Imam Khomeini Dalam Penuturan Hujjatul Islam wal Muslimin Ali Akbar Ashtiyani (3)
-
Imam Khomeini ra
Selanjutnya, saya ingin mengisyaratkan tentang reaksi Imam Khomeini di masa-masa genting Revolusi Islam, yaitu pada masa masuknya kapan induk Amerika ke Teluk Persia. Saya akan menceritakan tentang kondisi para pejabat dan reaksi Imam pada masa itu.
Kehadiran kapal induk Amerika di Teluk Persia menurut pandangan seluruh pejabat negara tidak lain adalah partisipasi Amerika dalam perang antara Irak dan Iran dengan berpihak pada Irak. Oleh karena itu masalahnya sangat penting.
Para pejabat biasanya mengadakan rapat sekali dalam sepekan untuk membicarakan masalah-masalah penting. Pada pekan itu mereka mengadakan rapat di Jamaran. Dalam rapat itu hadir Haj Ahmad Agha, perdana menteri; Mousavi, yang mulia Ayatullah Khamenei, yang mulia Ayatullah Mousavi Ardabeli dan Hujjatul Islam Hashemi Rafsanjani. Mereka membaca tentang bagaimana menghadapi masalah masuknya kapal induk Amerika ke teluk Persia. Imam Khomeini hadir juga dalam rapat ini, padahal biasanya beliau tidak hadir dalam rapat-rapat ini.
Setelah Imam Khomeini duduk, orang-orang yang harus menanyakan pendapat Imam Khomeini terkait kehadiran kapal induk Amerika. Setelah beberapa lama Haj Ahmad Agha menukil bahwa Imam Khomeini mengatakan:
“Bila aku ada waktu itu, dengan masuknya kapal induk Amerika yang pertama, maka aku menyerangnya.”
Sikap Imam Khomeini dan keberaniannya ini menunjukkan akan tawakkalnya kepada Alllah Yang Maha Besar dan teladan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah bahwa pertama, di jalan Allah, harus bertawakkal kepada-Nya, kemudian jangan sampai takut kepada kekuatan apapun.
Alhasil, mengenai sikap Imam Khomeini yang tegas ini, tanggung jawab para pemimpin negara sangat berat. Pada saat yang sama mereka mengatakan bahwa pendapat Imam Khomeini harus dipenuhi dan yakin pada sikap ini. Mereka datang menemui Imam Khomeini dengan tujuan ingin membicarakan lebih banyak tentang akibat serangan ini. Imam Khomeini berkata:
“Meski saya katakan bahwa seandainya saya ada waktu itu, maka saya akan menyerang kapal induk Amerika yang paling awal. Tapi kalian para pemimpin negara harus membahasnya lebih banyak kemudian, setelah bermusyawarah dengan pada pakar militer, maka ambillah keputusan terakhir sesuai dengan maslahat pemerintahan dan kaum Muslimin.”
Namun mereka yang benci dan dengki terhadap Revolusi Islam, tidak pernah mengambil pelajaran dari pertolongan Allah yang diberikan kepada masyarakat muslim yang bangkit dan pemimpin revolusi serta terungkapnya segala konspirasi [atas pertolongan Allah]. Cinta kedudukan dan kedengkian dalam hati telah mengambil kendali ikhtiar mereka dan nafsu amarah telah menyeret mereka ke setiap arah.
Yang perlu disesalkan adalah adanya partisipasi sebagian orang yang berpakaian rohani untuk melakukan konspirasi anti Revolusi Islam. Ketika seorang ulama menyimpang, maka akibatnya adalah puluhan orang non ulama akan menyimpang juga. Tapi egoisme telah menutupi segala komitmen yang ada dan setan begitu menyeret mereka ke dalam jurang kehancuran, sementara mereka tetap saja lalai.
Saat itu, ketika saya mengenang kembali kejadikan partisipasi Shariatmadari dalam sebuah kudeta, saya berpikir; bagaimana seseorang mengizinkan dirinya untuk jatuh seperti ini? Bagaimana seseorang menjual nilai-nilai ilahi dan akhirat dengan kehidupan dunia yang hanya beberapa hari, meski dibarengi dengan kedudukan?
Saya masih ingat ketika Imam Khomeini berada di Qom dan beliau mengarahkan Revolusi Islam dalam berbagai kejadian, menentukan sikap di setiap masa genting dan penting, namun Agha Shariatmadari senantiasa bersikap sebaliknya. Tujuan dari sikap-sikapnya di hadapan Imam Khomeini adalah ingin memamerkan diri. Sebagai contoh, terkait jumlah para anggota Dewan Ahli Kepemimpinan, Imam punya pendapat dan mengumumkannya, tapi Agha Shariatmadari menyampaikan pendapat sebaliknya sehingga membuat kecewa para pecinta Revolusi Islam. Tentunya sikap-sikap beliau tidak mengherankan. Sebelumnya juga ketika Imam Khomeini dengan berani mengatakan, “Shah [raja Pahlevi] harus pergi” dan pemerintahan Islam tidak akan bermakna dengan adanya dia, Shariatmadari mengatakan, “Shah harus tetap ada dan pemerintahan kerajaan juga harus tetap ada”.
Masalah penentangan Shariatmadari juga berlanjut pada masalah-masalah lain sebagaimana yang saya katakan. Suatu hari dikabarkan bahwa seseorang terbunuh di rumah Shariatmadari oleh orang yang tidak dikenal dengan menggunakan senjata. Setelah beberapa lama, di rumah Ayatullah Golpaigani ada pertemuan. Dalam pertemuan itu hadir Imam Khomeini dan Ayatullah Al-Uzdma Najafi. Haj Ahmad Agha menukil tentang kejadian ini, “Dalam pertemuan itu, Imam Khomeini dengan intonasi marah menegur seluruh gerakan Agha Shariatmadari, termasuk pertemuannya dengan raja dan orang-orang kerajaan. Imam Khomeini menyebutkan semua masalah yang ditimbulkan oleh Shariatmadari tanpa henti. Bahkan ketika Ayatullah Al-Uzdma Najafi meminta Imam Khomeini untuk lebih tenang dalam melanjutkan pertemuannya, Imam Khomeini tidak mengizinkan dan beliau melanjutkan pembicaraannya. Agha Shariatmadari juga tampak marah atas pengungkapan yang dilakukan Imam Khomeini, dan wajahnya pucat, dia hanya berjalan ke sana ke mari karena tidak bisa membela diri atas perbuatannya."
Setelah kejadian ini, sejumlah orang dari para ulama Tehran datang ke Qom bersama yang mulia Ayatullah Haj Mirza Mohammad Baqir Ashtyani. Agha Ashtiyani masuk ke dalam rumah saya dan besok paginya bersama bapak-bapak yang lainnya menemui Imam Khomeini. Setelah Ayatullah Ashtiyani kembali ke rumah, saya bertanya kepadanya, “Apa tujuan pertemuan Anda dengan Imam Khomeini?”
Beliau menjelaskan, “Saya dan sejumlah orang dari bapak-bapak yang lainnya yang tidak tahu akan perbuatan dan dasarnya Shariatmadari, berniat mendamaikan Imam Khomeini dan dia. Pertama kami datang menemui Pemimpin Revolusi, kemudian pergi ke Shariatmadari. Namun setelah kami menemui Imam Khomeini, beliau telah memberikan penjelasan yang gamblang, menceritakan semua masalah dan perbuatan Shariatmadari. Setelah selesai mendengarkan pembicaraan beliau, saya sendiri memahami bahwa pergi ke rumahnya Shariatmadari adalah haram."
Ayatullah Ashtiyani menjelaskan, “Esensi Shariatmadari telah jelas, tidak bagi saya saja, tapi bagi semua ulama. Mereka juga menganggap tidak boleh pergi ke rumahnya.
Alhasil, kecintaan dan kebencian dunia dan bukan ilahi, menjadikan Shariatmadari bertindak menentang Revolusi Islam, bukan saja dirinya sendiri, tapi dengan menipu yang lain, dia mendorong sejumlah orang untuk melakukan kontak senjata anti Revolusi Islam.
Setelah diungkapnya rencana kudeta menjatuhkan Republik Islam Iran, ada sejumlah orang yang ditangkap. Pada saat itu jelas-jelas ketahuan bahwa Agha Shariatmadari punya peran penting dalam kudeta itu.
Saya masih ingat, malam itu ketika para pelaku utama kudeta di penjara Evin harus dihukum sesuai dengan perbuatannya, kami pergi ke Evin bersama teman-teman termasuk Hujjatul Islam wal Muslimin Tavassoli. Di antara para pelaku kudeta ada beberapa orang yang benar-benar galau dan menangis. Salah satu dari mereka ini kondisinya benar-benar aneh dan menangis. Saya berkata kepadanya, “Anda yang ingin melakukan kudeta, apakah tidak berpikir bahwa pertolongan Allah bersama revolusi dan perbuatan kalian adalah berperang melawan Allah dan Rasul-Nya? Apakah Anda tidak berpikir, dalam kudeta Anda, seandanya terjadi, berapa orang muslim tak berdosa yang terbunuh?”
Dia menundukkan kepalanya dan menangis. Namun setelah di mengangkat kepalanya dan melihat saya berpakaian rohani, dia membuka mulutnya dan berbicara, “Demi Allah! Secara syariat, hujjah telah disampaikan kepada kami secara sempurna.”
Kemudian dia berkata, “Kami ke rumah Agha Shariatmadari yang terakhir kalinya, dia mengatakan, “Pergilah dan lakukanlah dan kalian akan sukses.” (Emi Nur Hayati)
Dikutip dari penuturan Hujjatul Islam wal Muslimin Ali Akbar Ashtiyani, Pengurus Kantor Imam Khomeini
Sumber: Pa be Pa-ye Aftab II; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh