Presiden Indonesia Serukan Transparasi Kasus Khashoggi
-
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dan Menlu Arab Saudi, Adel Al-Jubeir
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo menyerukan investigasi yang transparan dalam kasus terbunuhnya jurnalis kritis Arab Saudi, Jamal Khashoggi.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Jokowi dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel Al-Jubeir hari Senin (22/10) di Istana Bogor.
Presiden Jokowi menyampaikan keprihatinannya atas kasus tersebut, dan berharap agar kasus tersebut diinvestigasi secara transparan.
"Presiden tadi menyampaikan keprihatinan atas kasus tersebut dan Indonesia mengharapkan investigasi yang sedang dilakukan saat ini transparan dan seksama," ujar Menteri Luar Negeri Retno Marsudi seusai pertemuan di Kompleks Istana Presiden Bogor, Senin (22/10/2018).
Sebelumnya, Abdul Manan, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) meminta publik internasional menghentikan tindakan Arab Saudi yang membungkam kritik dengan berbagai cara termasuk pembunuhan.
“Tindakan seperti ini harus dihentikan, dikutuk secara keras oleh komunitas dunia agar tidak terus berulang,” ujar Ketua AJI Indonesia Abdul Manan hari Minggu (21/10).
Khashoggi, seorang wartawan dan kolumnis Saudi untuk The Washington Post, telah hilang sejak memasuki Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.
Manan menilai lamanya waktu yang diambil Saudi untuk mengakui kematian Khashoggi, ditambah cerita versi sendiri tentang kematian tersebut membuatnya janggal.

Insiden ini menambah daftar panjang kekerasan terhadap jurnalis secara global. Data terbaru dari Reporter Tanpa Batas (RSF) menunjukkan bahwa 57 wartawan, 10 jurnalis warga, dan sejumlah awak media tewas selama 2018.
Di Arab Saudi saja, ada sekitar 25 - 30 jurnalis profesional dan non-profesional yang kini berada di tahanan.
Arab Saudi menempati peringkat ke-169 dari 180 negara dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia 2018, yang mengindikasikan perlakuan buruk negara terhadap jurnalis mereka.(PH)