Iran Minta Calon Menlu AS Lebih Berhati-hati Berkomentar
https://parstoday.ir/id/news/iran-i30796-iran_minta_calon_menlu_as_lebih_berhati_hati_berkomentar
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Bahram Qasemi mengatakan, Iran adalah korban terorisme dan meski demikian ia terdepan dalam perang melawan kelompok-kelompok teroris takfiri di kawasan termasuk Daesh.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 13, 2017 23:21 Asia/Jakarta
  • Iran Minta Calon Menlu AS Lebih Berhati-hati Berkomentar

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Bahram Qasemi mengatakan, Iran adalah korban terorisme dan meski demikian ia terdepan dalam perang melawan kelompok-kelompok teroris takfiri di kawasan termasuk Daesh.

Dalam wawancara dengan kantor berita Fars, Jumat (13/1/2017), Qasemi menuturkan, Iran bukan ancaman terhadap negara mana pun dan kami akan melanjutkan kebijakan damai serta peran konstruktif di kawasan.

"Banyak negara dunia sudah berkali-kali mengakui peran konstruktif Iran," tambahnya.

Ia juga menampik klaim kandidat Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson, yang mengatakan Iran bersama Rusia dan Turki sedang melaksanakan kebijakan versinya di Suriah.

"Sejak awal Iran menekankan solusi politik untuk krisis Suriah dan melakukan banyak upaya dalam hal itu. Namun, AS ingin merusak situasi sekarang di Suriah dengan terus mendukung teroris," tegasnya.

Qasemi menandaskan sikap Iran tidak akan berubah dalam mendukung independensi dan integritas teritorial Suriah. Menurutnya, upaya beberapa negara regional dan trans-regional menggulingkan pemerintah Suriah dan mempersenjatai kelompok-kelompok teroris untuk menghancurkan negara itu, tidak dapat diterima.

Menanggapi usulan Tillerson untuk meninjau ulang kesepakatan nuklir, Qasemi meminta dia untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan sikapnya sebelum benar-benar menjabat sebagai menlu AS.

"Sebaiknya ia tidak mengeluarkan komentar sebelum berkonsultasi dengan tim penasihatnya, di mana kemudian terpaksa harus mengubah pandangannya," ujar Qasemi.

"Para pejabat Amerika tidak dapat mengabaikan sebuah kesepakatan multilateral, di mana Washington juga berkomitmen terhadap itu," pungkasnya. (RM)