Natal dan Gus Dur
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i29134-natal_dan_gus_dur
Saudara umat Kristiani dunia merayakan Natal, begitu juga di Indonesia. Gereja-gereja berhias menyambut perayaan tahunan tersebut. Bahkan beberapa umat Kristiani telah merayakan sebelum tanggal puncak Natal yaitu 25 Desember.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Des 25, 2016 09:41 Asia/Jakarta
  • Natal
    Natal

Saudara umat Kristiani dunia merayakan Natal, begitu juga di Indonesia. Gereja-gereja berhias menyambut perayaan tahunan tersebut. Bahkan beberapa umat Kristiani telah merayakan sebelum tanggal puncak Natal yaitu 25 Desember.

Jutaan umat kristiani pun seperti menyambut suka cita perayaan Natal meski ancaman keamanan sempat menjadi isu yang kurang mengenakkan. Aparat keamanan dan pemerintah telah memberikan jaminan keamanan kepada umat kristiani dalam merayakan Natal.

 

Menjelang perayaan Natal atau tepatnya beberapa bulan sebelumnya, Tanah Air ini memang diramaikan dengan isu konflik antaragama atau bahkan di dalam keyakinan agama itu sendiri. Tentu peristiwa itu seolah mengusik kemajemukan Indonesia yang selama ini justru menjadi kekuatan bangsa ini.

 

Namun kita patut bersyukur bahwa peristiwa itu tidak membawa konflik yang parah dan berhasil diredam oleh masing-masing pemeluk agama sendiri di Tanah Air. Kita patut bersyukur di tengah suasana yang memanas, hubungan antaragama kembali normal, saling menghormati dan menghargai. Karena memang dengan cara tersebut bangsa ini bisa hidup rukun di tengah keragaman.

 

Pemandaan kerukunan umat beragama tetap nampak pada perayaan Natal tahun ini. Kelompok-kelompok masyarakat seperti Banser masih ikut memberikan rasa nyaman umat Kristiani di Indonesia untuk merayakan.

 

Di dunia, muslim di London juga berbagi dengan mengumpulkan donasi untuk memberikan bantuan kepada kelompok tuna wisma yang mungkin tidak bisa merayakan Natal. Dua hal tersebut jelas menunjukkan, bahwa meski berbeda keyakinan namun masih bisa tetap menghargai dan menghormati. Cara-cara ini menunjukkan bahwa keharmonisan hubungan akan menuju sebuah kedamaian yang didambakan setiap masyarakat.

 

Semua yakin bahwa semua agama mengajarkan tentang cinta kasih. Agama juga mengajarkan tentang sikap saling menghormati dan menghargai. Karena agama memang hadir untuk memberikan kehidupan sosial yang harmonis.

 

Semua agama tentu tidak mengajarkan sikap saling menyerang, menghujat atau bahkan melukai sesama manusia. Jadi, semua agama mengajarkan kepada umatnya untuk hidup rukun saling menghormati dan menghargai.

 

Sedangkan tadi malam, juga berlangsung peringatan tujuh tahun wafatnya Presiden RI ke-4 Abddurahman Wahid atau Gus Dur. Tentu sosok Gus Dur akan sangat melekat pada masyarakat yang menginginkan kehidupan harmonis dalam keberagaman.

 

Gus Dur adalah tokoh yang selalu mendengungkan keberagaman dan toleransi. Bahkan tradisi anggota Banser dalam menjaga gereja adalah atas perintah Gus Dur pada tahun 1996. Bagi Gus Dur, menjaga gereja di saat Natal sama dengan menjaga Indonesia.

 

Artinya, penjagaan yang dilakukan oleh Banser bukan semata menjaga perayaan Natal tapi menjaga keamanan Indonesia. Itulah salah satu pemikiran keberagaman dan toleran Gus Dur yang hingga kini terus dilakukan oleh Banser.

 

Pada peringatatan wafatnya Gus Dur tadi malam juga memiliki pesan agar keragaman dan sikap toleransi terus dijaga di negeri ini. Sikap ini yang akan membuat bangsa ini menjadi besar.

 

Bahwa Indonesia dianugerahi keragaman yang patut disyukuri karena ini sebagai kekuatan. Untuk menjaga keragaman ini tentu jalan yang harus dilakukan adalah dengan sikap toleransi. Sikap toleransi ini yang akan terus membuat bangsa ini kuat.

 

Tentu Natal 2016 dan peringatan wafatnya Gus Dur harus kembali menyadarkan kita sebagai bangsa yang dirahmati keragaman. Natal dan Gus Dur memberikan pesan kepada kita semua bahwa hidup bertoleransi di tengah keragaman akan menjadikan bangsa ini semakin kuat.

 

Kelompok mayoritas dan minoritas harus saling menghargai serta menghormati. Kelompok mayoritas dan minoritas mempunyai kewajiban yang sama untuk terus menjaga kerukunan. Mayoritas harus melindungi minoritas begitu juga sebaliknya.

 

Selamat merayakan Natal bagi saudara-suadara kita Kristiani. Dan terima kasih kita ucapkan untuk Gus Dur atas pemikiran-pemikiran toleransinya. 

 

Uskup Agung di Katedral: Jaga Persaudaraan Antarumat

 

Uskup Agung, Mgr. Ignatius Suharyo dalam pesan Natalnya saat misa di Gereja Katedral, Jakarta menyatakan pentingnya menjaga persaudaraan antarumat dan jangan sampai terpecah.

Menurut Ign. Suharyo, pesan Natal bersama ini ada tiga hal yang dapat disampaikan. Pertama, Natal bukan peristiwa masa lampau, tetapi realitas dan pengalaman umat Kristiani dan aktualitas kelahiran Yesus.

 

"Kedua adalah konteks dulu Yesus lahir dan menurut sejarah Yesus lahir di Palestina dan dalam jajahan Romawi. Yesus ada di hiruk pikuk kehidupan dunia, begitu pun kita yang sekarang," kata Suharyo di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Minggu 25 Desember 2016.

 

Ia menyatakan, masalah di dunia itu sampai sekarang belum selesai pengaruhnya, seperti masalah sosial, politik, dan agama. "Tentu perayaan Natal ini memuat amanat, terhadap masalah-masalah aktual dan bagian kedua dari pesan ini sekarang dilihat dari negeri kita," paparnya.

 

Pesan Natal yang ketiga adalah soal narkoba serta persaudaraan yang saat ini merajalela dan bisa membuat perpecahan. Untuk itu, tema Natal ini adalah bersatu sebagai bangsa.

 

"Dan tentu kita membutuhkan analisis yang lebih jelas. Gereja Katolik Keuskupuan Agung ingin mewartakan sila pertama Pancasila. Katolik kerahiman yang memerdekakan, yaitu Allah. Dan untuk terus berpikir dan mencari jalan sila kedua makin adil dan beradab," tuturnya.

 

Pesan Menteri Agama di Natal 2016, Semua Bisa Saling Menghormati

 

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saefuddin berpesan kepada umat Kristiani untuk merayakan Natal 2016 dalam suasana kesederhanaan. Lebih penting lagi, umat Kristiani juga diminta untuk menghormati saudara-saudara sebangsa yang tidak mengucapkan selamat Natal.

 

Menag Lukman mengatakan, bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa religius dalam segala bentuk keragamannya. "Saya berharap semua pihak dapat mengedepankan sikap saling menghormati dan bertoleransi," katanya melalui siaran pers yang diterima SINDOnews, Sabtu (24/12/2016).

 

Di tengah keberagaman, sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan sangat diperlukan, terutama untuk merawat kerukunan dan kedamaian.

 

"Untuk itu, kita hormati saudara-saudara kita yang tak mengucapkan 'Selamat Natal' atas dasar pemahaman keyakinannya, sebagaimana kita juga hormati mereka yang mengucapkannya," ujar Menag Lukman.

 

Kepada umat lain, Menag Lukman meminta, agar mereka juga menghormati umat Kristiani yang merayakan Natal. "Bila semua anak bangsa saling menghormati, saling memberi kehormatan kepada yang lain, maka semua akan mendapatkan kebaikan," katanya.

 

"Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Memberi lebih baik daripada menerima apalagi meminta. Marilah berlomba dalam kebajikan," harapnya.

 

Kepada umat Kristiani yang merayakan Natal, Menag mengatakan, "Selamat bersuka cita dan berbahagia. Namun tetaplah dalam kesederhanaan dan taburlah kebaikan," katanya. (MZ/SindoNews/VivaNews)