Doktor Fathimah Thabathabai Mengisahkan Tentang Imam Khomeini (3)
https://parstoday.ir/id/news/iran-i34654-doktor_fathimah_thabathabai_mengisahkan_tentang_imam_khomeini_(3)
Imam Khomeini tidak pernah mencampuri urusan rumah tangga anak-anaknya. Khususnya bila anak yang sudah menikah dan telah berpisah dari rumah ayahnya. Tentunya terkait anak lelaki dan rumah tangga putranya beliau lebih banyak memberikan aturan. Tapi, bahkan dalam pemberian nama cucu-cucunya, beliau tidak menyampaikan pendapatnya, meski ditanya bagaimana pendapat beliau.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Mar 18, 2017 10:44 Asia/Jakarta
  • Imam Khomeini ra
    Imam Khomeini ra

Imam Khomeini tidak pernah mencampuri urusan rumah tangga anak-anaknya. Khususnya bila anak yang sudah menikah dan telah berpisah dari rumah ayahnya. Tentunya terkait anak lelaki dan rumah tangga putranya beliau lebih banyak memberikan aturan. Tapi, bahkan dalam pemberian nama cucu-cucunya, beliau tidak menyampaikan pendapatnya, meski ditanya bagaimana pendapat beliau.

Saya masih ingat, ketika putra sulung saya lahir, Imam Khomeini berada di Najaf Asyraf di pengasingan. Istri beliau pada waktu itu datang ke Iran. Kami merasa ragu dalam memilih nama untuk anak kami. Ada beberapa nama yang diusulkan, tapi kami ragu yang mana yang harus kami pilih. Kondisi ini berjalan sampai selama dua bulan. Suatu hari ibu [istri Imam Khomeini], berkata, “Ketika membicarakan anak kalian, imam mengatakan:

 

“Hasan adalah nama yang bagus. Bila anaknya Ahmad lelaki, pilihlah [nama itu].”

 

Tapi tidak menyampaikannya kepada kami. Bahkan setelah kelahiran; dalam surat ucapan selamat yang ditulis untuk kami, tidak disebutkan tentang nama bayi. Meski demikian, ketika kami mendengar keinginan dan pendapat beliau, kami memilih nama Hasan untuk bayi kami.

 

Terkait masalah pendidikan putri-putrinya juga demikian. Beliau tidak memaksakan harus memilih jurusan fulan misalnya atau jangan memilih jurusan fulan. Pada dasarnya beliau tidak mencampuri urusan-urusan seperti ini. Maksimal beliau hanya menganjurkan untuk menuntut ilmu. Oleh karena itu, semua cucunya adalah orang yang berpendidikan. Dan sebagian dari mereka juga mencapai tahapan pendidikan akademik universitas.

 

Imam Khomeini senantiasa menjadi pendorong untuk kelanjutan pendidikan mereka. Ibu menceritakan, ketika datang ke Qom, karena belajar hanya sampai kelas sembilan, beliau meminta kepada Imam untuk mengajarinya. Imam juga menyetujuinya dan setelah itu beliau selalu mendukung ibu untuk membaca dan mengkaji. Meski demikian, beliau selalu menegaskan bahwa:

 

“Ilmu jangan sampai menjadi penghalang bagimu.”

 

Terkait karier para wanita, beliau berpendapat; tidak masalah. Tentunya pada batas tidak sampai merugikan rumah tangga. Karena beliau menilai wanita adalah pengasuh masyarakat. Beliau menilai wanita sangat berpengaruh dalam mengokohkan rumah tangga. Bahkan beliau berkeyakinan bahwa wanita bisa memperbaiki lelaki yang buruk. Bila lingkungan rumah tangga adalah lingkungan yang bagus, maka tidak akan terjadi pelanggaran di sana. Akan muncul anak-anak yang saleh dan akan terwujud masyarakat yang saleh. Kalau begitu, menurut pendapat beliau adalah, seorang wanita bisa bekerja di luar rumah selama tidak sampai merugikan rumah tangganya. Meski seorang ayah adalah penanggung jawab anak secara syariat, dan bila anak menjadi tidak saleh dan sebagai pelanggar, maka ayahlah yang akan dituntut di hadapan Allah. Beliau menilai ibu sangat menentukan dan sangat menganggap penting pada pendidikan anak.

 

Terkadang kami bercanda, mengapa wanita harus senantiasa tinggal di dalam rumah? Beliau mengatakan:

 

“Jangan kalian anggap enteng rumah, mendidik anak-anak tidak remeh. Bila seseorang mampu mendidik satu orang, maka ia telah memberikan pengabdian yang besar kepada masyarakat.”

 

Beliau bahkan meyakini bahwa mendidik anak-anak tidak bisa dilakukan oleh seorang lelaki dan hanya seorang wanita saja yang bisa menanggungnya dengan baik. Kasih sayang dalam diri seorang wanita lebih kuat dan kekokohan serta kelanggengan rumah tangga juga berdasarkan pada cinta dan kasih sayang.

 

Beliau tidak pernah melarang kami melakukan aktifitas politik dan sosial. Tentunya satu hal yang sangat penting bagi beliau adalah bila hal ini disalahgunakan. Oleh karena itu, beliau melarang kami mengemban jabatan yang sensitif. Misalnya, beliau tidak ingin putrinya menjadi anggota parlemen. Beliau mengatakan:

 

“Saya tidak ingin muncul perasaan dan persangkaan bahwa anak saya mendapatkan jabatan tertentu karena ada kaitannya dengan saya.”

 

Atau beliau mengatakan:

 

“Kita tidak melakukan revolusi untuk membagi jabatan di antara kita sendiri dan supaya jangan sampai timbul kecurigaan dalam pikiran masyarakat, jangan sampai kalian mencari pekerjaan-pekerjaan ini. Ada ribuan macam pekerjaan lainnya yang bisa kalian lakukan.”

 

Oleh karena itu, kami selalu hadir di dalam pekerjaan lainnya. Saya masih ingat ketika beliau di Qom memerintahkan dibentuknya Nehzat-e Savad Amouzi [Pengentasan Buta Huruf], saya juga sedang mengajar di sebuah kelas dan banyak ibu-ibu yang ikut serta di dalam kelas tersebut. Kebetulan sejak saat itu Imam Khomeini mengalami sakit jantung dan saya menjenguknya. Salah satu masalah yang senantiasa menyenangkannya dan beliau meminta saya untuk menceritakannya, adalah pekerjaan mengajarkan baca tulis.

 

Ketika saya menceritakan tentang program di kelas, beliau sangat gembira dan wajahnya tampak ceria. Masalah ini membuat saya terkadang mengulangi lagi cerita saya. Meskipun beliau tahu bahwa saya punya anak kecil dan pekerjaan ini harus saya lakukan di luar rumah, namun beliau tidak mempermasalahkan. Meski beliau juga tahu bahwa putrinya; Khanum Mostafavi di Qom juga bekerja dan mengelola sebuah yayasan yang besar, beliau juga tidak melarangnya. Beliau mengatakan:

 

“Lakukan aktifitas tapi jagalah batas-batas syariat; termasuk keridhaan suami.”

 

Dengan demikian, dengan menjaga aturan syariat, beliau tidak melarang bekerja atau sekolah sama sekali.

 

Ibu menceritakan, karena anak-anaknya menangis dari malam sampai pagi, dan dia terpaksa harus berjaga sampai pagi, Imam Khomeini membagi tugas di malam hari. Yakni dua jam beliau menjaga anak dan ibu yang tidur, kemudian dua jam beliau sendiri tidur, dan ibu yang berjaga menjaga anak. Tentunya ketika beliau sibuk akan pelajaran dan kajian, beliau tidak punya kesempatan untuk menjaga anak. Anak-anaknya menceritakan bahwa beliau bermain bersama mereka. Yakni setelah selesai pelajaran, beliau bermain selama satu jam bersama anak-anak. Dengan demikian, beliau membantu ibu dalam urusan mendidik anak-anak.

 

Imam Khomeini menegaskan kepada putra dan cucu-cucunya untuk tidak menuntut istri mereka melakukan pekerjaan. Bila melakukan pekerjaan, itu berarti telah berbuat kasih sayang. Tentunya beliau menganjurkan kepada putri-putrinya untuk melakukan pekerjaan, di awal pernikahan beliau menasihati:

 

“Usahakan untuk menjadi teman. Bila engkau seorang lelaki dan memiliki ribuan masalah di luar rumah, ketika datang ke rumah, letakkan semua kesedihanmu di balik pintu dan usahakan masuk rumah dengan penuh kasih sayang.”

 

Dari sisi lain, beliau juga menasihati wanita:

 

“Engkau juga begitu, boleh jadi di rumah sangat banyak kerjaan yang engkau lakukan dan engkau sangat lelah. Tapi, jangan sampai mengalihkan kelelahanmu pada suamimu. Sambutlah dia dan ciptakan kehidupan yang hangat untuk kalian sendiri.”

 

Sampai pada akhir-akhir ini, selama ibu belum datang di tempat hidangan makanan, beliau tidak akan memegang makanan. Semuanya mengetahui sikap beliau terkait masalah ini. terkadang bila kami lebih dahulu mengambil makanan, beliau tidak mengatakan, “Mengapa kalian tidak bersabar?” tapi beliau mengatakan:

 

“Ibu belum datang.”

 

Berkali-kali beliau memanggil ibu. Terkadang ketika ibu datang ke tempat hidangan makanan, berkata, “Oiya, saya ada tamu. Anda makan dulu. Saya yang mengambilkan. Nanti saya akan datang.”

 

Beliau menilai wajib menghormati ibu dan sikap beliau ini sangat berpengaruh pada keluarga lainnya. Saya masih ingat ketika putra saya yang kecil menjawab saya dengan suara keras, Imam Khomeini sangat tidak senang akan sikapnya terhadap saya. Kemudian beliau memanggilnya secara terpisah dan berkata:

 

Kamu, sikapmu terhadap ibumu sangat buruk.”

 

Beliau juga mengatakan kepada saya bahwa sikapnya jangan sampai demikian. Yakni di samping masalah-masalah seperti ini beliau tidak membiarkan lewat begitu saja. (Emi Nur Hayati)

Dikutip dari penuturan Doktor Fathimah Thabathabai, menantu Imam Khomeini; istri Sayid Ahmad Khomeini

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh