Imam Khomeini Dalam Penuturan Hujjatul Islam wal Muslimin Ali Akbar Ashtiyani (6)
https://parstoday.ir/id/news/iran-i40818-imam_khomeini_dalam_penuturan_hujjatul_islam_wal_muslimin_ali_akbar_ashtiyani_(6)
Pada waktu itu saya menderita sebuah penyakit syaraf. Oleh karena itu saya pergi ke luar negeri untuk berobat.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Jul 10, 2017 11:06 Asia/Jakarta
  • Imam Khomeini ra
    Imam Khomeini ra

Pada waktu itu saya menderita sebuah penyakit syaraf. Oleh karena itu saya pergi ke luar negeri untuk berobat.

Sebelumnya saya telah berobat hampir ke semua dokter berpengalaman di dalam negeri. Tapi tidak ada hasilnya. Di luar negeri juga para dokter tidak berhasil menyembuhkan saya. Kondisi saya sedemikian rupa sehingga di kalangan teman-teman digosipkan bahwa si fulan tidak bisa sembuh dan harus dipikirkan tentang penggantinya di kantor kepolisian. Anggota keluarga saya sedikit demi sedikit mulai putus asa. Kesimpulannya harapan untuk kesembuhan saya sangat minim.

Saya menemui Imam Khomeini. Saya ucapkan salam dan saya katakan, “Wahai Imam! Para dokter telah menvonis saya dan ini berarti dari sisi kedokteran saya tidak bisa sembuh. Saya memohon kepada Anda, doakan saya. Doakan saya insyaallah bisa sembuh dan bisa melanjutkan pengabdian saya.

Imam Khomeini berdoa. Saya menjadikan Allah sebagai saksi; dari sejak saat itu kondisi saya lebih baik dan saya saat ini hampir sepenuhnya sehat.

Masalah lainnya berkaitan dengan seseorang yang bernama Agha Sayid Ghasim. Agha Sayid ghasim adalah orang yang benar-benar terhormat dan mukmin, baik dari sisi kepribadian maupun kecintaannya kepada Islam. Dia terkenal di Jamaran. Agha Jamarani sendiri menceritakan bahwa dia adalah orang yang penakut dan jauh dari petualangan dan atau hal-hal semacam itu. mendengar suara keras saja dia merasa ketakutan dan kebingungan dan menjadi benar-benar sedih.

Sekali ketika mendengar suara tembakan pertahanan di huseiniyeh Jamaran, dia benar-benar ketakutan sehingga yang lainnya juga ikut sedih karena kondisinya. Orang lain juga tidak bisa mengontrol kondisi Sayid Ghasim. Pada saat itu Imam menghadap ke arah Agha Sayid Ghasim dan memegang dadanya dan menenangkannya. Tiba-tiba Sayid Ghasim merasa kondisinya biasa-biasa saja. Sejak saat itu dia tidak takut sama sekali dengan suara apapun bahkan suara ledakan pun dia tidak takut dan dia mendapatkan kekuatan hati yang tidak disangka-sangka. Dia menilai kekuatan hati ini sebagai hutang budinya kepada Imam Khomeini.

Masalah lainnya terkait pada beberapa orang yang mengaku bisa masalah irfan dan mengklaim bertemu dengan Imam Zaman. Setelah mendengar kejadian ini, para pejabat negara menyakini masalah ini harus diselesaikan dengan jelas. Bila klaim mereka ini bohong, maka harus diumumkan supaya tidak ada orang yang tersesat dan salah.

Akhirnya dengan perantara dua orang pejabat negara, beberapa orang tersebut diizinkan untuk bertemu dengan Imam Khomeini. Sejak awal Imam Khomeini tahu tentang sikap riya mereka. Atas pengetahuannya yang luas dan menjadikan masalah jelas, beliau memaparkan tiga pertanyaan kepada mereka:

“Bila kalian bisa bertemu dengan Imam Zaman, maka ambillah jawaban pertanyaan ini darinya dan sampaikan kepada saya. Pertama, tanyakan kepada beliau, foto yang ada di rumahku ini dan aku juga menyukainya, dinisbatkan kepada siapa? Kedua, tanyakan juga kepada beliau, apa hubungan antara hadits dan qadim [yang merupakan sebuah masalah ilmiah]? Ketiga, aku telah kehilangan sesuatu dan sudah lama aku mencarinya, tanyakan kepada beliau dimanakah barangku yang hilang itu?”

