterangkan dibuka dengan pembacaan ayat suci Alquran dan khutbah oleh tiga penceramah.

Kendati terdapat sumber referensi yang menyebutkan bahwa Dinasti Fatimiyah yang pertama kali menghelat Maulid Nabi, tetapi hal tersebut juga masih diperdebatkan. Sebab, Ibn Jubair ketika melakukan perjalanan hajinya melalui Mesir pada tahun 1183, tidak menyebutkan ada kebiasaan maulid di sana.

Saat itu sudah dua belas tahun sejak runtuhnya Dinasti Fatimiyah dan Mesir telah diperintah oleh Shalahuddin. Pada Rabiul Awwal tahun itu, Ibn Jubair (w. 1217) masih belum menyeberang dari Mesir menuju Jeddah. Jika kebiasaan maulid di Mesir merupakan kebiasaan yang populer di tengah masyarakat sejak masa Fatimiyah, dan kemudian bersambung pada masa Shalahuddin, rasanya kecil kemungkinan hal ini akan terlewat dari pengamatan Ibn Jubair untuk kemudian ia tuangkan di dalam buku perjalanannya (The Travels of Ibn Jubayr/ Rihla). (Republika/RM)