Mengapa IAEA Tak Pernah Kecam Serangan ke Situs Nuklir Iran ?
-
Badan Energi Atom Internasional, IAEA
Dirjen Badan Energi Atom Internasional, IAEA Rafael Grossi, Selasa (7/6/2022) malam dalam sebuah wawancara di Wina, ditanya soal tuntutan Iran atas IAEA untuk mengecam serangan-serangan ke fasilitas nuklir negara itu.
Rafael Grossi mengatakan, "Dalam berbagai kasus saya secara terbuka mengecam aksi kekerasan terhadap siapa pun. Saya seorang diplomat dan berusaha mencari perdamaian, karenanya saya mengecam segala bentuk aksi kekerasan di mana pun, oleh siapa pun."
Sikap reaksioner Dirjen IAEA terkait aksi-aksi sabotase terhadap fasilitas nuklir Iran, dan teror atas ilmuwan serta pakar Iran, menunjukan bahwa ia bukan hanya tidak mau memberikan reaksi efektif dalam hal ini, bahkan dengan statemen-statemen tak berguna semacam itu, ia justru memberi lampu hijau kepada Rezim Zionis untuk melanjutkan kejahatannya.
Di sisi lain, Grossi secara tidak langsung menganggap tuntutan Iran terkait kecaman terhadap aksi sabotase atas fasilitas nuklirnya, hanya bisa dipenuhi jika Tehran bersedia meningkatkan kerja sama atau dengan kata lain mau tunduk pada kemauan IAEA.
Dirjen IAEA mengatakan, "Ketika masalah-masalah ini terselesaikan maka akan jelas sepenuhnya, dan Iran akan lebih mudah untuk bekerja sama."
Rezim Zionis sebagai musuh regional terbesar Iran, selalu menentang program nuklir damai Tehran, dan bukan hanya mengancam akan melancarkan serangan udara ke fasilitas nuklir Iran, tapi beberapa kali melakukan sabotase terhadap fasilitas nuklir negara ini.
Di antara serangan Israel adalah serangan ke fasilitas nuklir Natanz pada 10 April 2021. Sebelumnya pada 3 Juli 2020, Juru bicara Badan Energi Atom Iran mengabarkan "insiden" di pusat perakitan sentrifugal-sentrifugal di Natanz. Kejadian yang di kemudian hari baru diketahui sebagai aksi sabotase yang didalangi oleh Israel.
Aksi-aksi sabotase ini perlu mendapatkan reaksi dari IAEA sebagai lembaga internasional pengawas bahan dan aktivitas-aktivitas nuklir setiap negara dunia.
Pada kenyataannya, di antara negara-negara dunia yang memiliki program nuklir, Iran termasuk dari sedikit negara yang berulang kali fasilitas dan pusat-pusat nuklirnya menjadi sasaran serangan dan ancaman. Rezim Zionis yang memiliki arsenal nuklir besar selalu menegaskan untuk melawan kemampuan nuklir damai Iran.
Selain upaya terus menerus untuk meneror para ilmuwan nuklir Iran, dan yang terbaru adalah teror terhadap Syahid Mohsen Fakhrizadeh pada tahun 2020, Israel dalam beberapa tahun terakhir secara kontinu merancang dan melakukan berbagai serangan siber serta serangan fisik ke fasilitas nuklir Iran.
Salah satu serangan terpenting adalah serangan siber Israel bersama Amerika Serikat ke fasilitas nuklir Iran di Natanz, dengan menggunakan virus Stuxnet. Beberapa bulan sebelumnya yaitu pada Juni 2022, terjadi ledakan di gedung perakitan sentrifugal di Natanz, yang kemudian diakui media dan pakar Israel sebagai perbuatan Tel Aviv.
Pada saat itu, mantan Wakil tetap Iran di Organisasi-organisasi internasional di Wina, Kazem Gharibabadi dalam pidatonya di pertemuan musiman Dewan Gubernur IAEA mengatakan ledakan ini sebagai akibat dari sabotase, dan menuntut tindakan segera IAEA , serta agar lembaga tersebut mengecam aksi ini.
Gharibabadi mengatakan, "Dalam banyak resolusi konferensi umum IAEA ditegaskan, setiap serangan bersenjata dan ancaman terhadap fasilitas nuklir yang bertujuan damai dan berada di bawah Tindakan Pengamanan, adalah pelanggaran terhadap Piagam PBB, hukum internasional dan anggaran dasar IAEA."
Meskipun demikian, IAEA dan Rafael Grossi selaku Dirjen, selalu berusaha menghindar untuk mengecam serangan semacam ini. Realitasnya Grossi mengetahui dengan baik bahwa serangan-serangan ke fasilitas nuklir Iran, berlawanan dengan aturan IAEA, dan merupakan pelanggaran tegas terhadap hukum internasional.
Akan tetapi, berbeda dengan klaimnya terkait kebijakan netral IAEA, dan pribadi dirinya, selama ini dia dan IAEA selalu diam menyaksikan aksi-aksi sabotase dan serangan Rezim Zionis Israel ke fasilitas-fasilitas dan ilmuwan nuklir Iran, dan nampak merestuinya. (HS)