Kunjungan Raja Salman di Mata Media Tanah Air
Kunjungan raja Salman menjadi perhatian berbagai kalangan di Indonesia, dari pejabat hingga media massa yang terus-menerus menampilkan berita mengenai orang nomor satu di Arab Saudi itu.
Surat kabar nasional, Republika, bahkan membuat berita utama di halaman mukanya dengan lukisan Raja Salman dan berita berbahasa Arab berjudul "Ahlan wa Sahlan". Secara umum ada tiga model narasi dalam pelaporan media Indonesia terhadap kunjungan raja Salman ke Tanah Air.
Pertama, media massa Indonesia memberitakan kedatangan raja Salman dalam sebuah narasi “glamour”. Tidak tanggung tanggung, hampir seluruh keperluan sang raja bersama rombongan kerajaan Arab Saudi yang mencapai 1.500 orang. Jauh hari sebelum kedatangannya, media nasional di Indonesia melaporkan berbagai persiapan digelar hingga urusan kargo di bandara. Otoritas Halim Perdanakusuma Satriana mengatakan sebanyak 459 ton kargo didatangkan dari Arab Saudi dengan pesawatnya. Isinya mulai dari food and baverage, kebutuhan peralatan kerja, furnitur, hingga mesin x-ray. Sebanyak 63 ton kargo tiba di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta. Sementara sisanya 396 ton kargo tiba di Bandara Ngurah Rai Denpasar.
Selain itu, dua unit kendaran jenis Mercy S600 yang akan digunakan Raja Salman selama di Indonesia tiba di Bandara Halim Perdanakusuma. Sedangkan dua kendaraan serupa tiba lebih dulu di Bandara Ngurah Rai Denpasar pada 18 Februari. Tampaknya, dalam sejarah kunjungan kepala negara dunia ke Indonesia belum ada yang bisa menyamai lawatan raja Salman kali ini.
Tidak hanya itu, rombongan raja Salman juga membawa electric Escalator. Pihak bandara Halim membutuhkan Main Desk Loader 32 ton yang didatangkan langsung dari Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Bahkan satu unit Main Desk Loader harus diberangkatkan ke Bandara Denpasar dengan waktu tempuh mencapai enam hari.
Tidak cukup hanya dengan menyebutkan deretan perabotan mahal yang didatangkan dari Saudi, situs Antara bahkan perlu untuk menulis sebuah artikel berjudul “Jubah Kebesaran Raja Salman” dengan menderet harga harga satu busana "bisht" raja dan pangeran yang bisa menembus 20 ribu Riyal Saudi atau Rp.71,3 juta.
Kedua, media Indonesia menyiarkan berita kedatangan raja Salman dengan narasi ekonomi terutama investasi dan bantuan bagi perekonomian Indonesia, termasuk mengenalkan Bali sebagai destinasi wisata yang dikunjungi oleh raja dan pangeran Arab Saudi.
Selama ini kerja sama ekonomi Indonesia dan Arab Saudi masih terbilang kecil. Pada 2015 ekspor Indonesia ke Arab Saudi sebesar $2,16 miliar atau 1,4% dari total ekspor. Arab Saudi berada di peringkat ke-16 negara tujuan ekspor non migas Indonesia. Sementara itu, Indonesia mengimpor dari Arab Saudi sebesar $6,52 miliar atau 4,6% dari total impor.
Dengan posisi ini, Indonesia mengalami defisit perdagangan sebesar $4,4 miliar dengan Arab Saudi. Komposisinya, neraca non\-migas Indonesia masih surplus $1,19 miliar, sedangkan migas defisit $5,55 miliar. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan pada 2016 jumlah investasi dari Arab Saudi menempati posisi ke-57 dari se mua negara investor di Indo nesia.
Adapun jumlah investasinya hanya $900.000 atau Rp.12 miliar saja yang tersebar di 44 proyek. Peringkat dan nilai investasi Arab Saudi bahkan di bawah Afrika Selatan dan Mali. Nilai investasi ini kalah jauh dari posisi tiga besar yang di tempati oleh Singapura, Jepang, dan China.
Indonesia mengatakan pihaknya berharap investasi baru sebesar 25 miliar dolar dari Arab Saudi. Presiden Jokowi dan Raja Salman membahas kemungkinan investasi tersebut termasuk tiga kilang minyak, pembangkit listrik dan infrastruktur seperti jalan, perumahan dan sanitasi.
Lalu, apakah kunjungan kali ini akan mendongkrak investasi dan perbaikan necara perdagangan Indonesia dengan Arab Saudi. Sampai saat ini ada 11 MoU yang ditandatangi antara kedua belah pihak. Tapi tidak seluruhnya mengenai masalah ekonomi. Sebab sebagian MoU mengenai masalah pendidikan dan keamanan, termasuk dengan POLRI.
Selama kunjungan resmi Raja Arab Saudi Salman Abdulaziz Al Saud berjanji akan memberikan uang senilai satu miliar dolar untuk pembangunan di Indonesia. Selain itu investasi di berbagai daerah juga akan dilakukan, termasuk investasi 6 miliar dolar untuk kilang minyak di Cilacap, Jawa Tengah. Sebelumnya Aramco dan Pertamina sudah bekerja sama menggarap proyek tersebut. Dengan demikian hanya melanjutkan yang sudah dikerjakan sebelumnya.
Ketiga, media Indonesia memberitakan kedatangan Raja Arab sebagai penjaga atau pelayan Tanah Suci maupun Khadimul Haramain asy- Syarifain. Penyambutan raja Salman oleh pejabat Indonesia di Istana dan gedung MPR diberitakan secara gegap-gempita. Antusiasme menyambut kedatangan Raja Salman ini menunjukkan keramahtamahan masyarakat Indonesia selaku tuan rumah yang baik dalam menyambut tamu negara. Tapi, ketika berlebihan justru akan menimbulkan masalah, dan tidak baik bagi Indonesia sendiri.
Salah seorang pihak yang cukup kritis menyikapi masalah ini adalah Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali. Tokoh Muslim Amerika Serikat ini mengatakan ada beberapa kemungkinan konsekuensi negatif dari penyambutan berlebihan Raja Arab Saudi.
Pertama, Raja Salman adalah seorang raja dari sebuah negara yang secara sistem tidak menggambarkan semangat ajaran Islam dalam pengelolaan negara atau publik. Dia menyebut secara sederhana sistem kerajaan, kekuasaan keluarga, dengan keberpihakan kepada keluarga kerajaan yang sangat besar, menjadikan keadilan sosial tereliminasi ke titik nadir yang mengecewakan.
Kedua, Shamsi mempertanyakan benarkah bahwa atas nama menjaga akidah ahlusunnah lalu kelompok-kelompok yang tidak sejalan dieliminasi? Menurut Shamsi, jelas hal ini bertentangan dengan semangat kepemimpinan Rasulullah SAW yang mengayomi minoritas yang tidak sejalan dengan beliau.
Ketiga, dia khawatir justru penyambutan berlebihan terhadap Raja Salman melebihi pemimpin lain bahkan pemimpin Muslim lainnya, akan semakin membangun stigma bahwa Muslim Indonesia inferior kepada Muslim Arab.
Keempat, kata Shamsi, agar tidak lupa bahwa perlakuan kepada para pekerja Indonesia, khususnya tenaga kerja wanita (TKW) di Saudi masih jauh dari norma-norma hukum internasional. Saudi masih belum mau menandatangani konvensi internasional yang menyangkut pekerja domestik yang secara hukum internasional dijamin. Hal ini harusnya masuk dalam agenda pembahasan karena menyangkut kemanusiaan dan harkat bangsa.
Kelima, Shamsi melihat banyak yang gembira dengan kunjungan tesebut. Ini karena Raja Salman dan rombongannya disebut-sebut akan menanam saham besar di Indonesia. Bahkan akan mencapai 25 miliar dolar AS. Kalaupun itu jadi dan tanpa riba sekalipun, Shamsi meminta pemerintah tetap berhati-hati dengan konsekuensi psikologis. Menurut dia, kebesaran sebuah bangsa tidak hanya pada kemajuan ekonominya, tapi yang terpenting adalah kemampuan membangun independensi dan kehormatannya.
Adapun anggapan bahwa dengan rencana investasi besar Saudi di Indonesia maka akan menghalangi atau minimal mengurangi pengaruh Cina di Indonesia, Shamsi berpendapat hal itu bisa benar tapi juga bisa salah. "Pada akhirnya saya hanya ingin mengingatkan bahwa ketergantungan luar adalah penyakit kolektif bangsa yang kronis. Seolah bangsa ini terlalu kecil, kerdil dan tidak mampu berbuat apa-apa tanpa kekuatan luar. Dan bagi saya, ini adalah mental 'terjajah' yang akan menjadikan bangsa ini terjajah di negara sendiri oleh bangsa-bangsa lainnya," ujarnya.
Di luar hiruk pikuk kunjungan raja Salman dan janji-janji yang digembar-gemborkannya, mengapa tidak ada yang menyinggung masalah korban tragedi Mina dan crane. Kalau ganti rugi yang jumlahnya kecil itu saja belum dibayar hingga kini, lalu seriuskah mereka berinvestasi. Ataukah mereka justru sedang menjual “citra” untuk memulihkan perekonomian dalam negerinya yang terpukul akibat jebloknya harga minyak dunia, dan wajahnya yang tercoreng darah akibat pembantaian rezim Al Saud di negara lain, terutama Yaman. Tapi narasi ini tidak muncul dalam narasi pemberitaan media nasional di Tanah Air mengenai kunjungan raja Salman.(Antara/Republika/Kompas Sindonews/PH)