Saracen, dari Perang Salib ke Bisnis
Memakai kemeja oranye menyala, Jasriadi bersama dua rekannya, Sri Rahayu (32), dan Faisal Tonong (43), berdiri dengan kepala tertunduk di sebuah ruangan yang akan digunakan polisi untuk pengumuman.
Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Jasriadi dan dua rekannya. Hari itu, mereka bak barang pajangan. Dengan tangan terbebat tali borgol plastik berwarna putih, ketiganya pun hanya diam, tak berkutik.
Merekalah yang menjadi motor pendiri grup Saracen, yakni kumpulan akun di jejaring sosial yang mengorganisir konten bermuatan SARA, lalu menyebarnya ke khalayak.
Kata polisi, aksi mereka telah berlangsung sejak tahun 2015 dan memiliki setidaknya 800 ribu akun yang diorganisir. Dan yang mengejutkan, kelompok Saracen ini rupanya juga berencana menjual jasa menebar kebencian.
Ini diperkuat dari temuan sejumlah dokumen proposal penawaran di tangan Jasriadi, pria asal Pekanbaru, Riau, yang disebut menjadi ketua kelompok Saracen. Harga yang dipatok pun tak murah. "Senilai Rp75 juta sampai Rp100 juta," kata Kasubbag Ops Satgas Patroli Siber AKBP Susatyo Purnomo.
Nun jauh sebelum Jasriadi didaulat menjadi ketua kelompok Saracen di jagat maya, nama Saracen sudah muncul pada abad pertengahan.
Saracen konon sebagai sebutan 'olok-olok' bagi orang Islam oleh orang-orang Kristen di masa Romawi dan kemudian meluas hingga masa perang Salib. Bagi kelompok muslim saat itu, Saracen akhirnya menjadi identitas perlawanan mereka terhadap kelompok non-muslim.
Jasriadi, pria yang kini diamankan polisi karena menjadi pendiri situs saracennews.com, tak menampik jika penamaan Saracen yang dipakainya dalam kelompok Saracen Cyber Team, terinspirasi dari sejarah itu.
Meski mengaku bukan sebagai pemberi nama pertama, namun Jasriadi membenarkan nama Saracen memang diambil dari penyebutan kelompok muslim di masa perang Salib berabad lalu.
Jasriadi tak menampik jika inisiasi mengorganisir Saracen agar menjadi sebuah lembaga terstruktur. Dengan itu, apa yang diperjuangkan grup Saracen dapat lebih terarah dan tidak tercerai berai.
Atas dasar itu, ketika Jasriadi bertemu dengan sejumlah pegiat media sosial di Jakarta pada tahun 2016, wacana struktur Saracen pun digagas. Sejumlah nama pun 'disempalkan' dalam rencana struktur itu.
Ada Eggy Sudjana si pengacara, kemudian ada juga purnawirawan TNI Mayor Ampi Tanudjiwa, calon gubernur Banten yang gagal dalam Pilkada. Serta banyak lagi nama lainnya, yang jelas memiliki tugas dan fungsi tersendiri. Belakangan Eggy dan Ampi membantah terlibat dalam grup ini.
Secara kasat, memang geliat Saracen masih terbilang muda. Namun demikian, kepolisian meyakini bahwa ada 800 ribu akun yang dikelola oleh kelompok Saracen yang digagas oleh Jasriadi.
Dengan potensi itulah, kelompok ini akhirnya merencanakan agar Saracen bisa menjadi peluang bisnis. Pintu masuknya adalah dengan menawarkan jasa keahlian Jasriadi dalam membuat laman internet atau web.
Bisnis Benci Barang Lama
Sejatinya yang dilakukan Saracen dan kawan-kawannya di jagat maya bukanlah barang baru dalam bisnis hitam media sosial.
Sepriadji Eko Nugroho, Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), mencontohkan kasus yang melibatkan akun Twitter @Triomacan2000 pada tahun 2014.
Saat itu, akun fenomenal yang kerap mengangkat isu soal korupsi itu telah lama mempraktikkan cara meramu isu hoaks berdasarkan pesanan dari orang yang membayarnya.
"Jadi kasus buzzer transaksional yang semacam itu sebenarnya bukan hal yang baru," ujar Sepriadji.
Atas itu, ketika polisi mengumumkan soal Saracen, Mafindo tak menganggap itu sebagai hal aneh. Bahkan Mafindo sendiri tak pernah melihat ada 'gelagat' dari kelompok Saracen dalam pengawasan mereka.
Karena itu, Sepriadji pun menduga jika Saracen terungkap ke publik sebagai dampak dari gesekan politik. "Dia (Saracen) ini salah satu refleksi dari polarisasi politik. Kita lihatnya seperti itu," ujarnya.
Dalam kacamata Mafindo juga, ditengarai Saracen memang tak memiliki ideologi yang kuat. Kelompok yang dibentuk pada tahun 2016 itu sepertinya hanya sedang berusaha memetik uang dari sengkarut yang ada di Indonesia.
"Ini berbahaya sekali, membuka kesempatan bisnis transaksional antara pelaku-pelaku, elit-elit politik di indonesia, memperkeruh suasana," ujar Sepriadji.
Apa pun itu, kini Saracen seperti membuka tabir awal ke publik, bahwa kebencian itu telah menjadi bisnis para penjahat internet. Dengan tangan mereka perseteruan dan pertikaian bisa lahir dalam sekejap.
Pengungkapan kelompok Saracen mesti harus mengungkap para pemesan dan mereka yang menjalankan bisnis serupa. Bukankah praktik ini adalah bisnis lama yang bersembunyi di hiruk pikuk media sosial.
Ya, setidaknya kepolisian harus menjawab dengan baik, mengapa Saracen sampai membuat Presiden Joko Widodo sampai naik darah. "Ini mengerikan sekali. Kalau dibiarkan mengerikan," kata Jokowi. (Viva.co.id/Sorot)