Doktor Fathimah Thabathabai Mengisahkan Tentang Imam Khomeini (6)
https://parstoday.ir/id/news/iran-i36272-doktor_fathimah_thabathabai_mengisahkan_tentang_imam_khomeini_(6)
Di hari-hari ketika [Saddam Hossein melakukan] pengeboman, suatu hari Agha Ansari datang ke ruangan dan berkata kepada Imam Khomeini, “Ada surat dari Agha Reyshahri. Di situ ditulis bahwa kami mendapatkan kabar yang bisa dipercaya abhwa malam ini di sini akan dibom. Kami meminta Anda untuk pindah tempat.”
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Apr 19, 2017 06:54 Asia/Jakarta
  • Imam Khomeini ra
    Imam Khomeini ra

Di hari-hari ketika [Saddam Hossein melakukan] pengeboman, suatu hari Agha Ansari datang ke ruangan dan berkata kepada Imam Khomeini, “Ada surat dari Agha Reyshahri. Di situ ditulis bahwa kami mendapatkan kabar yang bisa dipercaya abhwa malam ini di sini akan dibom. Kami meminta Anda untuk pindah tempat.”

Dengan tersenyum Imam Khomeini berkata:

 

“Apa maksudnya? Mengapa Anda mengatakan hal ini?”

 

Agha Ansari sangat sedih. Sebagaimana yang saya dengar selanjutnya, dia pergi ke sana ke mari dan memohon kepada Imam, “Demi ibumu Zahra as lakukan hal ini. Kalau tidak aku akan membakar diriku! Demi Allah, demi Rasulullah! Hanya malam ini saja. Paling tidak Anda pindah kamar. Bagaimana kalau ada satu serangan di ruangan ini dan runtuh?” Akhirnya Imam Khomeini keluar dan masuk ke ruangan lainnya yang saya ada di sana. Dengan tersenyum beliau berkata:

 

“Agha Ansari tadi datang dan mengatakan pindahlah dari sini!”

 

Saya bertanya kepada Imam Khomeini, “Mengapa!?”

 

Imam berkata:

 

“Apa yang aku tahu!? Dikabarkan katanya malam ini, di sini akan dibom.”

 

Saya katakan, “Nah, Agha! Mengapa Anda tidak mau mendengarkan?”

 

Beliau tertawa dan berkata:

 

“Kata-kata ini apa? Kalau memang mau dibom, aku tetap akan berada di ruangan dan kursi ini. Memangnya semua orang berada di bunker?”

 

Saya katakan, “Agha! Semuanya, kecuali Anda. Tidak semua rumah masyarakat menjadi sasaran musuh.”

 

Beliau berkata:

 

“Apa bedanya? Seorang Pasdaran yang berdiri di ujung gang kita, tidak berada di bunker. Dia berdiri di sana, lalu saya harus pergi ke bunker?”

 

Saya katakan, “Semuanya pergi. Sekarang di Jamaran juga sudah dibangun bunker dan ini adalah perintah pemerintah.”

 

Beliau berkata:

 

“Tidak. Tidak demikian. Pasdaran itu berdiri karena [menjaga] aku dan dia tidak pergi ke bunker. Aku tidak akan keluar dari ruanganku. Kalian sendiri saja yang pergi dan jaga diri kalian!”

 

Sekali lagi saya menggunakan cara lain dan berkata, “Bila Anda tidak mau pergi, kami juga tidak akan pergi. Oleh karena itu, Anda harus pergi ke bunker demi kami.”

 

Beliau berkata:

 

“Tidak. Aku tidak menilai sebagai kewajibanku untuk keluar dari ruangan. Tapi kalian punya kewajiban untuk menjaga diri kalian.”  

 

Keesokan harinya ketika saya membaca surat Agha Reyshahri, Imam Khomeini menulis puisi di baliknya. Saya berpikir bahwa kita ini ada di bagian mana dari lautan pemikiran ini dan Imam Khomeini ada di mana [betapa jauh jarak antara kita dan beliau]!?

 

---

 

Imam Khomeini menilai ibadah sebagai perangkat untuk sampai pada kecintaan ilahi. Imam dengan gamblang menyampaikan bahwa di lembah kecintaan, jangan lagi memandang ibadah sebagai perangkat untuk sampai ke surga. Ibadah bukan lagi karena takut kepada neraka, tapi sebuah percintaan. Percintaan antara pecinta dan yang dicintai. Imam Khomeini mengatakan:

 

“Ibadah-ibadah yang kita lakukan ini, baiknya adalah perdagangan.”

 

Beliau mengatakan, bila semua syarat ibadah kita jaga, baru kita melakukan perdagangan. Di sini kita berbuat sesuatu agar mendapatkan balasannya di sana. Seorang pecinta, tentunya tidak melakukan hal ini. Dengan artian bahwa seorang pecinta beribadah bukan untuk mendapatkan balasannya. Tapi dia menikmatinya. Imam Khomeini berkali-kali dalam ucapannya mengatakan, bagaimana kita harus mensyukuri nikmat ini dimana Allah telah mengizinkan kita untuk mengerjakan salat. Dia mengizinkan seseorang yang sangat miskin dan membutuhkan berdiri dan berbicara di hadapan Zat Yang Maha Kuat.

 

Kalian melihat bahwa menurut beliau, salat adalah percintaan, bukan sebuah kewajiban yang terpaksa harus kita lakukan. Beliau menikmati salat. Karena beliau menilai ibadah adalah pernyataan cinta di hadapan yang dicintai. Secara lahiriyah yang bisa ditangkap dari sikap Imam Khomeini adalah masa yang tepat untuk menyatakan kepanikan ini adalah malam. Kebanyakan para kerabat menukil bahwa salat tahajud merupakan bagian dari jadwal kehidupan Imam Khomeini sejak usia muda. Sejak saya mengenal beliau, saya menyaksikan masalah ini. Ketika di kegelapan malam saya pelan-pelan masuk ke dalam ruangan, saya merasakan percintaan Imam Khomeini dengan Allah. Begitu khusyu dan khudhu beliau mengerjakan salat; berdiri dan ruku serta sujud sedemikian rupa sehingga benar-benar tidak bisa dijelaskan.

 

Sama sekali saya tidak bisa menceritakan saat-saat itu. Saya hanya bisa merasakan bahwa beliau sedang bermunajat kepada Allah di pertengahan malam dengan khudhu dan khusyu dan dengan cucuran air mata. Harus saya katakan bahwa pada saat-saat itu beliau sedang bercinta dengan Allah yang benar-bena dicintainya. Dengan melihat saat-saat itu, saya berpikir bahwa malamnya Imam Khomeini benar-benar Lailatul Qadr. Kondisi Imam Khomeini ini bukan satu atau dua malam saja, bahkan ada selama seumur hidup. Karena dikatakan bahwa ini adalah bagian dari jadwal kehidupannya sejak masa muda. Saya benar-benar masih ingat hal ini, khususnya pada bulan Ramadhan sebelum wafatnya beliau. Terkadang setiap kali kami menemui beliau dengan berbagai alasan dan mendapatkan kesempatan salat bersama beliau, saat saya masuk ke dalam ruangan, saya melihat wajahnya benar-benar membengkak [akibat menangis]. Beliau menangis sedemikian rupa sehingga sapu tangan tidak cukup bagi air matanya. Beliau meletakkan handuk di samping tangannya. Beginilah kondisi beliau di malam-malam hari dan ini benar-benar sebuah percintaan. Di dalam suratnya, beliau sangat bersandar pada ibadah. Beliau mengatakan:

 

“Ibadah adalah sebuah panggung lompatan. Ibadah merupakan percintaan antara pecinta dan yang dicintai. Dalam ibadah, dari satu sisi adalah segala kenikmatan dan dari sisi lain adalah segala kebutuhan. Yakni seseorang yang hidup di puncak kemiskinan, berdiri di hadapan Zat Yang Maha segala-galanya, kesempurnaan mutlak.

 

Beliau mengatakan:

 

“Manusia penghamba dan pecinta adalah orang yang berdiri di hadapan Allah di malam hari dan mengatakan, Hai Segala Nikmat! Berikan jawaban kepada segala kebutuhan ini. Ibadah seorang muslim adalah ibadah penuh makrifat. Orang seperti ini, sosok pecinta seperti ini mengorbankan segala miliknya demi cinta. Pada puncaknya, dia pergi melampau namanya, jiwanya dan menilai keberadaannya menyatu dalam diri yang dicintainya.” (Emi Nur Hayati)

Dikutip dari penuturan Doktor Fathimah Thabathabai, menantu Imam Khomeini; istri Sayid Ahmad Khomeini

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh