Dukungan Putera Mahkota Saudi terhadap Israel di Mata Media Indonesia
-
Mohammed bin Salman
Bertambahnya jumlah korban jiwa dari pihak Palestina yang menjadi sasaran serangan pasukan Israel dalam pawai hak kepulangan pengungsi Palestina di jalur Gaza hari Jumat (30/3) memicu reaksi dari berbagai kalangan.
Ketika publik dunia, termasuk Uni Eropa mengkritik sikap Israel, Putera Mahkota Arab Saudi justru menyampaikan statemen yang cenderung membenarkan sikap represif pasukan rezim Zionis. Masalah ini menjadi sorotan media massa Indonesia.
Situs koran Republika menurunkan tulisan hari Selasa (3/4) berjudul," Saudi Bicara Hak Israel Hidup Damai di Tanah Mereka," yang mengungkap pandangan Pangeran Mohammed bin Salman mengenai sengketa antara Palestina dan Israel.
Tanpa ada sedikitpun kritik terhadap Israel, putera Raja Salman ini menyebut Israel berhak hidup dengan damai di tanahnya sendiri. Situs Republika menilai pernyataan ini memperkuat indikasi penguatan hubungan di balik layar antara Israel dan Arab Saudi.
Padahal hingga kini, sebanyak 18 orang Palestina gugur dan lebih dari 1.400 lainnya luka-luka akibat serangan tentara Israel dalam aksi demonstrasi mendukung hak kepulangan pengungsi Palestina.
Isu senada juga diangkat situs CNN Indonesia dengan mengangkat topik "Putra Mahkota Saudi Sebut Israel Berhak atas Tanahnya Sendiri".
Dalam wawancara dengan sebuah majalah Amerika Serikat (AS) The Atlantic yang terbit pada Senin (1/4), Mohammed bin Salman mengungkapkan, "Saya yakin orang Palestina dan Israel memiliki hak untuk memiliki tanah mereka sendiri. Tetapi kita harus memiliki perjanjian damai untuk menjamin stabilitas bagi semua orang dan memiliki hubungan normal,".
Tidak hanya itu, Bin Salman juga menegaskan dirinya tak mempermasalahkan Israel hidup berdampingan dengan warga Palestina selama Al-Aqsa terlindungi.
CNN Indonesia melaporkan, sejak 2012, Saudi memang mendukung penuh Inisiatif Perdamaian Arab, yang terus menggaungkan solusi dua negara dalam konflik Israel dan Palestina. Namun, belum pernah ada pejabat tinggi Saudi yang dengan lantang mengatakan bahwa Israel memiliki "hak" atas tanah tertentu.
Tampaknya pernyataan terbaru pangeran bin Salman menunjukkan dengan jelas sikapnya yang memihak Israel, tapi di satu sisi tidak ingin kehilangan dukungan dari negara-negara Muslim.
Situs Republika melaporkan, Arab Saudi membuka wilayah udaranya untuk pertama kalinya bagi penerbangan komersial ke Israel bulan lalu. Seorang pejabat Israel memujinya sebagai hal bersejarah setelah upaya yang dilakukannya selama dua tahun.
Pada November, seorang anggota kabinet Israel mengungkapkan kontak terselubung dengan Arab Saudi. Ini adalah pengakuan yang jarang dari transaksi rahasia yang lama dirumorkan, yang masih disangkal oleh Riyadh.
Di permukaan, Arab Saudi tampil seolah tidak setuju dengan tindakan Presiden AS Donald Trump untuk mengakui Baitul Maqdis sebagai ibu kota Israel tahun lalu. Tetapi para pejabat Arab mengatakan pada saat itu bahwa Riyadh tampaknya berada 'satu kapal' dengan strategi AS yang lebih luas untuk rencana perdamaian Israel-Palestina yang masih dalam tahap awal fase pengembangan.
Arab Saudi dikabarkan mengajukan prakarsa perdamaian Israel-Palestina dengan menawarkan Abu Dis, sebuah kota dekat Yerusalem Timur, untuk menjadi ibu kota Palestina, pada pertemuan yang terjadi November lalu.
Desember lalu, situs Republika mengutip Middle East Monitor mengungkapkan prakarsa tersebut sebagai alternatif jika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
Berdasarkan kesepakatan Oslo, Abu Dis dikategorikan sebagai wilayah B, yang dikelola bersama Israel dan Otoritas Palestina.
Usulan Abu Dis sebagai ibu kota Palestina ini pertama kali diungkapkan oleh situs New York Times pada 3 Desember lalu. Mereka melaporkan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman mengajukan proposal tersebut saat kunjungan Presiden Palestina Mahmoud Abbas ke Riyadh bulan lalu.
Menurut proposal itu, Arab Saudi akan mendapatkan wilayah yang bersebelahan di Tepi Barat dan Jalur Gaza dimana mereka memiliki kedaulatan parsial. Sedangkan permukiman Israel di Tepi Barat tetap dipertahankan.
Proposal itu tidak memberikan hak bagi pengungsi Palestina dan keturunannya yang tinggal di negara lain untuk kembali ke Israel.
Sikap Arab Saudi yang merapat dengan Israel dipersoalkan berbagai kalangan, termasuk di Indonesia. Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) menyesalkan sikap Pemerintah Arab Saudi yang membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Menurut Ketua Umum ICMI, Jimly Asshidiqie, sikap Arab Saudi yang tengah berkonflik dengan Iran tersebut tanpa mempertimbangkan konflik yang tengah dialami Palestina dan tak kunjung selesai.
Kondisi hubungan negara di Timur Tengah inilah yang dimanfaatkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Menurut Jimly, hubungan Arab Saudi dengan Israel tersebut juga turut memperlemah posisi dunia Islam.
"Jadi kita tidak hanya mengecam Amerika Serikat, tapi sikap Saudi Arabia itu juga harus kita kritik. Jadi dunia Islam jangan terpecah belah," kata Jimly, dilansir situs Republika.
Jimly menegaskan, ICMI mengecam keras dan mengutup keputusan Amerika yang mengakui secara sepihak Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Keputusan AS itu, kata dia, membuktikan Amerika gagal dalam menciptakan perdamaian dan menyelesaikan konflik Palestina-Israel.(Republika/CNNIndonesia/PH)