Beberapa orang yang mengaku bisa bertemu dengan Imam Zaman itu setelah beberapa lama tidak bisa memberikan jawaban kepada Imam Khomeini, telah mengaku lemah. Dengan demikian, ketahuan bahwa mereka ini bukan orang yang saleh dan klaim mereka itu adalah bohong.

Foto yang sangat disukai Imam Khomeini itu adalah foto yang dinisbatkan kepada Rasulullah Saw dan ada di ruangan beliau. Terkait barangnya yang hilang saya harus katakan bahwa barang itu adalah buku syair-syair beliau.

Keramat-keramat seperti pasti para murid Imam Khomeini mengingatnya. Saya juga cukup menyebutkan beberapa saja dari contoh-contoh yang banyak sekali yang saya saksikan dari dekat.

---

Setelah para dokter memutuskan agar Imam Khomeini melakukan opname di rumah sakit, ketika beliau pamitan kepada para anggota keluarga, beliau mengatakan:

“Saya akan pergi untuk selamanya dan tidak akan kembali lagi.”

Orang-orang rumah menjawab, “Anda akan kembali dan akan mendapatkan kesembuhan kembali.”

Tapi Imam Khomeini kembali mengulangi:

“Tapi kali ini aku tahu bahwa tidak ada yang namanya kembali.”

Kemudian beliau berkata kepada istrinya Haj Sayid Ahmad Agha:

“Teleponlah ke ayahmu, orang yang sangat mukmin dan pandai dan katakan kepadanya, doakan aku dan mohonkan kepada Allah agar aku diterima dan menjadikan baik akibatku.”

Ketika beliau meninggalkan rumah menuju rumah sakit, Haj Ahmad Agha berdiri di samping pintu. Di samping para dokter dan perawat, Imam Khomeini memberikan isyarat kepadanya agar mendekat, kemudian mencium pipinya. Pemandangan ini tidak seorang pun pernah menyaksikannya, dan ini dengan sendirinya menunjukkan bahwa Imam Khomeini tahun bahwa beliau tidak akan kembali ke rumah lagi.

Meski di rumah sakit, Imam Khomeini tidak pernah meninggalkan ibadahnya. Bahkan beliau lebih semangat menjalankannya. Salah satu orang dekat beliau menceritakan, “Azan subuh masih tinggal beberapa saat lagi, saya masuk ke dalam ruangan Imam Khomeini di rumah sakit, saya mendapati beliau dalam keadaan aneh. Imam Khomeini dalam kondisi menangis tersedu-sedu sampai semua wajahnya basah. Pada saat itu air mata beliau mengalir dan sedang bermunajat kepada Allah dan saya ikut terpengaruh keadaannya. Ketika beliau tahu, beliau menghapus air matanya dengan handuk yang ada dipundaknya.”

Keesokan harinya ketika Imam Khomeini harus dioperasi, saya datang menemui beliau. Waktu itu pukul setengah enam pagi. Dikatakan bahwa Agha Sanei sedang menemui Imam. Saya juga bergabung dengan mereka dan saya mengucapkan salam dan menanyakan keadaanya. Al-Quran dan Mafatihul Jinan [buku doa] yang ada di samping tempat tidur Imam Khomeini menarik perhatian saya. Ketika saya memperhatikannya, sebelum ini Imam Khomeini sedang membaca doa Ahd. Tiba-tiba kondisi saya jadi berubah. Tapi saya berusaha mengontrol diri saya. Pada saat itu juga Imam Khomeini dipakaikan baju untuk operasi dan pergi menuju ruang operasi. Saya hanya bisa menangis dan tidak bisa bergerak dan saya tidak bisa membarengi beliau menuju ruang operasi.

Imam Khomeini sangat mencintai anak kecil Haj Sayid Ahmad. Meski demikian, beliau meminta kepada para dokter untuk mengeluarkan anak ini dari lingkungan rumah sakit. Karena lingkungan rumah sakit tidak bagus untuk anak-anak. Namun sekarang telah jelas bahwa beliau mengetahui masalah ini dan mau pergi menghadap Allah dan beliau tidak ingin ada kecintaan apapun yang menghalangi perjalanannya menuju ke akhirat dan permintaan ini tujuannya untuk memutus segala kecintaan duniawi.

Hari Sabtu Agha Khamenei dating dan berkata, “Agha! Insyaallah Allah memberikan kesehatan kepada Anda.”

Imam Khomeini berkata:

“Anda doakan semoga Allah memberikan akibat yang baik kepada saya dan menerima serta membawa saya.” (Emi Nur Hayati)

Dikutip dari penuturan Hujjatul Islam wal Muslimin Ali Akbar Ashtiyani, Pengurus Kantor Imam Khomeini

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab II; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh