Natal, Narasi Iman dalam Relung Budaya
Oleh: Khusnul Yaqin* Setiap kali menjelang hari Natal, kita selalu dihebohkan dengan fatwa dari salah satu ormas keagamaan yang mengharamkan ucapan selamat Natal kepada saudara-saudara Nasrani. Barangkali, kita boleh sepakat dengan fatwa tersebut, maupun sebaliknya tidak bersepakat.
Pihak yang tidak sepakat dengan fatwa ini biasanya menggunakan dalil surat Maryam ayat 33, di mana pada ayat tersebut Nabi Isa mengucapkan selamat atas hari kelahirannya sendiri. Menarik bahwa Nabi Isa as mempunyai perhatian yg khusus terhadap hari lahirnya.
Lebih jauh Al-Quran mendokumentasikan perhatian khusus itu sebagai sebuah momentum historis yang perlu disampaikan kepada umat Muhammad Saw. Kalau Al-Quran tidak secara spesifik menyebut kelahiran Nabi yang lain yang perlu dideklarasikan, maka kita sudah bisa memahami bahwa deklarasi Nabi Isa as sudah cukup untuk mewakili bahwa memeringati kelahiran manusia itu penting dilakukan.
Pertanyaannya mengapa kelahiran Isa as yg digunakan sebagai contoh suatu kelahiran yang perlu diperingati?
Surat Maryam 33 tidak bisa dilepaskan dengan ayat-ayat sebelumnya tentang kelahiran Isa yang spektakuler. Meskipun bagi Allah Swt tidak ada yang spektakuler, tapi bagi masyarakat Yahudi yang sangat empiris kelahiran Nabi Isa as tanpa bapak adalah hal yang sangat aneh.
Di surat Maryam ayat 27, Allah Swt memerintahkan sayidah Maryam untuk puasa bicara dan menyerahkan Isa yg masih bayi menjadi juru bicara ibunya. Hal ini karena apapun yang akan disampaikan oleh Sayidah Maryam kepada masyarakat Yahudi tidak akan mengubah pandangan mereka tentang kelahiran anak manusia, bahwa kelahiran manusia harus selalu melalui proses empiris ada seorang ibu dan bapak. Maka Isa as yang spektakuler harus menjelaskan siapa dirinya kepada Yahudi yang terjebak dalam alam pikir empirisme.
Sebagai juru bicara, Isa as tidak langsung membicarakan proses kelahirannya yang ekstraordinari. Isa as justru menerangkan worldview Tauhid yg menjadi dasar dari sebuah proses kelahirannya yang ekstraordinari. Worldview ini membongkar pandangan dunia orang-orang Yahudi yang sangat empiris.
Di surat Maryam ayat 30, Nabi Isa memaparkan tentang konsep ketuhanan, bahwa dia adalah seorang hamba Allah. Dia adalah hamba dari Dzat yang dalam konsep Irfan disebut Ghaibul Ghuyub, Wujud Murni, yang menjadi tempat bergantung semua yang bisa mewujud melalui Wujud-Nya. Setelah itu Isa as melanjutkan bahwa dia diberikan kitab dan oleh karenanya dia adalah seorang Nabi. Dalam ilmu Ushuluddin persoalan ini disebut tahap makrifat Al Nubuwah.
Di ayat 31, Nabi Isa as menjelaskan dirinya sebagai pemakmur suatu negeri. Pemakmur negeri adalah fungsi Imamat. Seorang Imam dipilih oleh Allah Swt untuk memakmurkan bumi di mana pun ia berada. Kemakmuran itu mempunyai dua dimensi, yaitu dimensi materi dan ruhani. Dengan cara apa Isa as memakmurkan suatu negeri? Dia memakmurlan negeri dengan shalat dan menunaikan zakat.
Pada ayat 32, surat Maryam, Nabi Isa as memaparkan pelajaran akhlak. Nabi Isa as mendeklarasikan bahwa dirinya adalah seorang yang berbakti kepada ibunya, dan dia juga seorang yang tidak sombong dan juga bukan pelaku tindak amoral yang lainnya. Isa as ingin menangkis tuduhan Yahudi bahwa ibunya telah melakukan perbuatan asusila. Di samping itu moralitas yang diembannya menjadi dasar penegakan keadilan sosial yang merupakan refleksi dari keadilan ilahi.
Di ayat 33 yang merupakan ayat yang menjadi tema pembahasan kita, Nabi Isa as mengucapkan salam kepada tiga hal, yaitu salam kepada hari di mana dia dilahirkan, diwafatkan dan dibangkitkan. Hari kebangkitan merupakan salah satu tema penting dalam Ushuluddin. Di ayat ini Nabi Isa as ingin menegaskan bahwa kelahiran, kematian dan kebangkitan adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.Pengingatan terhadap kelahiran adalah pengingatan terhadap alam non-empiris sekaligus empiris.
Dengan mengingat kelahiran kita akan mendapatkan clue jawaban dalam Ushuluddin darimana kita berasal. Dalam tradisi tasawuf, jawaban darimana kita berasal adalah awal perjalanan spiritual menuju kepadaNya. Pengingatan terhadap hari kematian akan mengingatkan kita bahwa kita hidup di dunia ini adalah sementara dan oleh karenanya harus digunakan sebaik-baiknya untuk menghamba kepadaNya dengan penghambaan yang paripurna. Hal ini seperti disyarakatkan oleh deklarasi Nabi Isa as yang menyebutkan bahwa dirinya adalah hamba Allah Swt.
Pada puncaknya kematian dipuncaki dengan hari kebangkitan, di mana seluruh manusia akan mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di hadapan Allah Swt.
Salam adalah keselamatan. Orang yang selamat di hari kebangkitan adalah orang yang selamat di hari wafatnya dan kelahirannya. Oleh karenanya peristiwa kelahiran dan kematian perlu diperingati agar manusia kembali pada pengingatan proses dari mana ia berasal dan darimana ia akan dikembalikan. Innalillahi wa Inna ilahi rajiun.
Ayat 33 itu dipertegas oleh Allah pada surat Maryam ayat 15, Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.
Di sini tampak bahwa yang mengucapkan salam kepada Nabi Isa bukan hanya Nabi Isa as atas dirinya, tetapi juga Allah juga telah menegaskan keselamatan atas kelahiran, kematian dan kebangkitan Isa as. Tampaknya ucapan selamat Isa as adalah penegasan ucapan selamat dari Allah Swt.
Di surat 34, Al-Quran menegaskan itulah karakteristik Isa as yang benar. Tampaknya, menjadi ironis jika sebagian manusia jutrsu terjebak debat kusir tanpa bukti ilmiah yang mengeksplorasi akal semaksimal mungkin.
Hari Natal yang diperingati oleh kaum Nasrani adalah simbolitas hari kelahiran seorang manusia yang ekstraordinari yang oleh kaum Nasrani dianggap sebagai anak Tuhan dan oleh kaum muslimin sebagai Nabi dan Rasul yang membawa risalah ilahiyah.
Peringatan Natal sebagaimana peringatan hari-hari besar agama lain selain memunyai sisi religiusitas juga mengandung unsur kebudayaan. Pernak-pernik sinterklas, pohon natal, tanen baum (dalam tradisi Jerman) dengan berbagai asesorisnya (bidadari dengan gaun Eropa dan salju) adalah sesuatu yang sangat khas benua Eropa.
Pernak pernik itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan relegiusitas jika kita lihat dari asal usulnya. Tanggal 25 Desember juga bukan hari yang tepat di mana Nabi Isa as dilahirkan. Tanggal 25 Desember adalah peringatan atau perayaan musim dingin yang selalu diperingati oleh etnis-etnis Eropa sebelum kedatangan agama Nasrani di sana.
Sejatinya, kaum Nasrani mengadopsi tanggal 25 Desember sebagai kelahiran Nabi Isa as sebagai strategi budaya dalam menyebarkan agama Kristen. Menurut sebagian sejarawan, Nabi Isa as dilahirkan pada bulan April, atau ada yang meyakini bulan Juni. Di luar tanggal dan bulan persis kelahirannya, ucapan Natal atas kelahiran Isa as selain diajarkan oleh Nabi Isa as sendiri memberi pelajaran tentang narasi keimanan dalam konteks kebudayaan. Dalam narasi ini, toleransi antarumat beragama terjadi melalui sharing kebudayaan. Selamat hari Natal !
*Dosen Universitas Hasanuddin Ujung Pandang