Mengejar Target Pertumbuhan Ekonomi
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i46632-mengejar_target_pertumbuhan_ekonomi
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III tahun ini mencapai 5,06 persen. Padahal pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun ini harus mencapai 5,2 persen.
(last modified 2026-05-06T17:35:17+00:00 )
Nov 08, 2017 12:22 Asia/Jakarta

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III tahun ini mencapai 5,06 persen. Padahal pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun ini harus mencapai 5,2 persen.

Situs Republika melaporkan, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan melihat hasil triwulan III tahun ini maka target tersebut akan sulit didapatkan. Menurutnya, BPS tidak bisa memprediksi secara detail bagaimana pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tahun ini. Sebab, BPS tidak bisa melakukan analisa berdasarkan ekspektasi namun hanya bisa dari apa yang sudah terealisasi.

Meskipun begitu, Suhariyanto menilai saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia trennya mulai naik. Dia menilai pertumbuhan ekonomi selanjutnya masih akan naik meski sulit mencapai 5,2 persen. Hanya saja hal itu bisa didapatkan jika ekspor impor, pengeluaran konsumsi pemerintah, dan konsumsi rumah tangga masih terus meningkat.

Suhariyanto memandang pertumbuhan yang masih terus membaik bisa saja terus terjadi. Pada triwulan II 2017, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 5,01 persen namun triwulan III tahun ini mencapai 5,06 persen. Kenaikan tersebut ditopang dari industri pengolahan dari tumbuh paling tinggi dari 0,75 persen menjadi 1,02 persen. Lalu dari perdagangan juga ada kenaikan dari 0,51 persen menjadi 0,72 persen.

Selanjutnya pada sektor konstruksi juga ada kenaikan dari 0,66 persen menjadi 0,69 persen. Pada sektor informasi dan komunikasi naik dari 0,53 persen menjadi 0,45 persen.

Meskipun demikian, Bank Indonesia menyebutkan prospek pertumbuhan ekonomi akan lebih baik di kuartal IV 2017, salah satunya karena perbaikan ekspor, menyusul meningkatnya harga komoditas dan terus membaiknya perekonomian dunia.

Situs Antara melaporkan, Bank Sentral melalui pernyataan resminya untuk menanggapi pertumbuhan ekonomi kuartal III 2017 di Jakarta, Senin menyebutkan sejalan dengan peningkatan ekspor di kuartal IV 2017, investasi juga akan meningkat karena percepatan reformasi struktural perekonomian dan iklim investasi yang kondusif.

Kepala Departemen Komunikasi BI Agusman mengakui untuk kuartal III 2017, konsumsi rumah tangga tumbuh lebih lambat dibanding kuartal sebelumnya. Namun, terjadi perbaikan untuk konsumsi pemerintah, ekspor dan investasi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) konsumsi rumah tangga pada triwulan III 2017 tumbuh 4,93 persen, sedikit melambat dibanding triwulan II-2017 yang sebesar 4,95 persen.

Investasi tumbuh meningkat mencapai level tertinggi sejak triwulan I 2013 didukung baik oleh investasi bangunan dan nonbangunan. Bank Sentral memandang realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal III 2017 sebesar 5,06 persen sudah lebih baik dibanding kuartal sebelumnya dan juga kuartal sama tahun lalu.

Meskipun pertumbuhan ekonomi tahun ini dinilai sulit capai target pemerintah sebesar 5,2 persen. Namun, Indonesia dinilai masih memiliki potensi produk halal dan pariwisata halal yang mampu mendongkrak ekonomi. Ekonom Syariah SEBI School of Islamic Economics Aziz Setiawan kepada Republika.co.id, Selasa (7/11) mengatakan, Biasanya momentum di kuartal dua seperti Idul Fitri yang dapat mendongkrak konsumsi rumah tangga namun ternyata tidak signifikan. Ditambahkannya, peningkatan dari sisi konsumsi, investasi, belanja pemerintah, serta ekspor, juga belum terlihat akan terjadi di kuartal terakhir tahun ini.

Menurutnya, dalam dua bulan tersisa ini, belum pula ada instrumen kebijakan ekonomi yang dimiliki oleh pemerintah untuk memacu ekonomi dalam waktu pendek tersebut.  Baginya, pencapaian pertumbuhan yang stagnan di 5 persen pada tiga tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla ini harus benar-benar menjadi pelajaran. Dengan begitu bisa melahirkan kebijakan lebih kuat.

Di tengah stagnasi pertumbuhan, dalam perspektif ekonomi syariah salah satu yang terpenting yakni memastikan adanya kebijakan pemerintah yang dapat menjaga sekaligus meningkatkan daya beli serta kualitas konsumsi rumah tangga terutama masyarakat bawah. Maka perlu ada kebijakan keberpihakan untuk menjaga daya beli masyarakat terbawah.

Kebijakan fiskal harus diutamakan untuk kesejahteraan rakyat. Demikian pula dalam kebijakan moneter dan keuangan, harus ada pelonggaran agar masyarakat bisa mengakses sumber dana usaha lebih mudah dan murah.

Dengan begitu, peningkatan daya beli akan mendorong tingkat konsumsi yang lebih baik. Multiplayer dunia usaha juga akan bergerak karena harus menambah pasokan dan meningkatkan produksi. Lalu akhirnya, pertumbuhan ekonomi dapat naik lebih tinggi.

Menanggapi pemerintah yang ingin menggenjot investasi dan ekspor, ia menilai, keduanya pun penting setelah peran konsumsi rumah tangga. Hanya saja konsumsi rumah tangga masih jadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi sebab porsinya masih terbesar yakni 55 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Aziz meyakini dalam perspektif perekonomian syariah, ekspor dan investasi ini bisa dipacu jika dikaitkan dengan perkembangan produk halal. Pemerintah dapat menarik investasi besar-besaran dengan menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi barang dan pariwisata halal global.

Dia mengatakan, sektor tersebut memiliki potensi serta pasar besar, sehingga bisa menjadi alternatif sumber pertumbuhan yang sangat baik untuk memacu investasi dan ekspor. Hal itu karena, rantai pasok produk serta pariwisata halal akan panjang, dan bisa memberikan efek berjenjang ke perekonomian yang luas dan besar.(Antara/Republika/PH)