Imam Khomeini Dalam Penuturan Hujjatul Islam wal Muslimin Ali Akbar Ashtiyani (5)
-
Imam Khomeini ra
Imam Khomeini sangat tegas, namun pada saat yang sama beliau sangat tawadhu. Beliau di rumah tidak pernah memerintah dan melarang penghuni rumah dan mengerjakan urusan pribadinya sendiri. Hanya sekedar untuk satu gelas air, beliau tidak pernah memerintahkan untuk mengambilkannya. Beliau senantiasa menghormati istrinya.
Imam Khomeini seperti Rasulullah Saw selalu mendahului dalam mengucapkan salam kepada yang lainnya. Tidak pernah ada yang berhasil mendahului dalam mengucapkan salam kepada beliau. Ketika masuk ke dalam sebuah majlis, beliau selalu mengucapkan salam untuk semuanya. Penghuni rumahnya juga tidak banyak berhasil dalam mendahului mengucapkan salam kepada beliau. Dinukil bahwa ketika berada di samping hidangan makanan, beliau tidak akan menyentuh makanan sebelum istrinya datang.
Ketawadhuan Imam Khomeini tidak berhenti sampai di sini saja. Berkali-kali kami mendengar pribadi agung dalam sejarah kontemporer ini menyebut dirinya sebagai pelayan kecil. Dalam sebuah perubahan bak mukjizat seperti revolusi, beliau menyebut masyarakat sebagai pemeran utama. Beliau tidak pernah menyebut dirinya sebagai pelengser pemerintahan monarki yang zalim. Terkait ketawadhuan Imam Khomeini yang saya sebutkan, saya ingat akan sebuah kenangan:
Suatu hari Haj Ahmad Agha mengundang Agha Mahmoud Boroujerdi, menantunya Imam Khomeini untuk makan siang. Dalam undangan ini hadir pula Agha Sanei, Tavassoli, Jamarani, dan teman-teman yang lainya. Imam Khomeini setelah mengerjakan salat juga ikut hadir sebagai penghormatan kepada ayahnya Agha Mahmoud Boroujerdi. Pertemuan ini seiring dengan kepergian Ayatullah Khamenei ke PBB dan teman-teman yang hadir dalam pertemuan ini sedang membicarakan tentang pidato beliau yang bagus di PBB. Semuanya sedang menceritakan tentang pidato Ayatullah Khamenei yang berbobot dan berisi dalam mengenalkan Islam dan Revolusi Islamyang memiliki pengaruh istimewa.
Pada saat itu ayah Agha Mahmoud Boroujerdi mulai berbicara. Orang-orang yang hadir diam mendengarkannya. Ayahnya Agha Mahmoud Boroujerdi berdoa untuk kesehatan Imam Khomeini dan menyebutkan bahwa karena berkah wujudnya pemimpin besar Revolusi Islam, sekarang Islam yang mulia telah dipaparkan di perkumpulan besar seperti PBB. Imam dengan ketawadhuannya yang khas berkata:
“Bangsa inilah yang telah menemukan jalannya dan para pejabat juga tahu apa yang harus dilakukannya. Baik saya ada ataupun tidak ada, jalan ini akan tetap berlanjut. Kehadiran masyarakat di arenalah yang memberikan kemuliaan kepada kita.”
Kemudian beliau berkata:
“Saya yakin bahwa bangsa Iran akan tetap berada di arena dan bahkan kualitas kehadiran mereka juga akan lebih baik dari saat ini.”
Kalian melihat bahwa Imam Khomeini dengan jiwanya yang tinggi, bagaimana beliau dengan tawadhu menyebut sepele perannya dan mengaitkan peran yang besar kepada masyarakat. Ciri khas Imam Khomeini yang mulia merupakan sebuah teladan yang bagus. Bila kita berusaha untuk bergerak di jalan kesempurnaan, insyaallah atas dasar itu kita bisa mencapai jalan kesempurnaan.
---
Imam Khomeini dalam menjalankan hukum ilahi, memiliki ketaatan tersendiri. Haj Ahmad Agha terkait hal ini menukil bahwa Ayatullah Haj Sayid Mohammad Sadegh Lavasani salah satu sahabat dan kerabat Imam Khemeini. Hubungan beliau dengan Imam Khomeini begitu dekat sehingga sering bertemu Imam pada kesempatan tertentu secara khusus dan biasanya pada hari rabu. Mereka bertemu dan berbincang-bincang sebagai sahabat.
Agha Mohammad Sadegh Lavasani adalah seorang ulama besar dan teman lama dan pribadi agung dan bisa dipercaya. Imam Khomeini merasa tenang bila berada di sampingnya.
Terkait peristiwa kudeta Ghotbzadeh, ketika anggota tim ini tertangkap dan dihukum, sebagian telah dihukum gantung dan sebagian mendapatkan hukuman yang sesuai. Kebetulan salah seorang yang ditetapkan hukum gantung, menelpon Sayid Mohammad Sadegh Lavasani dan menyusup kepada beliau dengan beberapa alasan. Orang ini meminta kepada Agha Lavasani untuk meminta Imam Khomeini mensyafaatinya. Barang kali dengan hal cara ini bisa mendapatkan keringanan dalam hukuman gantung.
Agha Lavasani datang menemui Imam Khomeini. Setelah menanyakan keadaan, beliau menggunakan kesempatan dan menyampaikannya kepada Imam Khomeini dan meminta kepada Imam Khomeini agar mengurungkan hukuman gantung baginya atau paling tidak diringankan hukumannya.
Imam Khomeini dengan tegas menolak permintaan ini. Agha Lavasani kembali meminta. Tapi Imam Khomeini tidak menerimanya. Sampai Agha Lavazani menangis dan ngotot minta kepada Imam Khomeini untuk mengampuni orang yang bersangkutan. Imam pada saat itu duduk di teras dan mendengarkan omongan Agha Lavasni. Setelah diam sejenak Imam Khomeini berkata:
“Dengan segala kecintaan saya kepada Anda, saya tidak bisa mendahulukan keridhaan makhluk atas keridhaan khaliq [pencipta]. Saya tidak bisa mendahulukan kegembiraan Anda di atas kegembiraan Allah dan mendahulukan hubungan di atas peraturan ilahi. Oleh karena itu hukumannya harus tetap dilaksanakan.”
Terkait ketaatan Imam Khomeini dalam menjalankan hukum ilai dan beliau tidak pernah keluar dari aturan syariat, saya punya kenangan lainnya tentang hari-hari setelah kemenangan Revolusi Islam Iran:
Saya masih ingat ketika itu revolusi telah mencapai kemenangan. Umat hizbullah telah menangkat sebuah kelompok yang terdiri dari sekitar dua puluh orang dan membawanya ke madrasah Refah. Di antara mereka ini ada yang namanya Huvaida, Rabei, Rahimi dan Nasiri. Sebagian sahabat meyakini bahwa semuanya pasti akan dihukum gantung dan mereka ngotot dalam hal ini. Namun sebagian tidak sepakat dengan hukum mati ini. Akhirnya ditanyakan kepada Imam Khomeini. Imam Khomeini berkata:
“Hukum gantunglah orang-orang yang secara syariat termasuk mufsid fil ardh dan hukumannya jelas. Terkait selebihnya serahkan kepada pengadilan Islam. Supaya mereka dihukumi sesuai dengan aturan syariat dan Islam.”
Dengan demikian, Imam Yang tidak menerima permintaan temannya karena bertentangan dengan hukum Allah, di sini beliau juga tidak akan mau mengukum gantung seseorang di luar hukum ilahi, bila kemungkinannya berdasarkan aturan syariat orang tersebut hukumannya bukan hukuman gantung.
Tidak jelek bila saya ceritakan juga tentang ketaatan Imam Khomeini tentang hukum ilahi. Ketika Ayatullah Taleghani tahu bahwa anaknya ditangkap, sebagai protes pada masalah ini beliau tidak menampakkan diri selama beberapa hari. Setelah beliau menemui Imam Khomeini, Imam Khomeini berkata kepada Agha Taleghani:
“Putra Anda termasuk salah satu dari orang-orang yang menyimpang dan berafiliasi pada kelompok kiri. Jangan sampai Anda bersedih hanya karena ditangkap.”
Kemudian beliau menambahkan:
"Demi Allah! Bila Ahmad mengalami penyimpangan dan hukumannya harus kematian, maka saya sendiri yang akan membunuhnya.”
Imam Khomeini meski memiliki karakter yang sangat lembut, namun ketika terjadi pelanggaran hukum ilahi oleh seseorang atau banyak orang, maka beliau tidak mengenal toleransi. Imam Khomeini sangat sedih dan menderita bila terjadi pelanggaran hukum ilahi oleh ulama. Misalnya ketika ketahuan partisipasi Shariatmadari dalam kudeta diketahui, Imam Khomeini sangat sedih. Berkali-kali beliau berjalan di halaman dan berzikir dan menyesalkan bagaimana mungkin seorang ulama bisa terjerumus dan puncaknya adalah ikut serta dalam kudeta dan bagaimana mungkin seorang ulama rela hukum ilahi diinjak-injak. (Emi Nur Hayati)
Dikutip dari penuturan Hujjatul Islam wal Muslimin Ali Akbar Ashtiyani, Pengurus Kantor Imam Khomeini
Sumber: Pa be Pa-ye Aftab II; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh