Daras Akhlak Ayatullah Sayid Ali Khamenei: Menyikapi Nikmat dan Bencana dengan Benar
-
Ayatullah Sayid Ali Khamenei
Ayatullah Sayid Ali Khamenei sebagaimana ulama lainnya dalam kuliah Fiqih dan Ushul Fiqihnya dalam sepekan mengkhususkan sehari untuk menyampaikan syarah atas hadis-hadis akhlak yang berkaitan dengan masyarakat. Sumber hadis berasal dari buku as-Syafi fi al-'Aqaid, al-Akhlaq wa al-Ahkam dan al-Amali. Kali ini beliau berbicara tentang Menyikapi Nikmat dan Bencana dengan Benar.
Terkadang Allah Swt menganugerahkan nikmat kepada sebuah kaum atau masyarakat, tapi mereka tidak mensyukuri nikmat tersebut!
Asumsikan bahwa Allah Swt menganugerahkan sebuah bangsa dan negara kekayaan, kekuatan dan fasilitas materi dan spiritual. Tapi mereka tidak memanfaatkannya, menggunakan nikmat pada tempatnya dan menjamin kebahagiaannya. Mereka justru lalai, merasa sejahtera dan berlebih-lebihan. Semua ini adalah mengingkari kenikmatan yang diberikan. Bila ini terus berlanjut, perlahan-lahan segala nikmat yang ada berakibat buruk bagi mereka. Karena kekayaan yang harusnya digunakan demi kemajuan mereka, justru membuat mereka lalai dan tidak lagi memikirkan akan pembangunan dan inovasi.
Sebaliknya, ketika Allah Swt menguji sebuah kaum dengan bencana dan musibah. Andaikan saja terjadi perang atau gempa bumi yang meluluhlantakkan negara, tapi masyarakat menghadapinya dengan sabar. Makna sabar di sini bukan berarti hanya duduk dan tidak melakukan apa-apa, hanya menanggung semua musibah yang terjadi. Tapi kesabaran berarti keberlanjutan, tegar dan resistan. Artinya, dalam menghadapi kejadian seperti ini tidak merasa kalah dan tetap berusaha. Dengan demikian, perang dan gempa bagi mereka merupakan satu nikmat.
Sebagai contoh, mereka berpikir untuk membantu sesama dan memperkuat rumah-rumah mereka di hadapan gempa selanjutnya. Dengan demikian, kita harus menyikapi dengan benar saat mendapat nikmat dan menghadapi bencana dan cobaan.