Rahbar: Waspadai Ancaman Separatisme dan Sektarianisme !
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran bertemu ribuan orang warga Qom hari Minggu (8/1/2017) dalam peringatan gerakan kebangkitan 19 Day 1356 Hs ( Januari 1978), dan menjelang peringatan wafatnya Sayidah Maksumah.
Ayatullah Udzma Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan tersebut menilai konspirasi dan aksi musuh yang bertujuan untuk menghancurkan kedaulatan nasional Republik Islam Iran, menunjukkan bahwa kehadiran musuh utama asing bukan hanya sekedar slogan tapi realitas yang memiliki bukti valid.
Rahbar mengatakan, Ketika menteri luar negeri Amerika yang katanya "beretika" dalam surat perpisahannya memberikan rekomendasi kepada pemerintahan baru AS supaya bersikap keras terhadap Iran dan mempertahankan sanksi-sanksi atas negara itu, sebab dengan sikap keras tersebut bisa mengambil poin dari Iran. Lalu, apakah ini bukan permusuhan ?
Berkaitan dengan permusuhan Inggris terhadap Iran, Ayatullah Khamenei mengungkapkan, Inggris sebagai imperialis tua dan lumpuh, kini kembali ke Teluk Persia demi mewujudkan ambisinya dengan memanfaatkan negara-negara kawasan. Oleh karena itu, sangat ironis ketika Inggris mengklaim Iran sebagai ancaman, padahal dirinya sendiri adalah ancaman sesungguhnya.
Pernyataan terbaru Rahbar tersebut didukung rekam jejak kelam Inggris dalam menjalankan agenda imperialisme di kawasan dan dunia. Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa pemerintah Inggris saat ini sedang merancang skenario dan aksi bagi negara-negara regional dan Iran. Salah satu tujuan utamanya adalah memecah belah Irak, Suriah, Yaman dan Libya.
Statemen pemimpin besar Revolusi Islam Iran yang dikemukakan hari Ahad (8/1) menunjukkan pemahamannya yang dalam terhadap lapisan-lapisan tersembunyi dari skenario adidaya global yang dilancarkan terhadap kawasan dengan target memecah-belah negara-negara Timur Tengah demi kepentingan London. Implementasi skema tersebut adalah pembagian Libya, Yaman, Suriah dan Irak, serta operasionalisasi kebijakan keamanan yang dijalankan bersamaan dengan mendukung kelompok teroris.
AS dan Inggris berupaya menggunakan kekuatan lunaknya untuk mengalihkan gerakan kebangkitan Islam menuju gerakan separatisme dengan bantuan kelompok teroris Daesh. Mereka berupaya menyeret Timur Tengah menuju kutub gerakan sektarian yang bermotif SARA. Target pertamanya untuk mengalihkan gerakan kebangkitan Islam dari track utama.
Target kedua, menjalankan konspirasi kekuatan hegemonik untuk menerapkan model separatisme di negara-negara kawasan demi meningkatkan pengaruhnya. Intinya, semakin dipecah dan dibagi-bagi menjadi negara-negara kecil, maka kekuatan meraka semakin lemah dan sebaliknya ketergantungan terhadap Inggris dan AS semakin meningkat.
Lalu mengapa skema jangka panjang dijalankan oleh negara-negara hegemon semacam AS. Pasalnya, dengan cara itu mereka bisa membenamkan pengaruhnya. Sebaliknya, ketika tidak demikian, maka negara-negara yang menjadi target akan dipengaruhi oleh kebangkitan Islam. Itulah mengapa, skenario separatisme di Timur Tengah dipilih sebagai resep mereka untuk menancapkan pengaruhnya di kawasan.
Transformasi Suriah selama lima tahun terakhir dengan amat gamblang menunjukkan deretan fakta-faktanya mengenai kebenaran skema kekuatan hegemonik di kawasan. Selain Suriah, skenario yang sama juga diterapkan di Afghanistan, Iran dan Libya. Kini di Yaman pun sedang dijalankan skema serupa. Tujuannya menciptakan negara-negara kecil di kawasan dan mengulang skema historis di tanah air bangsa-bangsa Muslim.
Contoh paling jelas sebelumnya adalah pendirian negara ilegal Israel, dan penderitaan jutaan orang Palestina yang terusir dari tanah airnya sendiri. Selain itu, mereka juga berupaya menciptakan pembatasan-pembatasan semu untuk mengobarkan friksi dan pertumbahan darah antarbangsa Muslim. Kini, kekuatan hegemonik berupaya menyulut api perang semakin berkobar di kawasan. Oleh karena itu, kini melebihi periode manapun, menjaga persatuan, meningkatkan kewaspadaan dan mengenali musuh beserta skenarionya menjadi kewajiban umat Islam, sebagaimana ditegaskan Rahbar dalam pidatonya.(PH)