Doktor Fathimah Thabathabai Mengisahkan Tentang Imam Khomeini (4)
https://parstoday.ir/id/news/iran-i35138-doktor_fathimah_thabathabai_mengisahkan_tentang_imam_khomeini_(4)
Imam Khomeini berkali-kali mengeluhkan orang-orang yang memiliki padangan ekstrim. Tentunya, boleh jadi sebagian dari mereka ini tidak sengaja dalam sikap-sikapnya. Namun beliau berkeyakinan bahwa mereka ini sengaja dalam mensugesti keyakinannya.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Mar 28, 2017 09:26 Asia/Jakarta
  • Imam Khomeini ra
    Imam Khomeini ra

Imam Khomeini berkali-kali mengeluhkan orang-orang yang memiliki padangan ekstrim. Tentunya, boleh jadi sebagian dari mereka ini tidak sengaja dalam sikap-sikapnya. Namun beliau berkeyakinan bahwa mereka ini sengaja dalam mensugesti keyakinannya.

Saya masih ingat ketika di awal-awal revolusi, salah seorang dari bapak-bapak yang kalian kenal, dan saya di sini tidak menyebutkan namanya, datang menemui Imam dan berkata, “Anda sekarang ini memiliki kekuatan yang banyak dan bisa melakukan apa saja sesuka hati. Anda harus memanfaatkan kekuatan Anda ini dan perintahkan agar semua ibu-ibu pulang dari kantornya menuju rumah masing-masing dan jangan bekerja.”

Tentunya ini hanya salah satu permintaannya. Saya ingat bahwa masalah ini berkaitan dengan saya. Oleh karena itu Imam menceritakannya kepada saya, seraya berkata:

“Barusan, bapak fulan ada di sini dan menyampaikan permintaannya demikian terkait kalian para ibu.”

Saya tertawa dan berkata, “Bapak ini datang dengan reputasinya menyampaikan keinginan seperti ini?”

Imam Khomeini berkata:

“Iya. Tapi bagaimana mungkin mereka ini tidak menyadari? Memangnya bisa secara administrasi negara, besok dikatakan bahwa semua wanita harus tinggal di rumahnya? Sebagian departemen separuh dari pegawainya adalah wanita. Karena mereka ini tidak perhatian pada masalah, sehingga menghukumi begitu saja.”

Pandangan orang-orang yang sok suci terhadap wanita, demikian. Mereka mengatakan, “Apa maknanya wanita harus bekerja dan ketika suaminya pulang ke rumah melihat makan malamnya belum siap?”

Sebagian mengatakan, “Imam Khomeini telah menjadikan para wanita berani.” Saya berbicara dengan salah satu teman, dia mengatakan, “Imam Khomeini telah memberikan kepribadian kepada kalian para wanita.”

Bila kita membedah masalah ini, kita menyaksikan bahwa Imam Khomeini telah menyadarkan kami akan hak-hak kami. Pada hakikatnya beliau telah menyadarkan para wanita akan hak-haknya yang hilang. Sejatinya, beliau telah melakukan penyingkapan dan pencerahan. Terkadang Imam Khomeini berteriak di hadapan orang-orang yang sok suci ini; ketika beliau melihat kelompok ini misalnya tidak menganggap sempurna pakaian yang dipakai oleh wanita dan menentang karier wanita di luar rumah dan keluarnya mereka dari rumah. Mereka berkeyakinan bahwa wanita harus tinggal di dalam rumah. Tentu saja jelas bahwa ketika wanita hanya dikurung dalam rumah dan tidak punya hubungan sama sekali dengan dunia di luar rumah, maka dia harus mengatakan, “baiklah” atas apa saja yang dikatakan oleh suaminya.

---

Imam menilai keadilan sangat penting dan meyakini bahwa tidak mungkin seorang lelaki bisa menjaga keadilan secara sempurna. Oleh karena itu masalah poligami bagi beliau jelek dan tidak bagus. Kalian tahu bahwa beliau sendiri, juga anak-anaknya hanya memiliki satu istri dan beliau menyampaikan masalah ini sedemikian rupa sepertinya beliau tidak suka terhadap lelaki yang melakukan sebaliknya dan berpoligami.

Tentunya harus memperhatikan kondisi masyarakat juga. Satu masa boleh jadi poligami dari sisi manajemen masyarakat diperlukan. Oleh karena itu, bisa dibahas tentang filsafat masalah ini dan dilihat semua sisinya. Namun, bagaimana pun juga, pertanyaan ini masih ada yaitu sebenarnya, siapakah yang bisa menjaga keadilan secara sempurna dari segala sisi? Keadilan tentunya tidak hanya terbatas pada membeli roti saja. Dalam segala hal lelaki harus adil. Dinukil bahwa Imam Khomeini mendengar bahwa gurunya menikah lagi. beliau datang menemui ulama tersebut dan menanyakan sebab pernikahannya. Ulama itu menjawab bahwa masalahnya tidak ada hubungannya dengan beliau. Sebagaimana yang saya dengar, Imam Khomeini bangkit dan meninggalkan rumah lelaki tersebut dan tidak lagi pergi ke gurunya itu. Karena lelaki tersebut tidak punya alasan sama sekali untuk menikah lagi dan dia menikah lagi alasannya hanya karena hatinya menginginkan. Jelas bahwa parameter tidak boleh hanya karena keinginan hati.

---

Imam tidak banyak membawa masalah di luar ke dalam rumah. Tentunya bila seseorang datang dan meminta bimbingan, beliau memberikan nasihatnya. Seandainya, bila seorang wanita datang dan mengatakan bahwa suaminya melarangnya pergi keluar, Imam mengatakan:

“Jangan keluar dari rumah. Karena itu adalah tugas agamamu. Meski demikian, lihatlah mengapa suamimu mengatakan demikian. Siapkan sarananya untuk dia. Bila dia menentukan tempat-tempat tertentu, maka jangan pergi ke sana.”

Wejangan beliau kebanyakan bersifat umum dan saya sampai saat ini tidak ingat tentang kasusnya secara khusus. Tentunya tidak jelek bila saya isyaratkan tentang satu ciri khas menarik Imam Khomeini. Sebagaimana kalian ketahui bahwa setelah revolusi banyak muncul masalah. Khususnya setelah dimulainya perang. Masalah yang menyedihkan disampaikan kepada beliau. Namun Imam Khomeini tidak pernah menyampaikan masalah-masalah tersebut kepada kami. Terkadang ketika kami masuk ke dalam ruangannya, kami paham bahwa sebelum ini ada seseorang yang menyampaikan kabar kepada beliau dan beliau sedih. Ketika kami menanyakan masalahnya, beliau menjawab:

“Apa perlunya aku sampaikan masalahnya dan engkau juga akan sedih?”

Dari sisi lain, setiap kali ada kabar menyenangkan yang sampai kepada beliau, begitu kami membuka pintu dan masuk, beliau mengatakan:

“Sini, aku sampaikan kabar ini kepada kalian.”

 Beliau menyampaikan kegembiraan kepada semuanya dan menyimpan kesedihan untuk dirinya sendiri. (Emi Nur Hayati)

Dikutip dari penuturan Doktor Fathimah Thabathabai, menantu Imam Khomeini; istri Sayid Ahmad Khomeini

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh