Tiga Risiko Ekonomi Indonesia Di Tahun 2018
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i48215-tiga_risiko_ekonomi_indonesia_di_tahun_2018
Bank Dunia memprediksi tiga potensi risiko yang akan menerpa perekonomian Indonesia pada tahun 2018 mendatang. Country Director Bank Dunia untuk Indonesia, Rodrigo A. Chavez menyebut tiga potensi risiko tersebut adalah perlambatan konsumsi rumah tangga, pelemahan harga komoditas, dan gejolak pasar keuangan global.
(last modified 2026-04-28T13:34:36+00:00 )
Des 15, 2017 10:13 Asia/Jakarta

Bank Dunia memprediksi tiga potensi risiko yang akan menerpa perekonomian Indonesia pada tahun 2018 mendatang. Country Director Bank Dunia untuk Indonesia, Rodrigo A. Chavez menyebut tiga potensi risiko tersebut adalah perlambatan konsumsi rumah tangga, pelemahan harga komoditas, dan gejolak pasar keuangan global.

Meski pada kuartal III 2017 konsumsi rumah tangga cenderung meningkat, kata Rodrigo, namun potensi pertumbuhan untuk tahun mendatang masih tentatif atau belum pasti.

"Terdapat banyak sinyal beragam, terutama sampai triwulan (kuartal)," katanya dalam acara Indonesia Economic Quarterly 2017 di Jakarta, Kamis, 14 Desember 2017, seperti dimuat Tempo.co.

Rodrigo mengatakan potensi penurunan konsumsi rumah tangga harus sangat diperhatikan karena akan berdampak besar pada pengeluaran. Lebih dari separuh Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia, kata Rodrigo, adalah komponen konsumsi rumah tangga.

Bank Dunia telah memperkirakan ekonomi Indonesia di tahun 2018 masih akan tumbuh sedang. PDB Indonesia diprediksi tumbuh sekitar 5,3 persen, lebih rendah 0,1 persen dari target pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (2018) sebesar 5,4 persen. Penerimaan negara juga diperkirakan berada di level Rp 1.886 triliun, sedikit lebih rendah dari target pemerintah sekitar Rp 1.895 triliun.

Menurut Rodrigo, penurunan harga komoditas di tahun mendatang patut diwaspadai. Meski pemerintah telah melakukan diversifikasi ekonomi dalam beberapa tahun terakhir, perekonomian Indonesia masih sangat ditopang oleh sektor komoditas. "Penurunan harga komoditas dapat melemahkan nilai tukar perdagangan dan memberi tekanan pada penerimaan negara," ujarnya.

Terakhir, kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, juga diprediksi memicu gejolak pasar keuangan. Pada Rabu lalu, 13 Desember 2017, The Fed resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25 persen ke kisaran 1,25-1,50 persen.

"Gejolak ini dapat menyebabkan arus modal keluar secara tiba-tiba dari negara berkembang seperti Indonesia," kata Rodrigo.

Meski demikian, Bank Dunia menilai fondasi makro ekonomi Indonesia saat ini masih sangat kuat. Ekonom Bank Dunia, Frederico Gil Sander mengatakan pemerintah Indonesia punya cukup persiapan untuk menghadapi potensi resiko, bahkan krisis. Salah satu indikatornya adalah meningkat level ekspor, pasca perbaikan nilai komoditas.

"Saya optimistis, Indonesia telah banyak belajar dari kondisi perekonomian sebelumnya," ujarnya.

Bank Dunia Sebut Perekonomian RI Positif

Bank Dunia mencatat sejumlah tren positif perekonomian Indonesia pada kuartal ketiga 2017. Ekonom Bank Dunia, Frederico Gil Sander, menilai tren ini bisa menjadi pendorong percepatan ekonomi Indonesia tahun 2018.

"Sektor manufaktur mulai mendominasi perekonomian Indonesia dan kinerja ekspor membaik, ini kondisi yang bagus," kata Frederico dalam acara Indonesia Economic Quarterly 2017 di Jakarta.

Tren yang positif, menurut Frederico, juga terjadi pada investasi di sektor mesin dan peralatan. Dia mengatakan investasi mesin dan peralatan, khususnya di sektor tambang, mayoritas terkait dengan aktivitas ekspor. "Ini hal yang bagus seiring dengan perbaikan harga komoditas," ujarnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat tren positif yang sama pada kuartal ketiga 2017. Pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,06 persen, atau membaik dari kuartal pertama dan kuartal kedua 2017, yang hanya sebesar 5,01 persen.

Pada paruh pertama 2017 atau semester pertama, kata Frederico, tingkat konsumsi masyarakat Indonesia memang beberapa kali tercatat menurun. Penurunan ini terjadi karena beberapa faktor, seperti kenaikan tarif listrik untuk pelanggan volt-ampere (VA). "Ini cukup berdampak bagi konsumsi masyarakat," ucapnya.

Selain itu, penurunan konsumsi terjadi setelah diterapkannya kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty). Sebab, pemerintah mendorong masyarakat semakin taat pajak untuk mendongkrak penerimaan negara di sektor ini.

Namun, pada kuartal ketiga, tingkat konsumsi kembali mengalami perbaikan, terutama karena adanya momentum Idul Fitri. Faktor lain adalah menurunnya angka pengangguran hingga 5,5 persen pada Agustus 2017 dan pergerakan rupiah yang stabil.

Frederico juga mengaku tidak percaya terhadap siklus krisis ekonomi setiap 10 tahun, yang diprediksi menerpa Indonesia tahun depan. Dia menilai kondisi Indonesia saat ini sudah jauh membaik dibanding saat krisis pada 1998 dan 2008.

Frederico mengatakan Indonesia banyak belajar dari beberapa krisis yang sebelumnya terjadi. "Saya rasa Indonesia telah memiliki persiapan yang lebih baik untuk menghadapi segala macam risiko, terutama setelah tahun 2013." (Tempo.co)