Perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia
-
Aset perbankan syariah pada sektor industri keuangan syariah mencapai Rp435 triliun pada 2017 atau 5,8 persen dari total aset perbankan Indonesia.
Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), Ahmad Satori Ismail berharap pemerintah mau memberikan kesempatan bagi berkembangnya ekonomi syariah di Indonesia. Menurutnya, perbankan syariah masih belum mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia.
Padahal, perkembangan ekonomi syariah di Indonesia makin ke arah positif. Bahkan, perekonomian dan keuangan syariah disinyalir dapat menjadi lokomotif perekonomian Indonesia.
"Ekonomi syariah seharusnya bisa menjadi lokomotif perekonomian, apalagi saat ini untuk bisnis perbankan sudah sangat menjanjikan,” kata Ahmad seperti dilansir Antara, Senin, 26 Maret 2018.
Menurutnya, tidak sedikit bisnis perbankan yang mulai 'melirik' sistem ekonomi syariah. "Banyak bank konvensional yang membuka pintu untuk sistem syariah karena tidak akan rugi," ujar Ahmad.
"Apalagi jika MUI terus menggelorakan, seperti wisata syariah, asuransi syariah, pasar modal syariah maka diharapkan akan terus berkembang," tambahnya.
Ahmad menuturkan dua hal yang perlu diperhatikan guna memajukan ekonomi syariah yakni harus bersaing dengan pengelola perbankan konvensional dan meningkatkan pemahaman masyarakat.
Pada kesempatan berbeda, Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Nailul Huda, mengakui bahwa potensi ekonomi Syariah di Indonesia sangat besar. Apalagi mayoritas penduduk di negara ini adalah muslim. Ini akan jadi kekuatan tersendiri.
Nailul menyatakan tantangan penerapan ekonomi syariah terletak pada sektor penting seperti perdagangan yang menyerap banyak tenaga kerja dan pendorong perekonomian. Ia menyarankan pemerintah mengembangkan perbankan syariah terlebih dahulu kemudian menggerakkan perdagangan.
Ia menyambut baik hasil rapat kerja Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) yang berlangsung akhir pekan kemarin. Salah satu keputusan yang diambil dalam rapat tersebut adalah penempatan Kepala Staf Presiden Jenderal (purn) Moeldoko sebagai wakil ketua Pembina Pengurus Pusat MES.
Sesudah dilantik kemarin, Moeldoko menegaskan bahwa Indonesia berpotensi mengembangkan sektor ekonomi syariah karena mayoritas beragama Islam. Ia juga menekankan komitmen pemerintah yang ingin serius menggarap potensi ekonomi syariah agar Indonesia tidak hanya sebagai konsumen maupun pangsa pasar industri bagi negara lain.
Berdasarkan data, Moeldoko mengungkapkan penggunaan pembiayaan syariah mencapai 41,8 persen yang sebagian digunakan unuk konsumsi sedangkan pembiayaan modal kerja sebanyak 34,3 persen dan investasi sekitar 23,2 persen.
Moeldoko memaparkan aset perbankan syariah pada sektor industri keuangan syariah mencapai Rp435 triliun pada 2017 atau 5,8 persen dari total aset perbankan Indonesia.

Cadangan Migas Indonesia Hanya Sampai 12 Tahun
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar mengatakan Indonesia memiliki cadangan minyak bumi sekitar 3,3 miliar barel. Namun cadangan ini pun tidak akan berlangsung lama.
Dengan asumsi produksi konstan 800.000 barel per hari (bph) tanpa adanya temuan cadangan baru, maka dalam 11 hingga 12 tahun ke depan, Indonesia tidak mampu memproduksi minyak bumi lagi.
"Tapi ini mungkin tidak 11-12 tahun ke depan, karena produksi akan turun. Tahun depan mungkin turun menjadi 700.000 bph dan seterusnya," ujar Arcandra dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa (27/3/2018).
Arcandra pun menginginkan adanya faktor teknologi dan temuan cadangan baru agar keberlangsungan produksi minyak bumi di Indonesia tetap terjaga. Mengingat, teknologi eksploitasi minyak bumi saat ini hanya dapat mengambil 40%-50% cadangan minyak dari dalam perut bumi.
"Sampai saat ini belum ada teknologi yang bisa menguras lebih. Selama belum bisa menemukan teknologi itu, kita tidak akan bisa memproduksi lebih dari itu. Untuk gas lebih baik, karena kita masih (memiliki cadangan) 25-50 tahun ke depan," katanya.
Lebih lanjut Arcandra menjelaskan, cadangan terbukti minyak Indonesia yang mencapai 3,3 miliar barel tersebut bukanlah cadangan yang melimpah. Bila dibandingkan dengan cadangan terbukti minyak dunia, hanya setara dengan 0,2%. Selain itu, Reserve Replacement Ratio (RRR) Indonesia juga dinilai masih rendah.
"Kita hanya mampu reserve replacement ratio 50%. Itu adalah rasio berapa banyak yang kita ambil terhadap berapa banyak (cadangan minyak) yang kita temukan. Kita dua kali lebih banyak mengambil daripada menemukan, sementara negara-negara tetangga RRR-nya banyak yang di atas 100%," pungkasnya. (Antara/Metrotv/Sindonews)