Peneliti: Informasi Agama di Media Dibayangi Politik Elektoral
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i64680-peneliti_informasi_agama_di_media_dibayangi_politik_elektoral
Sentimen politik elektoral menjelang semakin dekatnya pemilu presiden dan legislatif memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek, termasuk di antaranya penyebaran konten agama di media.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Nov 27, 2018 08:28 Asia/Jakarta
  • Peneliti:  Informasi Agama di Media Dibayangi Politik Elektoral

Sentimen politik elektoral menjelang semakin dekatnya pemilu presiden dan legislatif memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek, termasuk di antaranya penyebaran konten agama di media.

Situs Antara melaporkan, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Wahyudi Akmaliyah menilai sentimen politik elektoral bisa membawa ancaman bagi mediatisasi agama atau penyebaran informasi agama di media.

Pasalnya, berbagai kepentingan bisa muncul dari politik elektoral dan isu agama yang mudah disebarkan melalui media cenderung gampang dimanfaatkan.

Menurut Wahyudi, keberadaan media baru seperti media sosial diakui atau tidak telah menciptakan kubu-kubu baru dalam masyarakat.

"Demonstrasi pembubaran organisasi Hizbut Tahrir Indonesia misalnya, sebetulnya bukanlah isu yang begitu besar. Namun, ketika hal ini dikaitkan dengan politik elektoral, dampaknya akan sangat luas," kata Wahyudi dilansir Antara hari Senin (26/11)

Dalam seminar bertajuk "Mediatisasi Agama: Peluang atau Ancaman?" yang diselenggarakan di kantor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, Senin, Wahyudi mengemukakan kekhawatirannya mengenai pemanfaatkan mediatisasi agama untuk kepentingan politik, terutama politik elektoral.

"Misalnya predator politik bisa muncul, terus kelompok konservatif yang bisa mendapatkan suara di sana," kata Wahyudi.

Predator politik yang dia maksud adalah mereka yang berani menghalalkan apa saja untuk memenangi kontestasi politik. Tipe seperti ini tak memikirkan dampak cara yang dia gunakan terhadap perpecahan.

Wahyudi menjelaskan pula bahwa bahaya yang lebih besar bisa muncul kalau sampai buzzer politik memanfaatkan penyebaran informasi terkait agama di media. Kondisi tersebut bisa menciptakan polarisasi dalam masyarakat, mengingat di sosial media ada algoritma yang membuat seseorang hanya melihat apa yang dia sukai saja dan memunculkan fragmentasi-fragmentasi baru.

Kondisi tersebut diperburuk dengan budaya literasi yang belum begitu kuat. Di tengah derasnya informasi di era digital, tradisi membaca belum tumbuh subur di tanah Air. Akibatnya hoaks dnegan muah menyebar di mana-mana.

Peneliti LIPI ini menawarkan "Pembentukan 'antibodi' untuk mencegah ancaman tersebut, salah satunya bisa dilakukan dengan memperkuat basis tradisional seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. (Antara/PH)