Hari Ibu 2019, Angkat Isu Pemberdayaan Perempuan
-
Menteri PPPA Indonesia, I Gusti Ayu Bintang
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang Darmawati Puspayoga mengatakan peringatan Hari Ibu 2019 harus menjadi momentum untuk memberdayakan perempuan di seluruh Indonesia.
Menteri Bintang menegaskan, tema peringatan Hari Ibu 2019 adalah 'Perempuan Berdaya Indonesia Maju'. Menurutnya, perempuan di seluruh pelosok Indonesia harus bisa berdaya.
Menteri PPPA meminta seluruh organisasi perempuan untuk berperan aktif dalam memberdayakan perempuan di seluruh Indonesia. Ia menilai, para pengurus organisasi perempuan adalah perempuan-perempuan yang tentu sudah berdaya.
Dari para perempuan berdaya yang menjadi pengurus organisasi perempuan itu, Bintang berharap hal itu bisa mengelinding seperti bola salju untuk membuat perempuan-perempuan lain yang diberdayakan organisasi-organisasi perempuan untuk lebih berdaya.
Beberapa agenda yang sudah dilakukan dalam Pekan Perempuan Berdaya Indonesia Maju antara lain Bincang Bintang yang bekerja sama dengan PT Permodalan Nasional Madani untuk berdialog kepada perempuan-perempuan yang diberi bantuan modal melalui program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar).
Selain itu, juga ada agenda EduAksi yang diadakan di Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) Kalijodo, Jakarta dengan menghadirkan sejumlah narasumber untuk mengampanyekan tentang pengasuhan anak dan kesehatan.
Kemudian juga ada Shenergy Kreasi dengan menghadirkan sejumlah narasumber pelaku wirausaha untuk berbagi pengalaman dalam menggunakan teknologi informasi untuk mendukung usaha yang dilakukan para perempuan. Puncak Peringatan Hari Ibu 2019 akan diadakan di Kota Lama Semarang pada Minggu (22/12) sore.
Dari Iran, KBRI Tehran juga menggelar acara spesial dalam meramaikan Hari Ibu dengan menggelar diskusi "Dari Perempuan untuk Perempuan" hari Sabtu (21/12) yang menghadirkan tiga pembicara perempuan dengan latar belakang berbeda.
Dimulai oleh Afifah Ahmad, perempuan penulis yang mengangkat masalah kesehatan mental dengan menceritakan tiga kisah dari perempuan inspiratif dan dorongannya agar kaum laki-laki bisa memberikan keleluasan ruang untuk kaum perempuan berekspresi dan mengembangkan kreatifitasnya. Kemudian dilanjutkan oleh Hj. Ani Surya yang berbagi pengalaman dengan profesinya sebagai guru selama 40 tahun di Jambi dan Jakarta disamping tugasnya sebagai ibu yang tidak ditinggalkannya.
Sebagai pembicara terakhir, Haryati mengawali pembicaraannya dengan menceritakan peristiwa yang melatarbelakangi ditetapkannya 22 Desember sebagai Hari Ibu oleh Presiden Soekarno. Menurutnya memperingati Hari Ibu tidak cukup hanya dengan seremonial saja, namun juga harus ada refleksi yang dilakukan kaum Ibu, di antaranya adalah dengan mengadakan diskusi dan kajian khusus memperingati Hari Ibu.
Diskusi memperingati Hari Ibu ini dimoderatori oleh Salsabila Kenangi Urrachman Kadep Kajian Keilmuan dan Intelektual IPI Iran 2019-2021, yang berlangsung mulai dari pukul 15.00 sampai 17.30 waktu setempat. Hadir memberikan sambutan di awal acara, pejabat Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Tehran Tety Mudrika Hayati dan pejabat Fungsi Politik KBRI Tehran Priaji Soelaiman. Rangkaian acara peringatan hari Ibu WNI di Iran diakhiri upacara yang berlangsung hari Minggu (22/12/2019) di KBRI Tehran.(PH)