Lagi, Rupiah Terimbas Perang Dagang AS-Cina
-
Rupiah dan dolar AS
Rupiah dan mata uang negara lain di Asia kembali melemah setelah Presiden AS Donald Trump menunjukkan sikap tidak akan melunak terhadap Beijing mengenai penentuan tarif bea masuk terhadap produk impor dari Cina.
Situs Antara hari Rabu (28/11) melaporkan pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu pagi ini melemah sebesar 18 poin menjadi Rp14.527 dibandingkan posisi sebelumnya Rp15.509 per dolar AS.
Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada di Jakarta, Rabu mengatakan Dolar AS kembali meningkat terhadap sejumlah mata uang di kawasan Asia, termasuk Rupiah setelah Presiden AS Donald Trump menunjukan tidak akan melunak dengan Cina. Meskipun demikian, pelemahan rupiah relatif masih terbatas di tengah masih kuatnya keyakinan pasar terhadap ekonomi nasional.
Menyikapi berlanjutnya perang dagang antara AS dan Cina, Presiden Joko Widodo menyatakan para pengusaha harus cepat menyikapi masalah tersebut. Berdasarkan laporan yang ia terima dari menteri dan pengusaha, perang dagang telah mendorong banyak industri di China berniat mengalihkan investasinya ke ASEAN, termasuk Indonesia.
"Banyak minat, beberapa pabrik ingin pindah ke negara ASEAN termasuk Indonesia agar terhindar dari tarif impor mitra perang dagang," ucap Jokowi di CEO Forum, Selasa (27/11) dilansir CNN Indonesia.
Jokowi mengatakan minat tersebut harus dilihat dan ditangkap pengusaha dalam negeri. Ia meyakini pengusaha pasti selalu bisa melihat kesempatan di balik kesempitan atau permasalahan yang terjadi.
Menurutnya, peluang investasi terbuka lebar. Pasalnya, perang dagang ia perkirakan tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Perkiraan tersebut ia dasarkan pada hasil pelaksanaan KTT APEC di Papua Nugini beberapa waktu lalu. Dalam KTT tersebut, untuk pertama kalinya dalam 29 tahun, APEC gagal menghasilkan kesepakatan bersama.
Jokowi mengatakan pemerintahannya akan selalu mendukung pengusaha dalam pemanfaatan peluang yang ada dari perang dagang antara AS dan Cina.(Antara/CNNIndonesia/PH)