Mobilisasi Nelayan Pantura di Natuna akan Picu Gesekan
-
Perahu-perahu nelayan Natuna
Rencana mobilisasi nelayan dari kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa ke Laut Natuna Utara dinilai akan menimbulkan gesekan dengan nelayan lokal. Oleh karena itu, pemerintah perlu mempertimbangkan rencana tersebut.
Pengamat kemaritiman Siswanto Rusdi menilai rencana ini akan menimbulkan masalah baru bagi para nelayan.
"Rencana itu bukan solusi. Malah akan menjadi masalah, paling tidak dengan nelayan Ranai (Natuna)," ujar dia.
Selain itu, dia mengingatkan gelombang di Natuna yang ganas akan menjadi kendala nelayan yang berasal dari wilayah Pantura Jawa untuk melaut di sana. Terlebih, nelayan tradisional tak menggunakan perahu besar.
"Saya tidak merendahkan kemampuan nelayan. Tapi kan setiap perairan berbeda. Nelayan Natuna saja kalau musim angin tidak melaut," ujarnya dilansir CNN Indonesia Rabu (15/1/2020).
Sebelumnya, nelayan Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, kompak menolak rencana kedatangan ratusan nelayan Pantai Utara (Pantura) Jawa melaut di perairan Natuna Utara. Penolakan itu salah satunya dikarenakan nelayan Pantura menggunakan alat tangkap cantrang.
"Alat tangkap cantrang dapat merusak ikan dan biota laut lainnya, sehingga akan merugikan nelayan itu sendiri," kata Ketua nelayan Desa Sepempang, Natuna, Hendri, dilansir Antara, Minggu (12/1/2020).
Selain itu, kata dia, nelayan Pantura menggunakan kapal yang lebih besar dan peralatan tangkap modern. Hal ini tentu membuat nelayan Natuna merasa tersaingi, karena armada mereka saat ini masih kecil dan peralatan tangkap yang ada sangat tradisional, yaitu berupa pancing ulur.
Ketua nelayan Desa Batu Gajah, Natuna, Kurniawan Sindro Utomo meminta Pemkab Natuna maupun pemerintah pusat memberdayakan nelayan setempat dibanding mendatangkan nelayan Pantura. Menurutnya, nelayan Natuna juga mampu melaut hingga ke ZEE asal didukung dengan kapal-kapal dan peralatan yang memadai. (PH)