Perlawanan terhadap Arogansi Global dalam Perspektif Rahbar
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran pada peringatan 34 tahun haul Imam Khomeini yang digelar dengan antusias kehadiran masyarakat dan pejabat negara ini, kembali menegaskan urgensi perlawanan terhadap arogansi global.
Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei dalam penyataan yang disampaikan hari Minggu (4/6/2023) mengatakan, "Permusuhan arogansi dan Zionisme global terhadap bangsa Iran tidak akan pudar atau hilang, karena tujuan mereka adalah mengembalikan Iran ke era sebelum revolusi, yaitu era ketergantungan dan ketiadaan identitas,".
"Dalam beberapa pemerintahan pada dekade-dekade ini, orang-orang percaya untuk mundur dan memberikan kelonggaran. Tetapi di salah satu pemerintahan ini, negara yang sama mengeluarkan dakwaan terhadap presiden kita untuk menangkapnya, dan mengadiilinya secara inabsentia, atau di pemerintahan lain yang sayangnya membantu Amerika, mereka menyebut Iran sebagai poros kejahatan," ujar Rahbar.
Pernyataan penting Rahbar terkait dengan kelanjutan tekanan politik, ekonomi, dan propaganda musuh, terutama Amerika Serikat dan rezim Zionis, dengan tujuan memaksa Republik Islam Iran mundur dari isu-isu yang dipertentangkan, seperti kegiatan nuklir damai atau pengembangan senjata.
Faktanya, pada tahun-tahun setelah kemenangan Revolusi Islam, musuh yang dipimpin oleh Amerika Serikat telah menggunakan semua cara politik, ekonomi, bahkan militer untuk menekan Republik Islam Iran, tidak pernah membawa perubahan posisi fundamental Iran baik di kancah domestik maupun di kancah regional dan internasional.

Menghadirkan citra hitam dan tidak menguntungkan dari kondisi ekonomi dan politik Iran di benak rakyat, dan menciptakan landasan bagi pembangkangan sipil dan menciptakan kekacauan dan pemberontakan juga merupakan tindakan yang dilakukan musuh dalam perang propaganda dan media terhadap Republik Islam Iran. Dalam hal ini, kewaspadaan rakyat dan pejabat Iran telah mencegah musuh mencapai tujuan mereka.
Namun, dalam percaturan politik Iran selalu ada dua pandangan umum dalam menghadapi musuh dan sistem dominasi global. Satu sudut pandang mengklaim bahwa menerima beberapa tuntutan pihak lain dan menarik diri dari beberapa posisi, bisa mengatasi tantangan dan mengurangi biaya. Tetapi pandangan kedua meyakini terus melawan dan berdiri menghadapi musuh. Sebab, pengalaman beberapa dekade terakhir dengan jelas menunjukkan bahwa tujuan utama musuh adalah untuk mengalahkan Revolusi Islam Iran dengan cara apa pun yang memungkinkan. Oleh karena itu, setiap kali mundur, maka tuntutan baru diajukan oleh mereka. Akibatnya, biaya penyerahan ini akan terjadi jauh lebih besar dari kelanjutan perlawanan.
Misalnya, setelah Iran menyetujui JCPOA, pihak Barat melangkah lebih jauh. Kali ini mereka membahas perlunya bernegosiasi mengenai hal-hal lain, terutama kegiatan regional dan rudal Iran. Tentu saja, ada pengalaman lain dalam sejarah Republik Islam Iran, seperti pengalaman delapan tahun pertahanan suci, yang membuktikan bahwa perlawanan dapat mencegah intimidasi kekuatan arogan.
Selain itu, pencapaian dan kemajuan Republik Islam Iran di bidang ilmu pengetahuan, industri, nuklir, ruang angkasa dan militer, yang semuanya dicapai dalam kondisi sanksi, merupakan bukti keberhasilan dan konsekuensi positif dari melihat pada kapasitas dan kemampuan dalam negeri dalam menghadapi musuh.
Oleh karena itu, Ayatullah Khamenei selalu menekankan perlunya berdiri dan melawan musuh. Rahbar memandang perlawanan sebagai reaksi alami dari setiap negara yang bebas dan terhormat terhadap pemaksaan dan intimidasi hegemoni global, dengan mengatakan, "Situasi terburuk bagi suatu negara ketika pejabat negara ini takut akan sanksi dan ancaman musuh. Jika mereka takut, mereka benar-benar membuka pintu masuk musuh,". (PH)