Menristekdikti Serukan Pengembangan Riset di Perguruan Tinggi
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i46568-menristekdikti_serukan_pengembangan_riset_di_perguruan_tinggi
Menteri Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Prof Mohammad Nasir meminta perguruan tinggi mengembangkan riset untuk mendukung peningkatan daya saing bangsa.
(last modified 2026-05-06T17:35:17+00:00 )
Nov 06, 2017 09:16 Asia/Jakarta

Menteri Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Prof Mohammad Nasir meminta perguruan tinggi mengembangkan riset untuk mendukung peningkatan daya saing bangsa.

"Potensi laut, pertanian di negara kita itu sangat besar, maka coba kembangkan dengan penelitian untuk peningkatan daya saing bangsa Indonesia," katanya saat memberi kuliah umum di Universitas Teuku Umar (UTU) di Meulaboh, Minggu, seperti dilansir situs Antara.

Penelitian-penelitian perguruan tinggi diperlukan untuk menumbuhkan inovasi dalam sektor pertanian maupun kelautan.

"Termasuk proses penyimpanan ikan, coba lihat Maluku, mereka sudah bisa ekspor ikan hidup ke Jepang, Korea, China dan Arab Saudi dalam kondisi hidup. Coba UTU kembangkan itu biar menjadi pusat riset kemaritiman," katanya.

Ia juga menyebut dua hal yang penting dalam upaya meningkatkan daya saing bangsa, yakni sumber daya manusia berkualitas yang dihasilkan perguruan tinggi dan inovasi hasil riset-riset ilmiah.

"Problem bangsa Indonesia saat ini, tidak ada yang menggunakan pola untuk melahirkan lulusan berkualifikasi dan inovasi berkenaan penelitian masih terbatas. Bila menginginkan daya saing bangsa kuat, maka kedua hal itu harus kita lakukan," katanya.

Sebelumnya, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir meminta agar perguruan tinggi dikelola secara efesien.

"Saat ini, perguruan tinggi mengadapi tantangan yang baru. Oleh karenanya pemimpin Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dituntut meningkatkan kapasitasnya dalam pengelolaan agar mampu bersaing di dunia internasional," ujar Nasir di Jakarta, Kamis.

Dia menjelaskan rektor atau direktur PTN harus tahu mengenai akademik, sumber daya dan keuangan, kemahasiswaan, penelitian, dan kesejahteraan pegawai.

Nasir berpesan kepada pemimpin PTN untuk menentukan skala prioritas dalam pengelolaan perguruan tinggi.

"Kalau bisa, fakultas itu tidak terlalu banyak," pungkas Nasir.

Nasir berharap pemimpin PTN mampu meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan PT.

Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi.

Selain itu, Nasir juga berharap pemimpin PTN terus meningkatkan kapasitasnya dalam menghadapi tantangan pengelolaan PT dalam konteks konstruksi baru pendidikan tinggi Indonesia.

Namun, sesuai instruksi Presiden Joko Widodo, Nasir mendorong pembukaan Program Studi (Prodi) kekinian yang sesuai kebutuhan dunia kerja. Contohnya, dunia kerja antara lain membutuhkan banyak lulusan Prodi logistik, mekatronika, dan pemasaran ritel.

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) memungkinkan untuk kampus membuka prodi sesuai dengan perkembangan zaman. Ketika menyelesaikan studi, lulusan Prodi kekinian ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dunia kerja, bahkan menciptakan lapangan pekerjaan baru.

Kemenristekdikti telah memberikan kewenangan otonomi yang lebih luas dalam pengelolaan PTN dengan harapan terjadi peningkatan mutu yang signifikan, sehingga PT memiliki peran nyata yang langsung dirasakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Peran pemimpin PTN menjadi sangat penting dalam konstruksi baru pendidikan tinggi yang mengedepankan otonomi dan penjaminan mutu.(Antara/PH)