Daras Akhlak Ayatullah Sayid Ali Khamenei: Menginginkan Kebaikan Ahlul Bait as
https://parstoday.ir/id/news/iran-i31021-daras_akhlak_ayatullah_sayid_ali_khamenei_menginginkan_kebaikan_ahlul_bait_as
Ayatullah Sayid Ali Khamenei sebagaimana ulama lainnya dalam kuliah Fiqih dan Ushul Fiqihnya dalam sepekan mengkhususkan sehari untuk menyampaikan syarah atas hadis-hadis akhlak yang berkaitan dengan masyarakat. Sumber hadis berasal dari buku as-Syafi fi al-'Aqaid, al-Akhlaq wa al-Ahkam dan al-Amali. Kali ini beliau berbicara tentang Menginginkan Kebaikan Ahlul Bait as
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 16, 2017 08:53 Asia/Jakarta
  • Ayatullah Sayid Ali Khamenei
    Ayatullah Sayid Ali Khamenei

Ayatullah Sayid Ali Khamenei sebagaimana ulama lainnya dalam kuliah Fiqih dan Ushul Fiqihnya dalam sepekan mengkhususkan sehari untuk menyampaikan syarah atas hadis-hadis akhlak yang berkaitan dengan masyarakat. Sumber hadis berasal dari buku as-Syafi fi al-'Aqaid, al-Akhlaq wa al-Ahkam dan al-Amali. Kali ini beliau berbicara tentang Menginginkan Kebaikan Ahlul Bait as

Ayatullah Sayid Ali Khamenei

Imam Musa bin Jakfar as menukil dari para kakeknya dari Rasulullah Saw bersabda:

من أسبغَ وضوئَه و أحسن صلاتَه و أدَّی زکاةَ مالِه و خزَن لِسانَه و کَفَّ غضبَه و استَغفر لذَنبِه و أدَّی النصیحةَ لأهلِ بیتِ رسولِه

Barangsiapa yang berwudhu dengan 'Asbagha', yakni menyegarkan. Dengan air yang cukup sesuai yang dibutuhkan untuk berwudhu. Karena Isbagh Wudhu itu hukumnya mustahab. Maksudnya bukan banyak menggunakan air, tapi menggunakan air sedemikian rupa sehingga mengenai anggota wudhu.

Orang itu kemudian menunaikan salatnya dengan baik. Salat yang baik adalah salat yang disertai kekhusyuan. Allah Swt di awal surat Mukminun saat mendiskripsikan sifat orang mukmin berfirman "Orang yang khusyu dalam salatnya".

Barangsiapa yang menjaga lisannya dari ucapan sia-sia dan tidak bermanfaat serta dosa seperti ghibah, dan menahan marahnya yang biasanya menjadi sumber segala kesalahan manusia dan beristighfar atas segala dosanya.

Begitu juga orang tersebut menginginkan kebaikan keluarga Nabi Saw dengan pengertian bahwa perilakunya sesuai dengan kehendak dan maslahat Ahlul Bait. Orang yang seperti ini memiliki hakikat iman secara sempurna. Bukan berarti lebih dari ini tidak ada keutamaan lagi, tapi bila melakukan ini saja, berarti ia telah menyempurnakan hakikat iman dalam dirinya, begitu juga pintu-pintu surga terbuka untuknya. Dengan demikian, bila kita berkehendak dan memutuskan, maka untuk kita akan memasuki surga dan aman dari siksa ilahi.