Wawancara Eksklusif Menteri PPPA RI Mengenai Kunjungannya ke Iran
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i60599-wawancara_eksklusif_menteri_pppa_ri_mengenai_kunjungannya_ke_iran
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI (PPPA) Prof. Dr. Yohana Susana Yembise di sela acara ramah tamah bersama dengan diaspora Indonesia di Iran memberikan kesempatan kepada Parstoday –merupakan bagian dari The Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) – untuk mewancarai beliau seputar latar belakang kunjungan ke Republik Islam Iran.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Aug 05, 2018 10:57 Asia/Jakarta
  • Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Prof. Dr. Yohana Susana Yembise.
    Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Prof. Dr. Yohana Susana Yembise.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI (PPPA) Prof. Dr. Yohana Susana Yembise di sela acara ramah tamah bersama dengan diaspora Indonesia di Iran memberikan kesempatan kepada Parstoday –merupakan bagian dari The Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) – untuk mewancarai beliau seputar latar belakang kunjungan ke Republik Islam Iran.

Acara yang berlangsung di Wisma Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tehran pada Senin malam, 30 Juli 2018 itu berlangsung cukup akrab dan penuh persaudaraan.  

Menteri PPPA RI Yohana Susana Yembise menyampaikan sambutan di acara ramah tamah di Wisma Dubes RI untuk RII di Tehran

 

Parstoday: Selamat malam Ibu Menteri. Senang sekali bisa mewancari Ibu,  selamat datang di kota Tehran.

 

Oh senang sekali saya bisa berkunjung  ke kota Tehran.

 

Parstoday: Kami ingin mengetahui seputar perjalanan Ibu di sini. Tapi mungkin sedikit gambaran, mohon Ibu bisa menceritakan alasan di balik perjalanan dinas ini?

 

Jadi… mengapa sampai saya bisa tiba di kota Tehran, itu karena merupakan tindaklanjut dari pertemuan saya dengan Former Vice President Women's Empowerment and Family Affairs di Mashhad di tahun 2017. Dan pada saat itu kami mengikuti acara "The Summit of Women's Empowerment", itu adalah seminar internasional, dan pada saat itu saya dengan Former Vice President mengadakan bilateral meeting dan kami sepakati untuk membuat draf MoU di mana Iran sangat tertarik sekali bekerja sama dengan kami di bidang pemberdayaan perempuan.

 

Namun baru saja terlaksana di saat ini setelah dua kali Vice President yang baru ini, Vice President yang sama, Women's Empowerment and Family Affairs mengunjungi Indonesia berturut-turut di tahun ini, pada saat bulan Februari satu kali, dan baru saja bulan lalu, datang dan mengundang saya untuk ke Iran menghadiri International Seminar on Women's Empowerment di bidang informasi dan teknologi, dan itu yang menyebabkan saya datang.

 

Sebelum saya datang, tim kami sempat membahas secara khusus tentang draf MoU itu dengan Vice President dan saya tindak lanjutinya dengan melakukan pertemuan internal kementerian bekerja sama dengan kementerian luar negeri. Akhirnya, kita muncul dengan satu kesepakatan yang kami sesuaikan dengan kondisi riil kami yang ada di Indonesia.

 

Kami ini adalah kementerian koordinatif yang... adapun program-program atau hal-hal teknis yang dilakukan di lapangan dapat kami komunikasikan atau koordinasikan dengan kementerian terkait lainnya yang berhubungan dengan perempuan dan anak."

 

Parstoday: Kira-kira poin-poin penting apa isi kesepakatan tersebut?

 

Kesepakatannya kebanyakan dalam bidang Women's Empowerment dimana informasi teknologi ICT (Information and communication technology) ini menjadi perhatian utama kita. Kami juga mengundang Ibu Nita Yudi, Ketua IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia), karena organisasi mereka banyak melakukan hal-hal yang berhubungan dengan empower perempuan di Indonesia dalam bidang Digital Technology. Jadi saya merasa Ibu Nita Yudi ini sangat tepat sekali.

 

Jadi pada saat kita membuat MoU ini, nanti setelah itu akan ditindaklanjuti oleh Ibu Nita Yudi dengan kementerian ini, terutama perempuan-perempuan di Iran dalam rangka mengembangkan ICT sebagai bagian dari Business Women Entrepreneur."

 

Parstoday: Dari penjelasan wakil presiden Iran di bidang perempuan itu, kira-kira apa yang tergambar oleh ibu, yang dia disampaikan?"

 

Saya banyak berkomunikasi dengan Pak Dubes mengenai hal ini, namun yang bisa saya tangkap, dua kali berturut-turut beliau datang dan pengen bertemu dengan saya dan itu menjadi satu daya tarik tersendiri, kok bisa,.. Iran mau bekerja sama dengan kami. Sebelum itu, saya pergi ke Afghanistan. Dan Afghanistan ini juga yang meminta saya untuk membantu mendampingi perempuan-perempuan di Afghanistan, dan First Lady-nya juga kan pernah di tahun lalu, di bulan Februari mengundang saya ke Afghanistan, di 2016.

 

Saya mungkin menteri setelah Soekarno dulu yang pergi untuk menjadi pembicara utama di seminar internasional "Afghan Women, Messengers of Peace" dan bicara mengenai Pancasila, berbicara mengenai tingkat toleransi yang cukup tinggi kepada mereka, tapi kembali lagi ke Iran, sekarang Iran juga tertarik dengan kami.

 

 

Parstoday: Sejauh mana Iran dan Indonesia peduli tentang perlindungan anak dan perempuan?"

 

Ya,.. tadinya dalam MoU itu kan tidak ada Child Protection, hanya Women's Empowerment, karena itu saya masuk ke Child Protection, karena berhubungan dengan teknologi ini juga, anak-anak kita harus save dari teknologi ini, pengaruh buruk teknologi, mereka kadang jadi victim bullying di internet, mereka jadi korban dan pelaku kejahatan seksual. Masalah konten pornografi banyak muncul di gawai akhirnya menggangu anak-anak.

 

Parstoday: Kalau perlindungan perempuan di Iran bagaimana menurut bu?

 

Perlindungan perempuan, saya pikir tadi setelah saya ikuti di Social Emergency Center, kelihatannya mereka melindungi perempuan, melindungi anak-anak, khususnya perempuan, mereka punya Hotline 123, anything happen ke perempuan, mereka telepon, dan ditangani secara baik, kalau memang tidak bisa dijawab, diarahkan, dirujuk ke kementerian terkait atau organisasi-organisasi lain untuk menangani masalah itu. Indonesia belum ada, kita belum, kebanyakan kita pakai Mobile Phone atau biasanya lapor ke polisi.

 

Parstoday:  Kira-kira apa harapan ibu hasil dari kesepakatan ini?

 

Saya mengharapkan dengan adanya kesepakatan ini akan menambah keakraban ataupun menjalin kerja sama yang lebih baik. Lebih dekat lagi karena Iran dan Indonesia, Moslem countries.  Kita bisa menjawab masalah yang sekarang muncul di negara-negara Muslim seperti Family dengan Children.

 

Family ini kan menjadi isu utama sekarang, menjadi perhatian kita semua di negara-negara Islam termasuk Indonesia, masalah ketahanan keluarga. Jadi.. family resilience yang memang ditangani oleh wakil presiden ini dengan mengadakan dialog-dialog dengan  keluarga, dan itu yang akan kami adopsi ke Indonesia.

 

Kami masih sangat kurang berdialog dengan keluarga-keluarga. Dengan fokus pada anak dan perempuan di kedua negara, kami bisa share best practices untuk bisa saling membantu sesama negara Muslim.

 

Saya pikir Indonesia dan Iran bisa menyelamatkan perempuan dan anak, itu penting.. karena akan menghasilkan generasi-generasi ke depan.

 

Parstoday: Ada enggak ibu kira-kira bentuk-bentuk kegiatan yang lebih konkret, misalkan bikin workshop bareng, atau penanganan lebih lanjut ke tingkat teknis?"

 

Kami berencana membuat Joint Research antara Iran dengan Indonesia. Kami akan lihat apakah itu bisa dilaksanakan dengan pusat studi wanita, di perguruan-perguruan tinggi negeri maupun swasta Indonesia dengan yang ada di Iran.

 

Nanti setelah pulang, saya baru bicara secara ke dalam dengan kementerian kami untuk menentukan dan menyesuaikannya dengan anggaran di kementerian kami yang sangat sedikit, karena kami adalah menteri koordinatif, punya anggaran yang sedikit, jadi program kami dengan Iran, kami sesuaikan dengan kondisi riil di lapangan.

 

Parstoday: Pertanyaan terakhir, bisa diceritakan perjalanan kehidupan Ibu, hingga bisa menekuni bidang ini, kenapa pak Jokowi tertarik untuk mengangkat Ibu menjadi menteri …?

 

Saya sebenarnya bukan orang birokrat, saya dosen di Universitas Cenderawasih di Jayapura, Papua. Saya pendidik, jadi dosen, hampir 30 tahun di universitas.

 

Pengalaman belajar, saya lulus di Universitas Cenderawasih S1, diploma saya di  linguistik di Singapura (Regional Language Center (RELC), SEAMEO Singapura, pada tahun 1992), kemudian pindah lagi ke Kanada di Simon Fraser University untuk master saya di bidang Teaching English, Foreign Language.

 

Ph.D saya di Universitas Newcastle di Australia. Akhirnya saya kembali, kerja keras dan muncullah gelar professor, Guru Besar, dan saya kembali mengajar di bidang pengembangan kurikulum dan bahan ajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

 

Insting guru itu bisa dipakai untuk memimpin, apalagi berhubungan dengan perempuan dan anak, itu pasti berkedekatan atau ada.., mungkin karena itu Bapak Presiden memilih saya jadi menteri. Berbagai macam pengalaman saya hadapi, baik di luar atau dalam negeri, termasuk bisa menjawab permasalahan-permasalahan yang terjadi yang saya tekuni sekarang.

 

Parstoday: Terakhir Ibu, kira-kira bagaimana perasaan ibu pakai kerudung di sini? Apakah ini pengalamanan baru?

 

Saya ke mana-mana, saya sesuaikan dengan kondisi tempat, itu kontekstual sekali, untuk menghargai… saya waktu dulu masih kuliah, kemana-mana juga sering diajak teman-teman (Muslimah) pergi, sudah terbiasa, jadi saya tidak merasa hal yang baru.